KKN UAD Data Kerusakan Gereja dan Masjid Terdampak Gempa di Manggarai Barat
MANGGARAI BARAT — Misi kemanusiaan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Anak Bangsa (KKN AB) Periode XIII Universitas Ahmad Dahlan (UAD) terus berlanjut di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kali ini, mahasiswa KKN AB menyisir sejumlah fasilitas ibadah yang terdampak gempa bumi untuk memastikan kondisi dan kebutuhan masyarakat terdokumentasi secara menyeluruh.
Pendataan dilakukan di Dusun Watu Weri dan sekitarnya, Desa Cunca Wulang, Kecamatan Mbeliling. Tim KKN AB UAD mendata kondisi sejumlah fasilitas ibadah yang terdampak gempa, termasuk Rumah Pastoran Gereja Stasi St. Fransiskus Xaverius, Warsawe, serta Masjid Uswatun Karimah.
Dari hasil peninjauan, Rumah Pastoran Gereja Stasi St. Fransiskus Xaverius mengalami kerusakan cukup parah. Bangunan yang berdiri sejak 2012 itu mengalami retakan lebar pada sejumlah dinding, plafon yang nyaris roboh, serta keretakan pada beberapa tiang penyangga utama. Berdasarkan peninjauan visual, kerusakan rumah pastoran tersebut dikategorikan rusak berat.
Rumah pastoran memiliki fungsi penting bagi pelayanan umat di wilayah tersebut. Bangunan itu digunakan sebagai tempat tinggal pastor ketika melakukan kunjungan dan pelayanan mingguan. Setiap malam Minggu, rumah tersebut juga dimanfaatkan untuk kegiatan Komunitas Basis Gerejani (KBG), termasuk sebagai tempat menginap.
Ketika gempa bumi mengguncang NTT pada Sabtu (15/8), rumah pastoran masih digunakan. Namun, kondisi struktur bangunan yang mengkhawatirkan membuat pastor dan pengurus tidak berani menginap di dalamnya. Aktivitas memasak pun hanya dilakukan di bagian dapur luar yang dinilai masih dapat digunakan.

Sekretaris KKN AB XIII UAD, Aisyah Mujahidah Belangi, turun langsung melakukan wawancara dengan Romo Benkoranso dan Dewan Stasi, Tarsi Hasil, untuk menggali kondisi serta kebutuhan fasilitas tersebut.
Tarsi Hasil mengatakan kebutuhan paling mendesak saat ini adalah renovasi total atau perbaikan berat rumah pastoran.
“Meskipun bagian dapur saat ini masih bisa kami gunakan untuk memasak, kami sangat membutuhkan bangunan rumah yang layak dan aman untuk diinapi oleh Pastor ketika beliau datang melaksanakan pelayanan gereja di stasi kami,” ungkapnya.
Sementara itu, bangunan utama Gereja Stasi St. Fransiskus Xaverius yang menjadi pusat kegiatan peribadatan warga Dusun Watu Weri tidak mengalami kerusakan fisik berarti. Gereja tersebut digunakan untuk misa, pemberkatan, hingga berbagai pertemuan rohani masyarakat.
Meski demikian, kerusakan berat pada rumah pastoran tetap berpotensi mengganggu keberlangsungan pelayanan keagamaan di stasi tersebut.

Tak hanya mendata fasilitas ibadah umat Kristiani, mahasiswa KKN AB XIII UAD juga menyambangi Masjid Uswatun Karimah di Warsawe. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan seluruh fasilitas publik terdampak gempa tercatat secara menyeluruh tanpa membedakan latar belakang masyarakat.
Masjid Uswatun Karimah mengalami kerusakan ringan berupa keretakan pada sejumlah bagian dinding bangunan.
Wakil Ketua KKN AB XIII UAD, Medi Rusna, mengatakan setiap kerusakan fasilitas ibadah perlu didata secara detail, termasuk kerusakan yang tergolong ringan. Data tersebut penting untuk memastikan aspek keamanan dan menjadi bahan pertimbangan dalam penanganan pascabencana.
“Meskipun tingkat kerusakan di Masjid Uswatun Karimah ini tergolong ringan berupa retak dinding, pendataan tetap harus dilakukan secara detail. Kami ingin memastikan kondisi rumah ibadah di sini benar-benar aman digunakan untuk beraktivitas,” jelasnya.
Menurut Medi, pendataan terhadap gereja maupun masjid diharapkan dapat membantu memulihkan kenyamanan masyarakat dalam menjalankan aktivitas keagamaan setelah gempa.
“Melalui pendataan menyeluruh baik di gereja maupun masjid, kami berharap kenyamanan beribadah seluruh warga Warsawe pascagempa dapat segera pulih kembali tanpa ada yang terlewat,” lanjutnya.
Aisyah menegaskan, pendataan fasilitas ibadah lintas agama merupakan bagian dari misi kemanusiaan yang dijalankan KKN Anak Bangsa. Menurutnya, bencana tidak mengenal sekat agama maupun latar belakang masyarakat.
“Penyusuran rumah ibadah termasuk gereja ini merupakan bagian dari syiar Muhammadiyah yang merangkul semua. Tidak ada tebang pilih dalam misi kemanusiaan yang kami jalankan melalui program KKN Anak Bangsa ini. Ketika bencana melanda, duka dan kebutuhan masyarakat adalah prioritas bersama yang harus dibantu,” tegas Aisyah.
Pendataan fasilitas umum, termasuk rumah ibadah, menjadi salah satu fokus KKN AB XIII UAD yang dilakukan bersama Pemerintah Desa Cunca Wulang. Rekapitulasi data tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran kondisi pascabencana secara komprehensif sekaligus menjadi rujukan bagi pihak terkait dalam menentukan kebutuhan penanganan dan bantuan rekonstruksi di Kabupaten Manggarai Barat.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow