Dosen UAD Goes to School, Perkuat Karakter Siswa SDN Jangkaran Lewat 7 Kebiasaan Anak Hebat

Dosen UAD Goes to School, Perkuat Karakter Siswa SDN Jangkaran Lewat 7 Kebiasaan Anak Hebat

Smallest Font
Largest Font

KULON PROGO — Upaya mencetak generasi cerdas secara holistik terus digelorakan. Dosen Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Dr. Sutarman, M.Hum., menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Pelatihan Penguatan Nilai Karakter melalui 7 Kebiasaan Anak Hebat (7 KAIH) Berbasis Nilai Religius” di SDN Jangkaran, Temon, Kulon Progo.

Kegiatan yang berlangsung pada 13 Februari dan 1 Maret 2026 itu dilaksanakan berkolaborasi dengan mahasiswa KKN Reguler ke-155 Semester Ganjil Tahun Akademik 2025/2026 UAD. Program ini menjadi bagian dari gerakan Dosen UAD Goes to School yang mendorong sinergi kampus dan sekolah dalam penguatan pendidikan karakter.

Dalam pemaparannya, Sutarman menegaskan bahwa pendidikan karakter bukan sekadar soal sopan santun, tetapi upaya menyeimbangkan empat dimensi kecerdasan utama anak.

Pertama, cerdas spiritual (SQ), yakni kesadaran beribadah kepada Allah SWT. Kedua, cerdas emosional (EQ), berupa empati dan kemampuan mengendalikan diri dalam kehidupan sosial. Ketiga, cerdas intelektual (IQ), yang tercermin dalam kreativitas dan kegemaran mencari ilmu. Keempat, daya juang (AQ), yaitu kedisiplinan dan kemandirian dalam menghadapi tantangan.

“Karakter tidak lahir secara instan. Ia dibentuk melalui pembiasaan yang konsisten dan terarah,” ujar Sutarman.

Program 7 KAIH diintegrasikan dalam budaya sekolah dan aktivitas harian siswa. Tujuh kebiasaan tersebut meliputi bangun pagi (1) dan tidur cepat (2), melatih manajemen waktu dan kedisiplinan, selaras dengan pesan Surah Al-‘Asr tentang pentingnya waktu. Lalu beribadah (3), dengan pembiasaan salat berjamaah dan salat Dhuha sebagai fondasi spiritual.

Selanjutnya berolahraga (4) dan makan sehat (5), menjaga kesehatan fisik sebagai amanah. Gemar belajar (6), mengamalkan perintah “Iqra” melalui literasi pagi dan pemanfaatan pojok baca. Hingga bermasyarakat (7), membangun ukhuwah dan budaya saling menasihati dalam kebenaran.

Melalui kebiasaan sederhana namun konsisten, siswa didorong untuk bertransformasi dari sikap ketergantungan menjadi pribadi yang mandiri.

Keberhasilan program ini ditopang strategi manajemen POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling) di tingkat sekolah. Guru diharapkan menjadi uswatun hasanah atau teladan utama bagi siswa.

Selain itu, Sutarman menekankan pentingnya sinergi sekolah dan orang tua melalui penggunaan “Buku Kendali” untuk memastikan kebiasaan baik di sekolah tetap berlanjut di rumah.

“Karakter mandiri tidak akan terbentuk jika pembiasaan di sekolah terputus di rumah,” tegasnya.

Bagi SDN Jangkaran, program ini tidak hanya berdampak pada perubahan perilaku siswa, seperti bangun pagi, salat berjamaah, olahraga, dan sarapan sebelum sekolah. Tetapi juga memperkuat tata kelola pendidikan karakter berbasis budaya sekolah.

Dengan kolaborasi guru, siswa, dan orang tua, diharapkan lahir generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga hebat dalam karakter serta kokoh dalam spiritualitas.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow