Suster Dulce Raih Magister Kebidanan UNISA, Ceritakan Pengalaman Lintas Iman

Suster Dulce Raih Magister Kebidanan UNISA, Ceritakan Pengalaman Lintas Iman

Smallest Font
Largest Font

SLEMAN — Suster Dulce Maria Guterres, FDCC, biarawati Katolik asal Timor-Leste, meraih gelar Magister Kebidanan dari Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta. Ia menjadi salah satu dari 928 lulusan yang mengikuti Wisuda ke-27 UNISA Yogyakarta di Convention Hall Masjid Walidah Dahlan, Rabu (30/9).

Bagi Suster Dulce, perjalanan akademiknya di UNISA bukan hanya tentang memperoleh gelar. Ia juga mendapatkan pengalaman hidup di lingkungan perguruan tinggi berbasis nilai-nilai Islam bersama sivitas akademika dan penghuni asrama kampus.

Saat pertama datang ke UNISA Yogyakarta, Suster Dulce sempat merasa cemas. Perbedaan latar belakang agama, usia, serta keterbatasan yang dimilikinya membuat ia mempertanyakan kemampuannya untuk menjalani pendidikan di lingkungan tersebut.

Kekhawatiran itu berangsur hilang setelah ia merasakan penerimaan dari lingkungan kampus. Dalam pidatonya mewakili wisudawan, ia mengatakan pengalaman tersebut memberinya rasa aman selama menjalani pendidikan.

“Namun, kekhawatiran tersebut perlahan pudar oleh ketulusan. Kehangatan, kelembutan, dan keterbukaan dari seluruh civitas akademika menyambut kehadiran saya. UNISA bukan sekadar institusi pendidikan tinggi, melainkan sebuah oase dan rumah rohani yang menghadirkan rasa aman serta kedamaian bagi jiwa,” ungkapnya.

Suster Dulce datang ke Indonesia sebagai utusan Instituto de Ciência de Saúde (ICS) Dili dengan dukungan Yayasan Graça de Deus. Selama menempuh pendidikan, ia juga tinggal bersama para penghuni asrama kampus.

Sebagai seorang biarawati Katolik, ia mengatakan pengalaman tersebut mempertemukannya dengan lingkungan akademik yang memberikan penghormatan dan penerimaan terhadap perbedaan.

“Pengalaman hidup ini makin meneguhkan keyakinan saya bahwa ilmu pengetahuan dan pelayanan kemanusiaan adalah panggilan universal. Keduanya mampu meruntuhkan setiap sekat perbedaan, baik usia, latar belakang budaya, maupun keyakinan,” tegasnya.

Setelah menyelesaikan pendidikan, Suster Dulce berharap pengalamannya dapat ikut mempererat hubungan antara Timor-Leste dan Indonesia. Ia secara khusus menyoroti peluang hubungan kedua negara melalui bidang kesehatan dan kemanusiaan.

Wisuda ke-27 UNISA Yogyakarta sendiri meluluskan 928 mahasiswa dari program magister, sarjana, sarjana terapan, dan diploma. Sebanyak 779 lulusan atau 83,94 persen meraih predikat cumlaude.

IPK tertinggi diraih lulusan Program Pascasarjana dengan nilai 4,00. Sementara itu, rerata IPK seluruh lulusan mencapai 3,92.

Dalam sambutannya, Rektor UNISA Yogyakarta, Dr. Warsiti, S.Kp., M.Kep., Sp.Mat., menyampaikan apresiasi kepada para lulusan dan orang tua yang telah memberikan kepercayaan kepada UNISA sebagai tempat menempuh pendidikan.

Ia mengingatkan para lulusan bahwa ijazah dan gelar akademik bukanlah akhir dari proses belajar. Keduanya menjadi bekal untuk memasuki kehidupan setelah perguruan tinggi yang terus menghadirkan perubahan dan tantangan.

“Teknologi boleh semakin canggih, tetapi integritas tidak boleh tergantikan. Kecerdasan buatan boleh membantu kita bekerja lebih cepat, tetapi empati, kepedulian, tanggung jawab, dan kemampuan memahami manusia tetap menjadi kekuatan yang sangat penting,” pesannya.

Warsiti juga mengingatkan lulusan untuk membawa nilai yang menjadi identitas almamater, yakni akhlak, amanah, profesional, kolaboratif, dan unggul. Nilai tersebut diharapkan menjadi bekal bagi lulusan dalam menjalankan peran masing-masing dan memberikan manfaat di tengah masyarakat.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow