UNISA Yogyakarta Wujudkan Fikih Hijau Lewat Aksi Tanam 1.500 Mangrove di Pantai Baros
BANTUL — Universitas 'Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta mengimplementasikan nilai-nilai Islam dan Kemuhammadiyahan melalui aksi nyata pelestarian lingkungan dengan menanam 1.500 bibit mangrove di kawasan konservasi Pantai Baros, Bantul, Sabtu (20/6). Kegiatan tersebut melibatkan lebih dari 200 mahasiswa sebagai bagian dari pembelajaran yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan dengan pengabdian kepada masyarakat.
Aksi penanaman mangrove merupakan proyek penutup Mata Kuliah Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) yang diampu oleh Dr. Muhammad Nurdin Zuhdi, S.Th.I., M.S.I., selaku pencetus sekaligus penanggung jawab Proyek Fikih Hijau. Program ini dirancang untuk mengajak mahasiswa menerapkan nilai-nilai keislaman dalam bentuk aksi nyata menjaga kelestarian alam.
Mengusung tagline "AIK Nyata Aksinya, Terasa Dampaknya", kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning), di mana mahasiswa tidak hanya mempelajari konsep di ruang kelas, tetapi juga terjun langsung menjawab persoalan lingkungan.
Pelaksanaan penanaman berlangsung mulai pukul 13.00 hingga 17.00 WIB. Untuk memastikan kegiatan berjalan tertib dan efektif, mahasiswa dibagi ke dalam beberapa kloter berdasarkan angkatan dan program studi.
Sebelum melakukan penanaman, seluruh peserta mendapatkan pembekalan dari pengelola kawasan konservasi mengenai teknik penanaman mangrove yang benar. Lokasi penanaman serta jarak antar bibit juga telah ditentukan agar peluang hidup dan pertumbuhan tanaman lebih optimal.
Setiap kelompok yang beranggotakan sekitar 12 mahasiswa menanam rata-rata 46 bibit mangrove hingga total 1.500 bibit berhasil ditanam di kawasan pesisir Pantai Baros.
Pemilihan mangrove sebagai tanaman konservasi didasarkan pada perannya yang sangat penting dalam menjaga ekosistem pesisir. Sistem perakaran mangrove mampu meredam gelombang laut, mengurangi risiko abrasi, sekaligus mencegah intrusi air laut. Selain itu, hutan mangrove menjadi habitat bagi berbagai biota pesisir, seperti ikan, kepiting, udang, kerang, hingga burung pantai.
Tak hanya memiliki nilai ekologis, kawasan mangrove Pantai Baros juga menyimpan potensi ekonomi bagi masyarakat. Ekosistem yang terjaga dapat mendukung sektor perikanan, sementara kawasan konservasi berpeluang dikembangkan sebagai destinasi wisata edukasi yang memberi manfaat bagi warga sekitar.
Proyek Fikih Hijau lahir sebagai respons terhadap berbagai tantangan lingkungan, mulai dari kerusakan ekosistem pesisir, berkurangnya ruang terbuka hijau, meningkatnya ancaman abrasi, hingga masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kelestarian alam.
Melalui kegiatan ini, UNISA Yogyakarta berharap penanaman mangrove tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek berupa bertambahnya kawasan hijau di pesisir, tetapi juga berkontribusi terhadap perlindungan ekosistem pantai dalam jangka panjang. Program ini sekaligus menjadi upaya menanamkan kesadaran ekologis kepada mahasiswa agar terus membawa semangat pelestarian lingkungan di tengah masyarakat.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow