Habiburrahman El Shirazy Tekankan Pentingnya Imajinasi bagi Santri PERSADA UAD

Habiburrahman El Shirazy Tekankan Pentingnya Imajinasi bagi Santri PERSADA UAD

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Imajinasi tidak sekadar menjadi modal dalam menulis karya fiksi, tetapi juga berperan penting dalam membangun masa depan, mendorong kemajuan bangsa, dan menyampaikan nilai-nilai kebaikan. Karena itu, santri perlu mengembangkan daya imajinasi yang kuat dengan tetap berpijak pada logika, riset, dan nilai-nilai keislaman.

Pesan tersebut disampaikan Dr. phil. H. Habiburrahman El Shirazy, Lc., M.A., sastrawan dan novelis yang akrab disapa Kang Abik, dalam Seminar Nasional Karya Tulis Fiksi yang diselenggarakan Pesantren Mahasiswa KH. Ahmad Dahlan (PERSADA) Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Ahad (18/10).

Seminar bertema “Menulis untuk Peradaban, Mengangkat Nilai-Nilai Kepesantrenan dalam Karya Tulis Fiksi” tersebut berlangsung di Amphitheater B Fakultas Kedokteran UAD dan disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube PERSADA UAD TV.

Dalam pemaparannya, Kang Abik menjelaskan empat alasan pentingnya imajinasi dalam kehidupan. Pertama, imajinasi menjadi sarana untuk merancang masa depan. Imajinasi bukan sekadar khayalan tanpa arah, melainkan gambaran tentang sesuatu yang dapat diwujudkan melalui perencanaan dan ikhtiar. Ia mencontohkan kisah Nabi Yusuf AS yang menggambarkan bagaimana visi tentang masa depan dapat berkaitan dengan kenyataan yang kemudian dihadapi.

Kedua, imajinasi dapat mendorong kemajuan bangsa. Dengan mengacu pada teori need for achievement dari McClelland, Kang Abik menyoroti pentingnya cerita dan literatur yang menanamkan semangat berprestasi, keberanian meraih cita-cita, serta jiwa kepahlawanan sejak dini.

Ketiga, imajinasi dapat menjadi sarana dakwah yang efektif. Melalui cerita, nilai-nilai seperti keikhlasan, kemandirian, dan kebaikan dapat disampaikan secara lebih menyentuh tanpa terkesan menggurui. Dengan demikian, karya fiksi dapat menjadi media untuk mengenalkan dan menanamkan nilai-nilai Islam serta kehidupan pesantren kepada pembaca.

Keempat, imajinasi berperan dalam menemukan solusi atas persoalan. Kang Abik mencontohkan strategi pembuatan parit dalam Perang Khandaq yang diusulkan Salman Al-Farisi. Gagasan tersebut menunjukkan bagaimana pemikiran kreatif dapat melahirkan strategi baru untuk menghadapi tantangan.

Meski demikian, Kang Abik menegaskan bahwa kebebasan berimajinasi dalam menulis fiksi tetap perlu diimbangi dengan logika yang sehat. Cerita yang menarik bukan hanya menawarkan gagasan kreatif, tetapi juga harus memiliki alur dan penjelasan yang dapat diterima pembaca.

Untuk menjelaskan hubungan antara imajinasi dan logika, Kang Abik memaparkan empat hal yang perlu diperhatikan penulis fiksi.

Pertama, menjadikan realitas sosial sebagai pijakan. Menurutnya, karya sastra yang kuat kerap menjadi in’ikas minal waqi’, yakni pantulan dari kenyataan yang terjadi di masyarakat. Ia mencontohkan novelnya, Ketika Cinta Bertasbih, yang berangkat dari pengamatan terhadap persoalan nyata, termasuk perjuangan mahasiswa yang menempuh pendidikan di luar negeri.

Kedua, memahami aturan dalam dunia fiksi. Meskipun penulis memiliki kebebasan untuk mengembangkan cerita, konsistensi logika tetap perlu dijaga. Peristiwa yang tampak tidak masuk akal harus memiliki penjelasan yang sesuai dengan konteks dan aturan dunia cerita yang dibangun.

Ketiga, memperkuat imajinasi melalui riset dan data. Kang Abik mencontohkan penggambaran tokoh yang menggunakan keledai sebagai sarana transportasi di Gaza dalam salah satu novelnya. Pilihan tersebut, jelasnya, berangkat dari pengamatan terhadap kondisi kehidupan di tengah blokade dan krisis bahan bakar, ketika sarana transportasi sederhana dapat memiliki nilai penting bagi masyarakat.

Keempat, menjaga batasan akidah dan moral. Bagi penulis Muslim, imajinasi perlu diarahkan untuk menghadirkan kebaikan serta tetap menghormati martabat manusia dan nilai-nilai keislaman. Kebebasan berkarya, dengan demikian, berjalan beriringan dengan tanggung jawab moral penulis.

Memasuki sesi dialog, seminar berlangsung interaktif. Para peserta mengajukan beragam pertanyaan, mulai dari cara memadukan ilmu agama dengan imajinasi dalam penulisan, batas kebebasan berimajinasi bagi seorang Muslim, hingga proses kreatif di balik karya-karya Kang Abik yang dikenal luas oleh pembaca.

Kang Abik menanggapi pertanyaan peserta dengan lugas dan komunikatif. Ia kembali menekankan pentingnya menjaga akidah dan moral, memahami realitas sosial, serta mendukung gagasan kreatif dengan riset dan data.

Suasana diskusi yang berlangsung hangat membuat peserta antusias mengikuti penjelasan hingga akhir. Sejumlah peserta juga tampak mencatat poin-poin penting sebagai bekal untuk mengembangkan kemampuan menulis.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan penyerahan cenderamata kepada Kang Abik sebagai bentuk apresiasi atas ilmu dan pengalaman yang dibagikan. Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi foto bersama dalam suasana hangat dan penuh keakraban.

Melalui seminar ini, PERSADA UAD berharap para santri semakin terdorong untuk menuangkan gagasan dan imajinasi mereka ke dalam karya fiksi yang mengangkat nilai-nilai kepesantrenan. Dengan memadukan kreativitas, logika yang sehat, riset yang matang, dan nilai-nilai keislaman, santri diharapkan mampu menghasilkan karya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mencerahkan dan berkontribusi bagi peradaban.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow