Banjir Sumatera Putus Komunikasi, Mahasiswa UMY Bertahan Kuliah sambil Menunggu Kabar Keluarga
YOGYA - Bencana banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat tidak hanya merusak ribuan rumah dan fasilitas umum, tetapi juga memutus komunikasi banyak warga dengan keluarga mereka. Dampak tersebut turut dirasakan oleh mahasiswa rantau Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), termasuk Chairul Arif Pasaribu, mahasiswa Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian angkatan 2024.
Mahasiswa asal Kecamatan Sorkam, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara ini menceritakan bagaimana ia mengalami hampir satu minggu penuh kepanikan karena kehilangan kontak dengan keluarganya.
Arif mengingat jelas tanggal 24 November 2025, ketika adiknya mengirimkan pesan pertama yang mengabarkan bahwa banjir dan longsor mulai melanda wilayah kota yang berdekatan dengan desa mereka. Namun tidak lama setelah pesan itu masuk, seluruh komunikasi terputus.
“Besoknya saya chat lagi, tapi sudah centang satu. Sampai akhirnya saya dapat kabar dari teman sesama perantau bahwa kondisi kota sudah parah terkena banjir dan longsor. Tapi keluarga saya di kampung tidak ada satu pun yang bisa dihubungi. Rasanya tidak karuan, karena saya benar-benar tidak tahu apa yang terjadi di rumah,” kenangnya dengan nada sedih saat ditemui Humas UMY, Kamis (11/12).
Setelah hampir seminggu menunggu dengan penuh kecemasan, Arif akhirnya dapat berkomunikasi kembali dengan keluarganya, meski jaringan masih sangat tidak stabil. Ia menerima kabar bahwa rumah keluarganya termasuk yang terdampak cukup parah karena letaknya berada di wilayah pesisir dekat sungai. Ketika sungai meluap dan tanggul jebol, air langsung menerjang pemukiman warga.
“Keluarga saya sempat mengungsi, tapi alhamdulillah semuanya selamat. Barang-barang di rumah banyak yang rusak karena terendam. Debit air sempat setinggi mata kaki dan membawa lumpur,” tuturnya.
Tidak hanya rumah warga yang terdampak, berbagai fasilitas umum di desa tersebut juga mengalami kerusakan berat. Beberapa jembatan kecil yang menjadi akses penghubung antardusun putus, menyebabkan kecamatan seperti Sorkam terisolasi dan sulit menerima bantuan dengan cepat.
“Hingga sekarang cuaca masih belum stabil. Hujan deras masih turun dan beberapa titik kembali tergenang. Karena masyarakat trauma, banyak warga memilih naik ke bukit saat hujan karena takut banjir susulan,” tambah Arif.
Selain cuaca buruk dan keterbatasan akses, keluarganya juga merasakan kenaikan harga kebutuhan pokok di wilayah terdampak. Beberapa bahan pangan melonjak drastis, termasuk minyak goreng yang mencapai Rp50 ribu per liter.
“Sembako mahal, minyak mahal, sementara masyarakat termasuk keluarga saya belum bisa bekerja. Kondisi seperti ini membuat mereka harus lebih hemat karena belum ada kepastian kapan situasi kembali normal,” jelasnya.
Meski berada dalam kondisi penuh kecemasan, Arif tetap berusaha mengikuti perkuliahan seperti biasa. Ia mengakui bahwa pikirannya sering terbagi antara tugas kuliah dan kekhawatiran terhadap keluarga, namun ia berusaha tetap bertahan dan fokus.
Melihat kerusakan yang meluas, Arif berharap pemerintah lebih serius memperhatikan tata kelola lingkungan di wilayah-wilayah rawan bencana. Ia menyebutkan bahwa beberapa masyarakat percaya kerusakan diperparah oleh alih fungsi lahan dan aktivitas industri di daerah aliran sungai.
“Dari yang saya dengar, banyak lahan berubah fungsi menjadi kebun sawit. Ada juga penambangan emas yang dibuka di daerah tetangga kampung saya dan di dekat Danau Toba. Masyarakat percaya ini mempengaruhi kondisi sungai yang mengalir sampai ke kampung kami. Makanya saya berharap pemerintah lebih peduli dan memperbaiki regulasinya,” harap Arif. (NF)
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow