Dosen UAD Sudaryanto Raih Gelar Doktor, Teliti Retorika Islam Berkemajuan Haedar Nashir
YOGYAKARTA — Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kembali menambah dosen bergelar doktor. Sudaryanto resmi meraih gelar Doktor Bidang Ilmu Pendidikan Bahasa dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) usai menjalani ujian promosi doktor pada Senin (20/7).
Dalam sidang yang berlangsung di Gedung WS Rendra, Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya (FBSB) UNY, Sudaryanto mempertahankan disertasinya yang berjudul "Strategi Diskursif Islam Berkemajuan dalam Retorika Keumatan dan Kebangsaan Haedar Nashir: Pendekatan Pragmatik dan Kognisi Sosial."
Penelitian tersebut mengkaji strategi komunikasi dan retorika Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., melalui perspektif pragmatik dan kognisi sosial. Kajian ini diharapkan memberikan kontribusi baru bagi pengembangan ilmu kebahasaan, khususnya dalam bidang pendidikan bahasa.
Sudaryanto menjelaskan bahwa selama ini pemikiran Haedar Nashir lebih banyak diteliti dari perspektif gerakan Islam maupun pendidikan Islam. Sementara itu, penelitian yang menelaah retorikanya melalui pendekatan pragmatik dan kognisi sosial masih sangat terbatas.
"Pemikiran itu banyak diteliti dari aspek gerakan Islam dan pendidikan Islam. Sampai saat ini belum ada penelitian yang mengkaji retorika Haedar Nashir ditinjau dari pragmatik dan kognisi sosial," ujarnya.
Dalam disertasinya, Sudaryanto menemukan bahwa strategi diskursif Islam Berkemajuan dalam retorika Haedar Nashir dibangun melalui strategi rasionalisasi, generalisasi, dan otorisasi. Strategi otorisasi lebih dominan dalam retorika keumatan, sedangkan strategi rasionalisasi lebih menonjol dalam retorika kebangsaan.
Konsep tersebut dikembangkan melalui penggabungan teori kognisi sosial Teun A. van Dijk (1998) dengan Risalah Islam Berkemajuan (RIB) hasil Muktamar ke-48 Muhammadiyah tahun 2022 si Surakarta.
Ia juga mengungkapkan bahwa dalam berbagai pidatonya, Haedar Nashir kerap mengutip pesan-pesan pendiri Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan, seperti "Aja kesel anggonmu nyambut gawe kanggo Muhammadiyah", "Kutitipkan Muhammadiyah kepadamu", dan "Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah." Kutipan tersebut menjadi bagian penting dalam membangun pesan keumatan dan kebangsaan yang disampaikan Haedar.
Selain itu, penelitian tersebut menunjukkan bahwa fungsi tindak tutur dalam retorika Haedar Nashir mencakup fungsi kompetitif, fungsi menyenangkan, dan fungsi bekerja sama. Dari sisi kognisi sosial, retorika tersebut dibangun melalui model mental, representasi sosial, skema kelompok, dan ideologi.
"Skema kelompok lebih dominan dalam retorika keumatan, sedangkan representasi sosial lebih dominan dalam retorika kebangsaan," jelas Sudaryanto.
Setelah memaparkan hasil penelitiannya di hadapan tim penguji yang terdiri atas Prof. Dr. Maman Suryaman, M.Pd., Prof. Dr. Endang Nurhayati, M.Hum., Prof. Dr. Teguh Setiawan, M.Hum., Prof. Dr. Kastam Syamsi, M.Ed., Dr. Hartono, M.Hum., dan Prof. Dr. Suhardi, M.Pd., Sudaryanto dinyatakan lulus dengan predikat memuaskan.
Keberhasilan tersebut menjadi pencapaian penting bagi PBSI FKIP UAD dalam memperkuat kualitas sumber daya akademik. Bertambahnya dosen bergelar doktor diharapkan semakin meningkatkan kapasitas program studi dalam menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, sekaligus menginspirasi dosen serta mahasiswa untuk terus menghasilkan karya ilmiah yang memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan pendidikan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow