UMY Kukuhkan Guru Besar Kecerdasan Buatan Terapan, Rektor Soroti Ancaman Disinformasi Digital
YOGYA - Kemajuan teknologi yang tidak diiringi dengan literasi digital serta lingkungan sosial yang sehat berpotensi menjerumuskan masyarakat pada disinformasi dan konflik sosial. Saat ini, teknologi bekerja secara sistematis dan masif dalam membentuk persepsi publik, bahkan tidak jarang menyesatkan penggunanya.
Hal tersebut disampaikan Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Dr. Achmad Nurmandi, M.Sc., dalam pengukuhan dua guru besar UMY yang digelar pada Sabtu (24/1) di Ruang Sidang Utama Gedung AR Fachruddin B, Lantai 5, Kampus Terpadu UMY.
Pada sesi pertama Orasi Ilmiah pengukuhan Prof. Ir. Slamet Riyadi, S.T., M.Sc., Ph.D. sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Kecerdasan Buatan Terapan, Rektor UMY mengingatkan pentingnya peningkatan kesadaran dan literasi teknologi di tengah masyarakat.
“Kita melihat betapa banyak warga Indonesia yang setiap hari dibohongi oleh teknologi. Informasi itu dirancang secara robotik, masuk ke dalam telepon genggam dan ruang privasi kita tanpa disadari,” ujar Nurmandi.
Situasi tersebut, menurutnya, menjadi sangat berbahaya bagi masyarakat yang kurang memiliki literasi teknologi. Teknologi pun dapat menjadi pisau bermata dua apabila tidak dipahami dan dimanfaatkan dengan baik.
Nurmandi menegaskan bahwa teknologi tidak pernah bersifat netral. Ia membutuhkan lingkungan sosial dan politik yang sehat agar manfaatnya dapat dirasakan secara optimal. Tanpa kondisi tersebut, teknologi justru berpotensi menjadi alat yang memperparah polarisasi dan meningkatkan kerentanan sosial di masyarakat.
“Di sinilah kampus memiliki tanggung jawab yang sangat besar, yakni memberikan pencerahan kepada masyarakat tentang dampak luas informasi dan teknologi terhadap kehidupan manusia saat ini. Sebagaimana yang telah dilakukan Prof. Slamet hingga meraih jabatan guru besar,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Nurmandi menyampaikan bahwa pencapaian jabatan guru besar merupakan proses panjang yang penuh tantangan. Dari ratusan dosen yang ada, hanya sebagian kecil yang mampu mencapai jenjang tertinggi dalam karier akademik tersebut.
“Seiring waktu, kualifikasi untuk menjadi guru besar semakin meningkat, termasuk tuntutan publikasi internasional bereputasi dengan standar yang semakin tinggi,” jelasnya.
Meski demikian, Nurmandi menegaskan bahwa tingginya standar tersebut tidak seharusnya mematahkan semangat para dosen untuk terus berproses, berkarya, dan berkontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan serta masyarakat luas.
Pada hari ini, dalam sesi kedua, UMY juga mengukuhkan guru besar di Bidang Radiologi, Subspesialis Radiologi Toraks yaitu Prof. Dr. Ana Majdawati, dr., M.Sc., Sp.Rad(K) TR, sebagai bagian dari komitmen universitas dalam memperkuat pendidikan dan layanan kesehatan berbasis keilmuan.(NF)
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow