Terobosan UMY : Pengmas Dosen Skema Khusus Lapas Perkuat Dakwah dan Pemberdayaan

Terobosan UMY : Pengmas Dosen Skema Khusus Lapas Perkuat Dakwah dan Pemberdayaan

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA - Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) resmi meluncurkan Program Pengabdian Masyarakat (Pengmas) Dosen Skema Khusus Lapas, yang bermitra dengan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Wirogunan Yogyakarta. Program ini menjadi terobosan baru UMY dalam memperluas jangkauan dakwah dan pemberdayaan masyarakat, khususnya bagi kelompok sosial yang kerap terpinggirkan.

Program ini melibatkan sepuluh dosen dari berbagai disiplin ilmu, yang tidak hanya memberikan penyuluhan tematik, tetapi juga berkontribusi langsung dalam pengembangan masjid Lapas sebagai pusat kegiatan spiritual bagi warga binaan.

Kepala Subdirektorat Pengabdian Masyarakat bagi Dosen UMY, Dr. drg. Laelia Dwi Anggraini, Sp.KGA, menjelaskan bahwa pemilihan Lapas Wirogunan sebagai mitra berawal dari inisiatif dosen FKIK UMY, Dr. Sagiran, yang telah lama menjalin interaksi dan kegiatan sosial di lingkungan Lapas tersebut.

“Lapas merupakan lahan dakwah yang jarang tersentuh. Melalui program ini, UMY ingin menghadirkan dakwah yang lebih inklusif sekaligus memberdayakan,” ujar Laelia saat ditemui di RSGM UMY, Sabtu (18/10).

Ia menuturkan bahwa masjid Lapas Wirogunan sebenarnya sudah berdiri berkat bantuan mantan Wali Kota Yogyakarta, Herry Zudianto, namun kapasitasnya masih terbatas.

“Saat Salat Jumat, banyak warga binaan harus menggelar sajadah di tanah karena tidak tertampung di dalam masjid,” jelasnya.

Melihat kondisi tersebut, UMY melalui program Pengmas Skema Khusus Lapas berupaya menghadirkan dampak nyata, baik secara fisik maupun spiritual. Setiap dosen peserta memperoleh hibah sebesar Rp12 juta, dengan 35 persen dialokasikan untuk bantuan barang sesuai kebutuhan Lapas, terutama untuk pengembangan masjid, serta 30 persen untuk kegiatan penyuluhan yang disesuaikan dengan bidang keahlian masing-masing dosen.

“Dosen kesehatan akan memberikan penyuluhan kesehatan, sementara dosen ekonomi akan mengajarkan manajemen keuangan sederhana yang aplikatif bagi warga binaan,” tambahnya.

Laelia menegaskan bahwa Lapas Wirogunan bukan sekadar lokasi pengabdian, melainkan ruang dakwah kemanusiaan yang sarat makna.

“Kami berharap para dosen dapat lebih peka dan tersentuh dengan kondisi warga binaan, termasuk mereka yang lanjut usia, sakit, atau tengah menjalani hukuman berat,” tuturnya.

Program ini direncanakan berlangsung selama tiga tahun dan akan resmi diluncurkan pada akhir Oktober 2025. Setiap kegiatan diwajibkan menghasilkan empat luaran utama, yakni: Video promosi, publikasi di jurnal atau prosiding internasional, publikasi di media massa, dan presentasi pada International Conference of Community Service (ICCS) 2026.

Melalui inisiatif ini, UMY menegaskan komitmennya dalam menghadirkan pengabdian masyarakat yang berorientasi pada kemanusiaan dan dakwah transformatif, sejalan dengan semangat “Muda Mendunia” dan nilai-nilai Islam Berkemajuan. (Jeed)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow