Ikhwan Ahada Ajak Mahasiswa Doktor UAD Membaca Islam dalam Persoalan Kontemporer

Ikhwan Ahada Ajak Mahasiswa Doktor UAD Membaca Islam dalam Persoalan Kontemporer

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Dosen Program Doktor Studi Islam Universitas Ahmad Dahlan, Dr. Muhammad Ikhwan Ahada, M.A., mengajak mahasiswa Program Doktor Studi Islam UAD mendalami peran agama dalam menjawab persoalan manusia di tengah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ajakan tersebut disampaikan dalam Orientasi dan Kuliah Perdana Semester Gasal bertema “Unifikasi Ilmu dalam Studi Islam Kontemporer”, Kamis (15/10).

Agenda ini berlangsung di Ruang Kaca Barat Lantai 10, Gedung KH Ahmad Dahlan Kampus 4 UAD, diikuti secara luring maupun daring oleh mahasiswa baru serta mahasiswa angkatan sebelumnya. Turut hadir Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) UAD, dosen tetap Program Doktor Studi Islam, serta staf dan tenaga kependidikan.

Mengawali paparannya, Ikhwan mengajukan pandangan kritis bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi belum sepenuhnya mampu menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan tentang posisi agama dalam membantu manusia memahami hakikat dirinya sekaligus menemukan nilai-nilai universal sebagai pedoman hidup.

Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (PWM DIY) itu kemudian mengajak peserta menelusuri kembali pengertian agama. Dengan merujuk pada pemahaman Muhammadiyah, ia menjelaskan tiga unsur agama, yakni awamir atau perintah, nawahi atau larangan, serta irsyadat atau petunjuk. Ketiganya berorientasi pada kebaikan manusia dan pembentukan pribadi yang baik.

Dari pemahaman tersebut, Ikhwan menghubungkan pembahasan agama dengan semangat Islam Berkemajuan. Ia menekankan bahwa kemajuan merupakan spirit yang melekat dalam Islam sehingga perlu dihidupkan dalam pemikiran dan kehidupan umat. Semangat ini menjadi landasan untuk terus mengembangkan kajian keislaman seiring dengan perubahan zaman.

Dalam konteks pendidikan doktoral, Ikhwan menyoroti pentingnya pendekatan metodologis yang kuat. Studi Islam kontemporer membutuhkan perangkat kajian yang memungkinkan Islam ditelaah secara mendalam dari berbagai perspektif. Dengan bekal metodologi yang memadai, mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan penelitian dengan analisis mendalam dan argumentasi ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Ia menyebut multikulturalisme, hak asasi manusia (HAM), feminisme dan gender, serta maqashid syariah sebagai sejumlah tema yang dapat dieksplorasi dalam penelitian Studi Islam. Berbagai tema tersebut membuka ruang bagi penelitian yang mempertemukan khazanah keislaman dengan persoalan masyarakat kontemporer.

Paparan Ikhwan menjadi pengantar bagi mahasiswa untuk menjadikan persoalan agama, manusia, dan perubahan sosial sebagai bahan kajian doktoral. Melalui pemahaman keislaman yang mendalam dan penguasaan metodologi penelitian yang kuat, Studi Islam diharapkan terus berkontribusi dalam menghadirkan pemikiran dan solusi bagi berbagai persoalan kehidupan masyarakat.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow