Akhirussanah XV PERSADA UAD: Bekal Santri untuk Terus Tumbuh Hadapi Tantangan

Akhirussanah XV PERSADA UAD: Bekal Santri untuk Terus Tumbuh Hadapi Tantangan

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Pesantren Mahasiswa KH. Ahmad Dahlan Universitas Ahmad Dahlan (PERSADA UAD) menggelar Haflah Akhirussanah Graduate XV dengan tema “Leveling Up: Growing Through Challenges”, Sabtu (8/8). Bertempat di Amphitarium Lantai 9 Gedung KH Ahmad Dahlan Kampus 4 UAD, agenda tersebut menjadi momentum kelulusan sekaligus apresiasi atas proses pembinaan keislaman, akademik, dan karakter yang telah dijalani para santri selama berada di PERSADA.

Haflah Akhirussanah diikuti para santri, pengurus PERSADA, serta tamu undangan dari unsur pimpinan Universitas Ahmad Dahlan, dekanat, dan Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Pada Graduate XV, sebanyak 192 santri resmi diwisuda. Sebanyak 136 santri di antaranya meraih predikat cumlaude. Selain itu, 22 santri memperoleh penghargaan sebagai santri terbaik bidang akademik, termasuk sembilan santri dari Fakultas Kedokteran (FK).

Capaian pembinaan keagamaan juga menunjukkan hasil positif. Seluruh santri berhasil mencapai target Tahsin Al-Qur’an sebesar 100 persen, sedangkan capaian target Tahfiz Al-Qur’an dan Hadis berada pada rentang 77 hingga 100 persen.

Mudir PERSADA UAD, Ust. H. Thonthowi, S.Ag., M.Hum., mengingatkan para santri agar tidak meninggalkan nilai-nilai yang telah dibangun selama berada di pesantren ketika memasuki kehidupan di luar PERSADA.

Menurutnya, berakhirnya masa tinggal di pesantren bukan berarti berakhir pula proses pembentukan diri. Para santri justru akan menghadapi lingkungan dan tantangan baru sehingga perlu menjaga pergaulan serta kebiasaan baik yang telah dibangun.

“Jangan merasa bebas sebebas-bebasnya. Wasta’inu bissabri wasshalah. Carilah teman yang saling mengingatkan ketika kita lalai, mengajak belajar ketika sedang malas, serta mengingatkan dan membangunkan ketika waktunya salat,” pesannya.

Ia juga mengutip prinsip “Innamal ‘ilmu bit-ta’allum wal-hilmu bit-tahallum”, bahwa ilmu diperoleh melalui proses belajar, sedangkan kesabaran dibentuk melalui pembiasaan.

Thonthowi menekankan bahwa kesuksesan juga tidak semestinya dimaknai sebagai pencapaian pribadi semata. Menurutnya, keberhasilan yang lebih bermakna adalah ketika seseorang mampu membantu orang lain mencapai keberhasilan.

“Kesuksesan bukan karena kalian menggapai tujuan dengan diri sendiri, tetapi sesungguhnya kesuksesan adalah ketika kalian dapat mengangkat orang lain menjadi sukses,” tuturnya.

Pesan serupa disampaikan Wakil Rektor UAD Bidang Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), Ustaz Dr. Nur Kholis, M.Ag. Ia menegaskan bahwa Haflah Akhirussanah bukan sekadar seremoni penutup masa pendidikan, melainkan penanda telah dilaluinya salah satu fase penting dalam pembentukan keilmuan Islam dan karakter para santri.

“PERSADA jangan pernah dipahami hanya sebagai tempat tinggal mahasiswa. Kalau hanya membutuhkan tempat untuk tidur, tentu tidak perlu disebut pesantren,” jelasnya.

Menurut Nur Kholis, PERSADA memiliki misi membentuk mahasiswa yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki hati yang bersih, ibadah yang kuat, akhlak yang baik, dan mampu memberikan kontribusi nyata di tengah masyarakat.

“Kita membutuhkan lulusan yang cerdas pikirannya, bersih hatinya, kuat ibadahnya, baik akhlaknya, dan nyata kontribusinya,” tambahnya.

Sementara itu, anggota Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Sutrisno, M.Ag., mendorong para santri untuk mempersiapkan kemandirian setelah menyelesaikan masa pendidikan di PERSADA.

Salah satu hal yang ditekankannya adalah entrepreneurship. Menurutnya, entrepreneurship tidak semata-mata berkaitan dengan aktivitas bisnis, tetapi juga dapat dipahami sebagai world view atau cara pandang dalam menjalani kehidupan.

Entrepreneurship sebagai cara hidup, lanjutnya, berkaitan dengan kemampuan seseorang mengatur, mengelola, dan memenej kehidupannya secara mandiri. Sementara dalam konteks usaha, entrepreneurship mencakup kemampuan membangun dan mengembangkan aktivitas usaha sesuai dengan perkembangan zaman.

Prof. Sutrisno juga mengingatkan para santri untuk mempertahankan kebiasaan baik selama di PERSADA secara istiqamah, bahkan meningkatkannya setelah kembali ke lingkungan masing-masing.

Setelah menyelesaikan masa pendidikan di PERSADA, ia mendorong para santri untuk menuntaskan studi sarjana dengan sebaik-baiknya sekaligus memanfaatkan berbagai peluang pendidikan lanjutan. Menurutnya, Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah telah memiliki sejumlah skema kerja sama beasiswa studi lanjut, termasuk dengan LPDP, Persyarikatan, dan mitra dari Australia.

Selain kemandirian, Prof. Sutrisno menekankan pentingnya kedisiplinan dan budaya belajar. Ia juga mengingatkan agar pembelajaran Al-Qur’an tidak berhenti pada tahsin dan tahfiz, tetapi dilanjutkan dengan tafhim, yakni memahami kandungan dan pesan yang terdapat di dalamnya.

“Setelah ada tahsin dan tahfiz, ada baiknya ditambah dengan tafhim, memahami fungsi Al-Qur’an. Bagaimana kita bisa mendapatkan petunjuk jika tidak memahami isinya?” pesannya.

Haflah Akhirussanah Graduate XV pun menjadi penanda berakhirnya satu fase perjalanan para santri PERSADA UAD sekaligus awal untuk memasuki fase kehidupan yang baru.

Dengan bekal keilmuan, pembiasaan ibadah, karakter, dan pengalaman hidup bersama selama di pesantren, para santri diharapkan mampu terus “leveling up”—bertumbuh melalui setiap tantangan—serta menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi keluarga, masyarakat, Persyarikatan, dan bangsa.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    1
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow