Prof. Siswanto Masruri Ajak Mahasiswa Doktor Studi Islam UAD Berani Bersuara dengan Ilmu dan Moralitas
YOGYAKARTA — Ketua Program Doktor Studi Islam Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Prof. Dr. Siswanto Masruri, M.A., mengajak mahasiswa doktoral berani menyuarakan berbagai persoalan masyarakat dengan berbekal kedalaman ilmu, kekuatan metodologi, dan kepekaan moral. Keberanian tersebut diperlukan agar pengembangan keilmuan tidak hanya berhenti pada tataran akademik, tetapi juga berkontribusi dalam menjawab persoalan kehidupan.
Pesan itu disampaikan dalam Orientasi dan Kuliah Perdana Semester Gasal Program Doktor Studi Islam UAD bertema “Unifikasi Ilmu dalam Studi Islam Kontemporer”, Kamis (15/10). Agenda ini berlangsung di Ruang Kaca Barat Lantai 10 Gedung KH Ahmad Dahlan Kampus 4 UAD, diikuti mahasiswa baru serta mahasiswa angkatan sebelumnya secara luring maupun daring. Turut hadir Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) UAD, dosen tetap Program Doktor Studi Islam, serta staf dan tenaga kependidikan.
Dalam paparannya, Siswanto menempatkan ilmu pengetahuan sebagai unsur sentral dalam kemajuan peradaban. Namun, perkembangan ilmu juga berhadapan dengan hasrat dan naluri manusia yang membutuhkan tuntunan kebijaksanaan. Karena itu, kemajuan pengetahuan perlu diimbangi dengan kesadaran tentang bagaimana ilmu digunakan dan apa dampaknya bagi kehidupan.
Ia menyoroti kecenderungan memaknai kebijaksanaan melalui simbol-simbol gelar akademik, jabatan, dan kekuasaan. Padahal, menurutnya, moralitas menjadi persoalan krusial yang perlu mendapat perhatian dalam memahami berbagai kerusakan bangsa dan peradaban.
Pandangan tersebut menjadi pengingat bagi mahasiswa bahwa pendidikan doktoral bukan semata-mata proses pendalaman pengetahuan, melainkan juga pembentukan kedewasaan intelektual dan tanggung jawab moral.
Siswanto pun mendorong mahasiswa untuk berani speak up atau menyuarakan pendapat terhadap berbagai persoalan yang muncul dalam kehidupan. Keberanian tersebut harus didukung pemahaman yang mendalam dan pendekatan metodologis yang kuat, terutama ketika membahas persoalan moralitas.
Dalam konteks itu, pendidikan doktoral menjadi kesempatan untuk memperluas cakrawala keilmuan. Proses akademik diharapkan memperkaya perspektif dan pendekatan mahasiswa dalam mencari makna, mengurai persoalan, serta menawarkan perspektif baru dalam pengembangan Studi Islam kontemporer.
Lebih lanjut, Siswanto memperkenalkan pendekatan resiprositas ilmu, yakni hubungan timbal balik antardisiplin pengetahuan. Melalui pendekatan ini, berbagai bidang ilmu dapat saling menguatkan, memanfaatkan temuan dan pendekatan satu sama lain, serta berdialektika untuk memahami suatu persoalan secara lebih komprehensif.
Ia menjelaskan bahwa resiprositas ilmu mendukung konsep tauhidul ulum atau penyatuan ilmu. Jika tauhidul ulum menjadi kerangka besar yang memungkinkan berbagai disiplin ilmu berinteraksi, resiprositas ilmu memberikan ruang bagi hubungan timbal balik antardisiplin tersebut dalam praktik pengembangan pengetahuan.
Paparan tersebut mendapat tanggapan positif dari peserta. Salah seorang audiens yang mengajukan pertanyaan mengaku memperoleh perspektif baru dari materi yang disampaikan. Menurutnya, konsep keilmuan yang ditawarkan UAD merupakan pendekatan yang rasional, terstruktur, dan memiliki landasan tauhid yang kuat.
Ia menilai perspektif tersebut dapat digunakan sebagai kerangka analisis sekaligus kompas dalam penelitian. Dengan pendekatan itu, mahasiswa diharapkan mampu menggali persoalan secara mendalam dan merumuskan tawaran solusi atas berbagai masalah krusial di masyarakat.
Melalui pembahasan resiprositas ilmu dan moralitas, kuliah perdana ini menegaskan pentingnya menghubungkan pengembangan keilmuan dengan tanggung jawab sosial. Studi Islam diharapkan terus berkembang melalui dialog antardisiplin ilmu, sekaligus melahirkan pemikiran yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik dan memberikan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow