Rektor UMY Ajak Mahasiswa Baru Mandiri dan Kritis Hadapi Tantangan Akademik

Rektor UMY Ajak Mahasiswa Baru Mandiri dan Kritis Hadapi Tantangan Akademik

Smallest Font
Largest Font

Yogyakarta - Memasuki dunia perguruan tinggi bukan sekadar melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, tetapi juga menghadapi perubahan besar dalam pola pikir dan cara belajar. Mahasiswa baru dituntut beradaptasi dengan budaya akademik yang lebih mandiri, berbeda jauh dengan pola belajar di sekolah menengah yang masih bergantung pada guru. Di era derasnya arus informasi digital, tantangan tersebut semakin kompleks karena mahasiswa tidak hanya dituntut rajin membaca buku, tetapi juga cermat dalam menyeleksi dan mengolah informasi.

Hal ini ditegaskan Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Dr. Achmad Nurmandi, M.Sc., dalam acara Masa Ta’aruf (Mataf) Mahasiswa Baru Tahun Akademik 2025/2026 yang digelar pada Senin (22/9). Ia menekankan pentingnya kesiapan mental mahasiswa untuk menghadapi perubahan tersebut.

Kampus, menurutnya, adalah ruang untuk melatih kemandirian berpikir, kemampuan analisis kritis, dan tanggung jawab akademik. Keberhasilan mahasiswa tidak lagi hanya diukur dari kehadiran di kelas, melainkan dari sejauh mana mereka mampu mengolah informasi, menghubungkan teori dengan kenyataan, serta menghasilkan pemikiran baru yang bermanfaat.

“Anda harus dapat belajar secara mandiri di program studi masing-masing. Berbeda dengan suasana belajar di SMA yang masih bergantung pada guru. Belajar mandiri, menganalisis situasi, gejala sosial, politik, lingkungan, maupun kesehatan adalah kemampuan analisis yang diharapkan diperoleh mahasiswa melalui perkuliahan,” jelas Nurmandi.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa UMY tidak hanya menyediakan ruang belajar akademik, tetapi juga membangun habitus atau suasana yang mendorong mahasiswa berkembang secara utuh. Perguruan tinggi bukan sekadar tempat mengikuti kuliah, melainkan wadah pembentukan pengalaman hidup yang lebih luas.

“Literasi artinya membangkitkan kesadaran, memahami makna kehidupan, menggerakkan jiwa, dan mengubah keadaan dari yang sebelumnya statis menjadi lebih dinamis. Melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), kegiatan minat dan bakat, hingga berbagai forum diskusi, mahasiswa diberi kesempatan untuk mengasah keterampilan nonakademik yang sama pentingnya dengan pengetahuan di ruang kuliah,” pungkasnya. (NF)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow