BEM UAD Bawa Ekspedisi Dahlan Muda ke Mentawai, Nyalakan Asa Pendidikan dan Pemberdayaan
KEPULAUAN MENTAWAI — Gelombang Samudra Hindia yang memisahkan Kepulauan Mentawai dari daratan Sumatra tak menyurutkan langkah mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) untuk mengabdi. Melalui program Ekspedisi Dahlan Muda, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UAD membawa misi pengabdian, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat hingga ke Muara Sikabaluan, Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat.
Program tersebut menjadi bentuk kontribusi mahasiswa UAD untuk hadir di tengah masyarakat yang selama ini masih menghadapi berbagai keterbatasan, terutama dalam bidang pendidikan, ekonomi, dan sosial-keagamaan.
Ekspedisi Dahlan Muda tidak dirancang sebagai kegiatan pengabdian yang sekadar datang, melaksanakan program, kemudian selesai. Program ini dikembangkan sebagai gerakan pengabdian lintas disiplin yang menempatkan mahasiswa secara langsung di tengah kehidupan masyarakat Mentawai.
Sebagai masyarakat adat dengan kekayaan budaya dan kearifan lokal yang khas, Mentawai memiliki potensi besar sekaligus menghadapi sejumlah tantangan struktural. Di antaranya keterbatasan akses pendidikan, belum optimalnya pemanfaatan teknologi digital untuk pengembangan ekonomi masyarakat, serta kebutuhan pembinaan keagamaan yang belum sepenuhnya merata.
Selama masa pengabdian, tim Ekspedisi Dahlan Muda menjalankan sejumlah program yang menyasar kebutuhan masyarakat. Di bidang ekonomi, mahasiswa melakukan pendampingan digitalisasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) agar produk lokal Mentawai memiliki peluang menjangkau pasar yang lebih luas.
Di bidang pendidikan, tim menyerahkan hibah buku bacaan untuk Rumah Belajar Anak Suku Mentawai di kawasan Taman Nasional Siberut. Sementara di bidang sosial-keagamaan, mahasiswa menyalurkan hibah Al-Qur'an dan Iqra untuk masjid setempat melalui kerja sama dengan LAZISMU Daerah Istimewa Yogyakarta.
Tim juga berkoordinasi dengan Kantor Urusan Agama (KUA) setempat untuk mengoptimalkan program pembinaan bagi para mualaf. Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan bahwa Ekspedisi Dahlan Muda tidak hanya berfokus pada satu sektor, tetapi berupaya menjawab kebutuhan masyarakat secara lebih komprehensif.

Presiden Mahasiswa BEM UAD, Muhammad Ilham, mengatakan Ekspedisi Dahlan Muda merupakan bentuk konkret dari nilai-nilai Muhammadiyah yang menjadi ruh gerakan mahasiswa UAD, yakni pencerahan dan pemberdayaan umat.
Menurutnya, program tersebut sengaja dirancang untuk membawa mahasiswa keluar dari ruang kelas dan berhadapan langsung dengan persoalan nyata yang ada di masyarakat.
“Kami ingin mahasiswa UAD tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga punya keberpihakan yang jelas terhadap persoalan-persoalan sosial di masyarakat, terutama di wilayah-wilayah yang selama ini jarang tersentuh program pengabdian. Mentawai kami pilih karena di sanalah kami melihat kebutuhan itu sangat nyata, sekaligus banyak potensi yang belum tergarap maksimal,” ujar Ilham.
Ia berharap Ekspedisi Dahlan Muda dapat menjadi program tahunan yang berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan seremonial yang berakhir ketika masa pengabdian selesai.
“Kami tidak ingin ekspedisi ini hanya meninggalkan foto dan laporan kegiatan. Yang kami kejar adalah dampak jangka panjang: UMKM yang benar-benar naik kelas, anak-anak yang makin gemar membaca, jamaah yang makin nyaman beribadah, dan mualaf yang merasa didampingi. Itu semua adalah indikator keberhasilan yang sesungguhnya,” tegasnya.
Sementara itu, Menteri Pendidikan BEM UAD, Muhammad Zulfikar, menjelaskan bahwa Ekspedisi Dahlan Muda secara filosofis menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memperluas cakrawala melalui pengalaman langsung memahami realitas pendidikan dan sosial masyarakat Mentawai.
“Kegiatan ini menjadi ruang dialektika antara pengetahuan akademik dan kearifan lokal yang acap kali luput dari ruang kelas. Lebih dari perjalanan, ekspedisi ini merupakan laku pengabdian untuk menumbuhkan kepekaan, keberpihakan, dan tanggung jawab intelektual mahasiswa kepada bangsa dan negara. Dengan demikian, Dahlan Muda diharapkan mampu mengejawantahkan kapabilitas ilmunya menjadi praksis yang berkemanfaatan,” ungkap Zulfikar.
Menurut Zulfikar, pertemuan antara pengetahuan akademik dengan kearifan lokal menjadi salah satu aspek penting dalam ekspedisi tersebut. Mahasiswa tidak hanya menerapkan pengetahuan yang diperoleh di kampus, tetapi juga belajar memahami realitas masyarakat dari perspektif dan pengalaman masyarakat itu sendiri.
Dari sisi capaian, program ini dirancang memiliki sejumlah target yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Di sektor ekonomi, mahasiswa menargetkan pemetaan UMKM lokal secara digital sehingga produk masyarakat Mentawai memiliki akses pasar yang lebih luas.
Di sektor pendidikan, program diarahkan untuk memperluas akses bahan bacaan bagi anak-anak di kawasan Taman Nasional Siberut sekaligus mendorong tumbuhnya budaya literasi sejak dini.
Adapun di sektor sosial-keagamaan, kegiatan difokuskan pada penguatan sarana ibadah dan optimalisasi pembinaan mualaf agar proses pembelajaran keagamaan dapat berlangsung secara layak dan berkelanjutan.
Selain program yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat, Ekspedisi Dahlan Muda juga memiliki luaran yang menjadi salah satu pembeda utama, yakni produksi film dokumenter tentang masyarakat Mentawai.
Film tersebut tidak sekadar menjadi dokumentasi perjalanan mahasiswa. Karya audiovisual itu dirancang untuk mengangkat kekayaan budaya, tradisi, kearifan lokal, serta kehidupan sehari-hari masyarakat adat Mentawai secara lebih mendalam dan otentik.
BEM UAD berencana mendaftarkan film tersebut sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI) sekaligus mempromosikannya melalui berbagai kanal, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Melalui karya tersebut, BEM UAD berharap kekayaan budaya Mentawai dapat dikenal lebih luas. Pada saat yang sama, film dokumenter itu diharapkan menjadi kontribusi mahasiswa dalam upaya pelestarian dan pengarusutamaan kebudayaan Indonesia.
Tak hanya masyarakat yang menjadi penerima manfaat. Pengalaman selama berada di lapangan juga diharapkan memberikan dampak bagi mahasiswa peserta. Interaksi langsung dengan masyarakat dan persoalan lintas sektor menjadi ruang untuk menempa kepemimpinan, empati sosial, serta kemampuan memecahkan masalah.
Pengalaman tersebut dinilai menjadi bekal penting yang tidak selalu dapat diperoleh melalui pembelajaran di ruang kelas.
Ke depan, BEM UAD berencana mengembangkan Ekspedisi Dahlan Muda sebagai program berkelanjutan dengan cakupan wilayah yang terus diperluas. Evaluasi dan pemetaan kebutuhan masyarakat akan dilakukan setelah kegiatan berlangsung untuk menjadi dasar penyusunan program lanjutan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow