Arsjad Rasjid: Ketimpangan Perdagangan Tantangan Nyata, Bukan Alasan UMKM Menyerah

Arsjad Rasjid: Ketimpangan Perdagangan Tantangan Nyata, Bukan Alasan UMKM Menyerah

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Arus produk asing yang kian deras dan ketimpangan struktur perdagangan global menjadi tantangan nyata bagi pelaku usaha lokal, terutama Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Tekanan persaingan ini kerap menimbulkan kekhawatiran karena produk impor dinilai lebih unggul dari sisi harga, efisiensi, dan skala produksi.

Ketua Dewan Pertimbangan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, Arsjad Rasjid, menilai kondisi tersebut sebagai realitas ekonomi global yang tidak dapat dihindari. Namun, ia menegaskan bahwa ketimpangan perdagangan tidak semestinya dijadikan alasan untuk berhenti berusaha atau kehilangan daya juang.

Hal itu disampaikan Arsjad saat memberikan Kuliah Umum bertajuk “Membangun Iklim Entrepreneurship untuk Kemajuan Bangsa melalui Dunia Usaha” di hadapan ratusan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Senin (15/12), di Ballroom Student Dormitory UMY.

“Hambatan itu nyata. Struktur perdagangan global memang tidak selalu adil. Tetapi pengusaha memang harus terus berusaha. Kalau berhenti, ya tidak akan ke mana-mana,” tegasnya.

Menurut Arsjad, produk asing umumnya hadir dengan dukungan ekosistem yang telah matang, efisiensi tinggi, serta kemampuan produksi berskala besar. Memahami realitas tersebut, kata dia, justru penting agar pelaku usaha lokal dapat menyusun strategi yang tepat, alih-alih terjebak pada sikap menyalahkan kondisi eksternal.

Ia menekankan bahwa ketimpangan perdagangan tidak bisa diatasi hanya melalui keluhan atau proteksi jangka pendek. Dalam jangka panjang, daya tahan UMKM sangat bergantung pada kekuatan internal, terutama kemampuan berinovasi, melakukan diferensiasi produk, serta kejelasan nilai yang ditawarkan kepada konsumen.

Dalam persaingan yang semakin ketat, Arsjad menyoroti pentingnya values atau nilai sebagai fondasi utama berwirausaha. Integritas, kolaborasi, dan penghargaan terhadap keberagaman, menurutnya, harus diwujudkan dalam praktik bisnis nyata, bukan sekadar jargon.

“Values itu harus didefinisikan dan dijalankan. Ia menjadi kompas dalam mengambil keputusan bisnis,” ujarnya.

Pendekatan berbasis nilai, lanjut Arsjad, justru dapat menjadi pembeda utama bagi produk lokal ketika berhadapan dengan produk massal. Konsumen masa kini tidak hanya mempertimbangkan harga, tetapi juga kualitas, keunikan, etika, dan aspek keberlanjutan.

Ia juga mendorong mahasiswa dan pelaku usaha muda untuk aktif memanfaatkan berbagai ruang pembelajaran, seperti seminar, forum industri, dan dialog dengan pengusaha berpengalaman. Dari proses itulah, perspektif baru dan ide-ide inovatif kerap lahir.

Terkait persoalan permodalan yang sering dihadapi UMKM, Arsjad menilai akses modal sangat ditentukan oleh kemampuan pelaku usaha dalam menjelaskan ide, potensi, serta kelayakan bisnisnya secara meyakinkan. Investor, menurutnya, tidak hanya mencari keuntungan, tetapi juga visi jangka panjang dan komitmen.

“Kalau produknya jelas dan bisa dijelaskan dengan baik, modal itu biasanya akan datang,” imbuhnya.

Menutup pemaparannya, Arsjad mengajak mahasiswa dan pelaku usaha muda untuk memandang ketimpangan perdagangan sebagai tantangan struktural yang menuntut resiliensi dan kemampuan adaptasi.

“Pelaku usaha yang mampu membaca perubahan pasar dan terus menyesuaikan diri akan tetap memiliki ruang tumbuh, meskipun berada dalam struktur ekonomi yang tidak sepenuhnya ideal,” pungkasnya.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow