Rektor UMMAD: Puasa Bentuk Karakter Diri dan Solusi Bangsa
MADIUN — Lebih dari seribu jamaah memadati halaman Kampus I Universitas Muhammadiyah Madiun (UMMAD) saat pelaksanaan Salat Idulfitri 1447 H/2026 M, Jumat (20/3). Dalam khutbahnya, Rektor UMMAD, Prof. Dr. Sofyan Anif, M.Si., menegaskan bahwa puasa Ramadan tidak hanya berdimensi ibadah, tetapi juga menjadi sarana membangun karakter diri sekaligus solusi bagi persoalan bangsa.
Menurutnya, membangun bangsa yang berkarakter harus diawali dari pembentukan karakter individu. Ia menekankan pentingnya membangun manusia yang bertakwa sebelum berbicara tentang cita-cita besar bangsa.
“Yang terpenting adalah membangun manusia berkarakter takwa sebelum bermimpi membangun bangsa yang berkarakter,” ujarnya.
Guru Besar bidang pendidikan tersebut menjelaskan bahwa tujuan utama puasa Ramadan adalah membentuk karakter diri dan bangsa melalui ketakwaan. Nilai-nilai ini menjadi fondasi penting dalam mewujudkan masyarakat yang berintegritas.
Ia juga menyinggung cita-cita besar Indonesia menuju Indonesia Emas 2045, yakni menjadi salah satu dari delapan kekuatan ekonomi terbesar dunia. Namun, menurutnya, mimpi tersebut tidak akan tercapai jika persoalan karakter individu dan bangsa masih menjadi kendala.
“Cita-cita itu membutuhkan sumber daya manusia unggul, penegakan hukum, demokrasi yang sehat, serta terbebas dari korupsi. Di samping itu, kejujuran, kemandirian, dan kerja sama harus menjadi budaya bersama,” tegasnya.
Lebih lanjut, Sofyan Anif mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersatu menjaga keutuhan negara tanpa saling mengklaim paling benar dalam ber-Pancasila, ber-NKRI, maupun ber-Bhinneka Tunggal Ika.
“Semua komponen bangsa harus menyadari dan bersatu padu merawat NKRI. Tidak boleh ada kelompok yang merasa paling Pancasila, paling NKRI, atau paling Bhinneka Tunggal Ika,” katanya.
Dalam khutbahnya, ia menekankan bahwa momentum Ramadan merupakan kesempatan terbaik untuk menangkap nilai-nilai spiritual yang berdampak pada perubahan nyata dalam kehidupan. Hal ini, menurutnya, hanya dapat terwujud bagi mereka yang menjalankan ibadah puasa dengan sungguh-sungguh.
Menyoroti berbagai persoalan bangsa, ia menegaskan bahwa kesejahteraan sejati hanya dapat diraih melalui perubahan mendasar dalam pola pikir dan perilaku, yang diwujudkan dalam amal saleh sebagai implementasi ketakwaan.
Ia mengutip firman Allah dalam QS Al-Hasyr ayat 18 yang mengingatkan pentingnya evaluasi diri dan peningkatan kualitas amal.
“Islam telah mengajarkan umatnya untuk terus berubah ke arah yang lebih baik, bersifat dinamis, dan berorientasi pada kemajuan,” jelasnya.
Menurutnya, Ramadan adalah momentum pendidikan spiritual selama satu bulan penuh yang diberikan Allah untuk melatih manusia beriman agar mampu memperbaiki diri. Implementasi keimanan dalam bentuk amal saleh itulah yang melahirkan ketakwaan.
Karakter orang bertakwa, lanjutnya, tercermin dalam perilaku jujur, disiplin, rendah hati, gemar bersedekah, sabar, mampu menahan amarah, pemaaf, bersyukur, serta berilmu dan berkemajuan.
“Dengan landasan iman dan mengharap ridha Allah Subḥānahu wa ta‘ālā, pembentukan karakter takwa melalui kesalehan sosial menjadi tujuan utama orang berpuasa,” pungkasnya.
What's Your Reaction?
-
1
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow