Mahasiswa KKN Harus Dorong Pemberdayaan, Bukan Sekadar Bagi-Bagi Bantuan
Yogyakarta - Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) diingatkan untuk tidak terjebak dalam pola pikir “Santa Claus” saat melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Alih-alih hanya hadir untuk membagi bantuan, mahasiswa diminta berperan sebagai fasilitator yang mendorong masyarakat berdaya dan mandiri.
Pesan tersebut disampaikan Guru Besar UMY bidang Ilmu Tanah, Prof. Dr. Ir. Gunawan Budiyanto, M.P., IPM, ASEAN Eng, dalam pembekalan KKN Gasal 2025/2026 di Gedung AR Fakhruddin A lantai 5, Rabu (17/9). Ia menekankan bahwa pemberdayaan masyarakat bukanlah program instan, melainkan proses jangka panjang yang hanya berhasil jika lahir dari kesadaran masyarakat itu sendiri.
“Pembangunan bisa datang dari luar, misalnya dengan membawa jalan atau jembatan. Tapi pemberdayaan hanya lahir dari dalam masyarakat, yaitu melalui perubahan perilaku,” ujarnya di hadapan 95 mahasiswa KKN Konversi dan KKN Internasional Kairo, Mesir.
Gunawan menjelaskan, terdapat tiga pilar utama pemberdayaan yang harus dipahami mahasiswa sebelum terjun ke desa. Pertama adalah pemenuhan kebutuhan dasar. Menurutnya, kebutuhan dasar tidak hanya soal pangan, kesehatan, dan papan, tetapi juga kebebasan dari kelaparan, kebodohan, kesakitan, dan kebisuan dalam menyampaikan pendapat.
“Pendidikan adalah investasi paling penting. Tanpa pendidikan, semua kebutuhan lain sulit tercapai,” tegas mantan Rektor UMY periode 2016–2024 itu.
Kedua, pemberdayaan menuntut adanya akses yang cukup bagi masyarakat. Ia menilai, menutup akses sama artinya dengan melakukan kekerasan.
“Kalau masyarakat miskin tidak diberi akses pendidikan, atau warga desa tidak punya akses informasi, itu bentuk kekerasan struktural. Tugas mahasiswa adalah membantu membuka akses itu,” jelasnya.
Ketiga, pemberdayaan harus melibatkan partisipasi masyarakat dalam pembangunan dan pengambilan keputusan. Masyarakat tidak boleh ditempatkan sekadar sebagai objek penerima program, melainkan harus menjadi subjek yang menentukan arah perubahan.
“Pemberdayaan bukan mahasiswa yang menggantikan peran masyarakat. Mahasiswa hanya memfasilitasi agar mereka berani mengambil keputusan dan mengatur masa depan mereka sendiri,” tegasnya.
Karena itu, Gunawan menegaskan agar mahasiswa tidak menjadikan KKN sebagai ajang bagi-bagi bantuan. Pola pikir “Santa Claus” justru berpotensi menimbulkan ketergantungan baru.
“Kalau setelah KKN masyarakat masih menunggu mahasiswa datang membawa sesuatu, itu artinya gagal. Target pemberdayaan adalah kemandirian,” ujarnya.
Ia menambahkan, program KKN hanya akan berkelanjutan jika dirancang bersama masyarakat sejak awal. Pemberdayaan, menurutnya, harus berangkat dari potensi lokal dan melibatkan tokoh komunitas.
“Pemberdayaan yang berhasil selalu melahirkan pemimpin baru dari dalam komunitas. Jadi meski mahasiswa sudah kembali, masyarakat tetap berjalan dengan inisiatif sendiri,” tandasnya.
Gunawan mencontohkan, program sederhana seperti pengelolaan sampah, pemberdayaan UMKM, atau edukasi kesehatan bisa berumur panjang jika dikerjakan bersama masyarakat. Sebaliknya, program yang datang dari luar tanpa melibatkan warga biasanya berhenti begitu mahasiswa pulang.
Lebih jauh, ia juga menekankan peran mahasiswa sebagai penghubung antara ilmu pengetahuan dan praktik di lapangan.
“Mahasiswa bukan datang untuk menggurui. Justru mahasiswa sering belajar banyak dari masyarakat, mulai dari ketangguhan, kebersamaan, hingga kreativitas dalam menghadapi keterbatasan,” pungkasnya. (Mut)
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow