UMY Mendunia: Prof. Eko Priyo Purnomo Masuk Jajaran Highly Ranked Scholar Global 2025
YOGYA - Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) kembali mencatat prestasi gemilang di kancah internasional. Salah satu profesor seniornya, Prof. Eko Priyo Purnomo, S.IP., M.Si., M.Res., Ph.D., masuk dalam jajaran Highly Ranked Scholar pada Peringkat Politik Global 2025 versi ScholarGPS, sebuah platform internasional terkemuka yang menganalisis kinerja dan dampak ilmiah para akademisi dunia.
Prof. Eko, yang saat ini menjabat sebagai Direktur Jusuf Kalla School of Government (JKSG) UMY, berhasil menempati peringkat ke-35 dunia. Pencapaian tersebut menempatkannya dalam 1,11 persen cendekiawan teratas di Indonesia dan 1,13 persen teratas secara global dalam bidang Government (Pemerintahan). Pengakuan ini diberikan atas kontribusi risetnya yang konsisten dan berdampak di bidang ekologi politik, tata kelola berkelanjutan, serta inovasi sektor publik.
Saat diwawancarai pada Rabu (17/12), Prof. Eko menyampaikan rasa syukur atas capaian tersebut, seraya menegaskan bahwa penghargaan internasional ini sekaligus membawa tanggung jawab akademik yang lebih besar.
“Alhamdulillah, tentu yang pertama adalah bersyukur kepada Allah SWT. Namun di balik itu, penghargaan ini juga menjadi pengingat bahwa kita harus memikul tanggung jawab yang lebih tinggi, yakni memastikan ilmu pengetahuan yang kita kembangkan benar-benar bermanfaat bagi pengembangan keilmuan, dunia akademik, dan kemaslahatan umat,” ungkapnya.
Prof. Eko menjelaskan bahwa fokus riset yang mengantarkannya pada pengakuan global berakar kuat pada isu keberlanjutan, khususnya dalam kajian political ecology dan sustainability.
“Riset saya berbicara tentang ekologi politik dan keberlanjutan. Isu-isu lingkungan, politik lingkungan, dan tata kelola berkelanjutan merupakan tema yang sangat relevan dan terus berkembang hingga saat ini,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa spesifikasi riset yang berangkat dari konteks Indonesia justru menjadi daya tarik tersendiri bagi jejaring akademik internasional. Isu-isu seperti kebijakan lingkungan dan tata kelola sumber daya alam yang berorientasi pada keberlanjutan menjadi pintu masuk kolaborasi riset lintas negara.
Menurut Prof. Eko, terdapat tiga faktor utama yang mendorong capaian peringkat global tersebut. Pertama adalah niat personal untuk terus meningkatkan kapasitas diri dan kualitas keilmuan. Kedua, dukungan institusional yang kuat dari UMY sebagai rumah akademik. Ketiga, jejaring kolaborasi internasional yang terbangun secara berkelanjutan.
“Tentu juga ada dukungan besar dari para kolega, khususnya mitra akademik di luar negeri, baik dari perguruan tinggi nasional berperingkat tinggi maupun universitas internasional, yang selama ini bersedia berkolaborasi dan saling menguatkan,” tambahnya.
Di tengah kesibukannya sebagai dosen dan pimpinan lembaga, Prof. Eko menekankan pentingnya kolaborasi dan kaderisasi untuk menjaga produktivitas riset. Ia mengaku terus melibatkan dosen muda dan mahasiswa dalam kerja-kerja akademik guna menghindari kejenuhan dan memperluas dampak keilmuan.
Menanggapi pencapaiannya, Prof. Eko juga menyampaikan pesan reflektif kepada para akademisi muda, dosen, dan mahasiswa UMY agar tidak takut bermimpi dan berkarya di level global.
“Teruslah fokus berkarya, jangan semata mengejar capaian duniawi. Kolaborasilah dengan siapa pun, baik dari dalam maupun luar negeri, karena dari situlah kita belajar secara multidisipliner. Jangan pernah takut jatuh, karena kegagalan justru membuat kita lebih matang dalam proses pengembangan ilmu,” tegasnya.
Ia menutup pesannya dengan ungkapan inspiratif, “No pressure, no diamond,” yang menegaskan bahwa tantangan adalah bagian tak terpisahkan dari lahirnya karya dan pemikiran besar. (FU)
What's Your Reaction?
-
1
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow