UMJT Gelar Workshop Publikasi Jurnal Terindeks Scopus, Hadirkan Akademisi UM Buton

UMJT Gelar Workshop Publikasi Jurnal Terindeks Scopus, Hadirkan Akademisi UM Buton

Smallest Font
Largest Font

MADIUN — Universitas Muhammadiyah Jawa Timur (UMJT) Madiun menggelar workshop publikasi jurnal terindeks Scopus pada Jumat (3/9). Kegiatan yang mengusung tema "Strategi Memilih Jurnal Target Publikasi Scopus untuk Dosen UMJT" ini menghadirkan narasumber akademisi dari Universitas Muhammadiyah Buton, Dr. Herman Lawelai, S.IP., M.IP. Selain diikuti pejabat struktural dan dosen UMJT, acara ini juga diikuti oleh sejumlah dosen dari UM Buton.

Wakil Rektor I UMJT, Dr. Fajar Junaedi, menyampaikan bahwa pelatihan ini bertujuan meningkatkan kuantitas dan kualitas publikasi dosen pada jurnal bereputasi, khususnya mencari jurnal Scopus yang tidak berbayar namun tetap dapat ditembus.

"Kami berharap dosen UMJT dapat menyusul keberhasilan Bang Herman untuk meraih indeks tinggi dan publikasi yang banyak. Semoga kolaborasi antara UMJT dan UM Buton dapat terus berlanjut," ujar Dr. Fajar. Ia menambahkan, transformasi institusi menuju UMJT memerlukan penguatan merek akademik melalui publikasi internasional yang berimplikasi langsung pada akreditasi dan pemeringkatan kampus.

Dalam pemaparannya, Dr. Herman Lawelai—yang telah mengantongi 15 tulisan di jurnal terindeks Scopus dan 117 naskah di Google Scholar— membagikan berbagai strategi praktis, mulai dari pemetaan kepakaran dosen hingga teknik memverifikasi jurnal non-bayar.

Herman menekankan pentingnya memetakan kepakaran dosen berdasarkan rumpun ilmu di tiga fakultas UMJT:

  • Sains dan Teknologi: Fokus pada rekayasa teknologi, model risiko, dan keberlanjutan.
  • Ilmu Kesehatan: Fokus pada asuhan klinis, kebijakan, serta manajemen layanan.
  • Sosial, Humaniora, dan Pendidikan: Fokus pada perilaku, regulasi, modal sosial, serta pedagogi.

Ia juga menggarisbawahi empat syarat utama dalam memilih jurnal: kualitas artikel, kesesuaian cakupan (scope), reputasi jurnal, dan strategi publikasi yang realistis. "Kredibilitas penerbit, indeksasi, dan rekam jejak editorial harus dipastikan. Jika hari ini mengajukan naskah dan bulan depan langsung terbit, itu indikasi kuat jurnal predator," jelasnya.

Untuk menemukan jurnal Scopus tanpa biaya (free publication), Herman membagikan empat langkah verifikasi yang wajib dilakukan peneliti:

  • Penelusuran via Scopus Sources: Cari berdasarkan bidang, judul, atau ISSN, serta pastikan status indeksasi masih aktif.
  • Penyaringan via DOAJ: Filter jurnal open access dengan keterangan no publication fees.
  • Pemeriksaan Situs Resmi: Cek pedoman penulis (author guidelines), biaya pemrosesan artikel (APC), dan kebijakan open access.
  • Konfirmasi Editorial: Kirim surat elektronik ke tim redaksi jika informasi biaya tidak tegas, lalu simpan balasan tertulis sebagai bukti.

Herman turut menjelaskan tiga model biaya publikasi, yaitu Diamond Open Access (bebas APC dan akses terbuka), Subscription Journal (umumnya bebas APC namun akses terbatas), dan Hybrid Journal (dikenakan APC jika memilih opsi akses terbuka).

Mengakhiri pemaparannya, Herman mengingatkan para peserta untuk mewaspadai keberadaan jurnal predator yang dapat merusak reputasi akademik. Ciri-ciri utama jurnal predator meliputi undangan pengiriman naskah yang agresif via surel atau email, proses peer-review kilat atau janji pasti diterima, transparansi biaya APC yang buruk, logo indeksasi palsu, serta identitas pengelola yang sulit diverifikasi.

"Jangan sampai menerbitkan naskah di jurnal predator. Bukannya memberi dampak positif, hal itu justru merusak reputasi akademik kita," pungkas Herman

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    1
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow