Kampus

Kampus

MediaMU.COM

Jul 25, 2024
Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Inilah Ungkapan Hati Nur Arisah, Ibunda Mumtazi Penerima Beasiswa UMY dan Lazismu

Nur Arisah bersama anak bungsunya. Foto: dok. Muhammad Mumtazi Aljawi

YOGYA – Berita berjudul “Hafidz 22 Juz, Mumtazi Terima Beasiswa Kedokteran dari UMY dan Lazismu” yang diupload di mediamu.com pada 27 Agustus 2021 termasuk tulisan yang menarik minat khalayak untuk membuka dan membaca. Substansi berita itu adalah perjuangan hidup, harapan, dan aksi sosial persyarikatan Muhammadiyah.

Muhammad Mumtazi Aljawi, pemuda kelahiran Kendal, Jateng, 24 Maret 2001 yang sejak kelas 6 SD sudah dalam keadaan yatim karena ayahnya, Wandi, meninggal dunia. Sejak itu ia dan keempat adiknya dalam asuhan Ibunda, Nur Arisah.

Lulusan SMA Muhammadiyah 1 Weleri, Kendal, ini diterima di Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Ia sangat bersyukur dua beasiswa siap mengantar kesuksesannya, yakni dari UMY dan Lazismu Kendal.

Dari UMY, penghafal 22 juz Al Qur’an tersebut dibebaskan biaya studi sampai lulus dokter, bantuan biaya hidup, bantuan biaya buku dan bantuan biaya penelitian (tugas akhir). Sedangkan dari Lazismu Kendal, Mumtazi memperoleh Rp 100 juta.

Bagaimana respon Sang Ibu atas hal ini? Mediamu.id mewawancari Nur Arisah yang keseharian berjualan gamping dan gas ini melalui whatsapp di HP milik Mumtazi.

Berikut petikan wawancara tersebut:

Bagaimana perasaan dan tanggapan Ibu atas diterimanya dua beasiswa untuk Ananda Mumtazi?

Alhamdulillah benar-benar terharu dan sangat bersyukur. Ananda bisa diterima beasiswa kedokteran dan mendapat dukungan dari Lazismu Kendal untuk kebutuhan lainnya selama kuliah.

Ungkapan apa yang akan disampaikan Ibu kepada UMY dan Lazismu Kendal?

Jazaakumullaahu khairan katsiiran. Saya tidak bisa membalas apa-apa hanya bisa mendo’akan keberkahan, kesehatan, lapang rezeki, kemudahan dalam segala urusan untuk seluruh tim pengurus beasiswa. Dan UMY dan Lazismu Kendal semakin berjaya dan bermanfaat untuk umat.

Seberapa besar manfaat beasiswa itu bagi Ibu dalam kaitan studi Mumtazi?

Sangat bermanfaat, sebab saya sendiri tidak terbayang bagaimana menanggung kuliah kedokteran untuk Mumtazi. Serta saya perlu mengurus adik-adiknya.

Apakah itu juga ikut meringankan beban harian keluarga Ibu?

Tentu sangat meringankan beban harian untuk mengurus lima anak.

Kami mendapat informasi bahwa Ibu menjalankan usaha berjualan gamping dan gas. Sejak kapan itu dijalankan?

Sejak kelahiran Mumtazi sekitar tahun 2000/2001. Untuk hasil rutin tidak menentu.

Apakah Ibu ada penghasilan selain berjualan gamping dan gas?

Alhamdulillah dapat dana pensiun abinya (maksudnya, almarhum suaminya) dan dapat warisan sawah seperempat hektar tahun 2019 dari kakak.

Suami Ibu meninggal dunia ketika Mumtazi kelas 6 SD. Bagaimana cara Ibu setelah itu untuk mendidik 5 putra/putri Ibu hingga sekarang?

Memahamkan anak kewajiban shalat 5 waktu di masjid, merutinkan sedekah pagi serta shalat tahajud, setiap berjabat tangan dengan anak selalu sambil mendo’akan, juga mendo’akan kesuksesan anak di sepertiga malam, mendidik anak dengan penuh kelembutan dan tidak mudah marah bahkan menggunakan fisik, menjaga ucapan dari berucap yang tidak baik bagi anak bahkan ketika anak membuat saya marah.

Maaf Bu, apakah untuk memperlancar pendidikan kepada anak-anak, Ibu juga sering/selalu melakukan shalat tahajud untuk memohon langsung kepada Allah?

Iya, karena do’a yang sangat mustajab di sepertiga malam.

Apakah Ibu mengenal Muhammadiyah? Sejak kapan?

Sejak usia SMA karena saya alumni SMA Muhammadiyah 1 Weleri (Kendal, Jateng). Dulu mengikuti kegiatan Nasyiatul ‘Aisyiyah. Lulus SMA kuliah di UMS mengikuti kegiatan IMM, dan sekarang menjadi sekretaris ranting ‘Aisyiyah menggantikan kakak yang sudah meninggal.

Bagaimana pendapat Ibu tentang Muhammadiyah?

Organisasi Islam yang sangat bermanfaat dan luar biasa sekali di tiap program dan lembaganya.

Apa harapan Ibu terhadap Muhammadiyah?

Harapan saya semoga Muhammadiyah semakin maju, sukses, penuh berkah, ikut serta memajukan bangsa dan negara menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. (*)

Wartawan/Editor: Heru Prasetya

Comment

Your email address will not be published

There are no comments here yet
Be the first to comment here