Mahasiswa Non-Muslim di Kampus Muhammadiyah, Fenomena Krismuha Tak Hanya di Daerah Minoritas
YOGYAKARTA — Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah (PTMA) di Yogyakarta tetap menjadi pilihan mahasiswa dari berbagai latar belakang agama. Pada tahun akademik 2026/2027, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menerima 56 mahasiswa baru non-Muslim. Fenomena serupa juga tercatat di Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta dan Universitas Ahmad Dahlan (UAD).
Kehadiran mahasiswa non-Muslim di kampus Muhammadiyah selama ini lebih banyak dijumpai di daerah dengan populasi Muslim yang relatif minoritas. Namun, data penerimaan mahasiswa baru di sejumlah PTMA Yogyakarta menunjukkan bahwa pilihan tersebut juga muncul di wilayah yang menjadi salah satu basis utama Muhammadiyah.
Rektor UMY, Ahmad Nurmandi mengatakan, dari mahasiswa baru tahun akademik 2026/2027, terdapat 56 mahasiswa non-Muslim yang berasal dari latar belakang Katolik, Kristen, Buddha, dan Hindu. Ia menegaskan, keberadaan mereka di UMY tidak diarahkan untuk mengubah keyakinan agama.
“Bahkan ada 56 non-Muslim yang jadi mahasiswa baru, Katolik, Kristen, Budha, Hindu. Kita tidak mendorong mereka pindah agama tidak. Cuma mereka harus mengerti Islam, sebagai sebuah agama—mengetahuilah agama Islam itu rahmatan lil alamin,” ungkap Nurmandi di sela-sela acara MATAR 2026 UMY, Senin (7/9).
Di UNISA Yogyakarta, jumlah mahasiswa baru non-Muslim pada tahun akademik yang sama mencapai 78 orang. Mereka berasal dari latar belakang Hindu, Katolik, dan Kristen.
Sementara itu, UAD menerima 35 mahasiswa baru non-Muslim yang berasal dari keluarga Kristen, Katolik, dan Hindu. Jumlah tersebut masih dapat bertambah karena proses penerimaan mahasiswa baru UAD saat data tersebut dihimpun masih berlangsung.
Data tersebut memperlihatkan bahwa keberadaan mahasiswa non-Muslim di PTMA tidak hanya berkaitan dengan pilihan pendidikan di wilayah dengan jumlah Muslim yang lebih sedikit. Di Yogyakarta, mahasiswa dari berbagai latar belakang agama juga memilih kampus Muhammadiyah meskipun tersedia banyak pilihan perguruan tinggi lainnya.
Muhammadiyah saat ini mengelola 165 perguruan tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah di Indonesia dan Universitas Muhammadiyah Malaysia (UMAM) di Perlis, Malaysia.
Perguruan tinggi tersebut terbuka bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang. Mahasiswa yang menempuh pendidikan di PTMA tidak seluruhnya berasal dari keluarga Muhammadiyah, termasuk mahasiswa dari keluarga organisasi Islam lain maupun keluarga non-Muslim.
Gambaran tersebut terlihat dalam kegiatan penyambutan mahasiswa baru di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Wakil Sekretaris Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Ismail Fahmi sempat menanyakan latar belakang keluarga mahasiswa baru yang hadir.
Dari respons mahasiswa, Ismail memperkirakan sebagian besar mahasiswa baru di kedua kampus tersebut bukan berasal dari keluarga Muhammadiyah. Ia menyebut sekitar 60 persen mahasiswa baru UMS berasal dari keluarga Nahdlatul Ulama (NU), sedangkan di UMM angkanya diperkirakan mencapai sekitar 90 persen.
Angka tersebut merupakan perkiraan yang disampaikan berdasarkan respons mahasiswa dalam kegiatan tersebut, bukan hasil pendataan resmi penerimaan mahasiswa baru.
Kondisi ini menunjukkan bahwa daya tarik PTMA tidak sepenuhnya ditentukan oleh latar belakang organisasi atau agama calon mahasiswa. Faktor pendidikan dan lingkungan kampus juga menjadi pertimbangan bagi mahasiswa ketika memilih tempat untuk melanjutkan studi.
Bagi mahasiswa non-Muslim yang memilih PTMA, keberadaan mereka juga memperlihatkan bahwa kampus Muhammadiyah menjadi ruang pendidikan yang mempertemukan mahasiswa dari latar belakang yang beragam.
Di Yogyakarta, fenomena tersebut terlihat melalui kehadiran mahasiswa non-Muslim di UMY, UNISA, dan UAD. Sementara di wilayah lain, mahasiswa non-Muslim juga telah lama menjadi bagian dari komunitas akademik PTMA, terutama di daerah dengan komposisi masyarakat Muslim yang lebih kecil.
Dengan demikian, keberadaan mahasiswa non-Muslim di kampus Muhammadiyah bukan semata persoalan jumlah. Fenomena tersebut juga memperlihatkan bagaimana perguruan tinggi Muhammadiyah menjadi pilihan pendidikan bagi mahasiswa dengan latar belakang agama dan keluarga yang beragam.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow