Kampus

Kampus

MediaMU.COM

May 26, 2024
Otomatis
Mode Gelap
Mode Terang

Aisah Dahlan: Setiap Emosi Memiliki Frekuensi. Seperti Apa?

dr. Aisah Dahlan, CHt., CM., NNLP. Foto: Afifa/mediamu.com

YOGYA – Sebagai upaya melahirkan generasi bangsa berjiwa besar dan berkemajuan, Pesantren Mahasiswa K.H. Ahmad Dahlan (PERSADA) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menyelenggarakan talk show “Mengelola Emosional Diri di Masa Pandemi”, Senin (16/8). Narasumber dr. Aisah Dahlan, CHt., CM., NNLP (Ketua Asosiasi Rehabilitasi Sosial Narkoba Indonesia/AIRI).

Aisah menjelaskan, menurut KBBI emosi adalah luapan perasaan dan pikiran yang berkembang dan surut dalam waktu singkat. Keadaan dan reaksi psikologis ini dapat berupa kegembiraan, kesedihan, keharuan, kecintaan, dan lain sebagainya.

Seseorang dengan IQ tinggi, namun memiliki EQ rendah akan mengalami kesulitan dalam hubungan interpersonal. Kecerdasan emosional (emotional intelligence) merupakan kemampuan seseorang dalam menggunakan dan memahami emosi (baik emosi orang lain maupun emosi diri sendiri). Bertujuan meningkatkan kesehatan fisik dan mental, serta mengharmoniskan hubungan komunikasi.

Untuk mengenali emosi terdapat sebuah pendekatan level emosi, hal ini terdapat dalam otak manusia. Setiap emosi memiliki frekuensi, seperti nafs lawwamah (apatis, sedih, takut), nafs amarah (rakus, marah, sombong), dan nafs muthmainnah (semangat, menerima, damai, pencerahan).

Nafs lawwamah dan nafs amarah memiliki frekuensi di bawah 200 Hertz, sedangkan nafs muthmainah 200-1000 Hertz. Aisah mengutip perkataan Prof. David Hawkins (psikiater dan ilmuan USA), yakni getaran magnet energi di bawah 200 Hertz menyebabkan seseorang mudah terserang penyakit, dan jika di atas 200 Hertz, maka dia senantiasa sehat. Keimanan seseorang naik turun dikarenakan otak manusia memiliki level emosi dan nafs muthmainah merupakan emosi yang memiliki energi positif.

Di dunia ini Hawkins melihat, orang yang mempunyai frekuensi positif 700 Hertz sampai 1000 Hertz (pencerahan), maka kekebalan tubuh dan vitalitasnya tinggi. Untuk sampai ke emosi pencerahan, seseorang perlu mengisi pikiran dengan mengaji dan mengkaji apa yang Allah mau, agar neuron terkoneksi di otak bagian prefontal cortex membentuk memori prinsip-prinsip.

Hal ihwal yang Allah mau seperti termaktub dalam Surah AlBaqarah: 152 (mengingat Allah, bersyukur, tidak ingkar kepada-Nya), Al Baqarah: 155 (bersabar ketika mendapat cobaan), dan Al Baqarah: 156 (istirja/apabila tertimpa musibah berkata innalillahi wainna ilaihi raji’un).

Agar jangan terlalu berduka terhadap apa yang luput, jangan terlalu bergembira terhadap apa yang diberikan-Nya, dan janganlah sombong atau membanggakan diri (pesan dari Surah Al Hadid: 22-23.)

Di masa pandemic merupakan suatu kewajaran jika seseorang berada pada emosi takut dan sedih, banyak kehilangan saudara dan kerabat, bahkan terkadang satu keluarga kehilangan lebih dari satu saudara dalam waktu dekat. Perlu keridhaan (menerima) atas peraturan-peraturan yang ada.

Manusia senantiasa memikirkan apa yang dipikirkan, memikirkan apa yang dirasakan, merasakan apa yang dipikirkan, dan merasakan apa yang dirasakan. Jika respon emosi seseorang baik, maka akan muncul gelombang koheren (teratur), sehingga membawa pesan baik dan enak. Sebaliknya, gelombang inkoheren (tidak teratur) akan membawa pesan was-was dan galau.

“Zoom meeting merupakan buatan manusia dan disini kita dapat bertemu secara virtual. Doa bersama dan silaturahim yang kita lakukan ini dapat menembus ruang-ruang spiritual. Sebuah hadits diriwayatka Imam Abu Ya’la dan Imam Al-Hakim dari sahabat Ali, bahwa doa itu senjata orang mukmin, tiang agama, serta cahaya langit dan bumi,” katanya. (*)

Wartawan: Afifatur Rasyidah I.N.A.
Editor: Heru Prasetya

Comment

Your email address will not be published

There are no comments here yet
Be the first to comment here