UMY Ingatkan Fungsi Hutan sebagai Penjaga Air dan Pencegah Bencana

UMY Ingatkan Fungsi Hutan sebagai Penjaga Air dan Pencegah Bencana

Smallest Font
Largest Font

YOGYA - Hutan memiliki peran vital sebagai pelindung alami manusia dari berbagai bencana hidrometeorologi, mulai dari banjir dan longsor hingga kekeringan dan krisis air bersih. Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Ir. Lis Noer Aini, S.P., M.Si., pakar evaluasi lahan dan tata kawasan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dalam wawancara yang membahas peran ekologis hutan terhadap keselamatan lingkungan dan manusia, Sabtu (3/1).

Menurut Lis, kekuatan utama hutan terletak pada sistem perakaran yang berlapis serta tajuk pohon yang rapat dan bertingkat. Struktur ini membuat air hujan tidak langsung jatuh ke permukaan tanah, melainkan tertahan oleh lapisan daun dan cabang sebelum akhirnya meresap ke dalam tanah secara perlahan.

“Air hujan tidak langsung menjadi aliran permukaan. Ia masuk ke tanah secara bertahap melalui proses infiltrasi. Inilah yang menjaga cadangan air tanah tetap stabil,” jelasnya.

Sebaliknya, pada kawasan yang didominasi tanaman monokultur seperti perkebunan sawit, banyak bagian tanah yang terbuka. Kondisi ini menyebabkan air hujan langsung mengalir di permukaan, membawa tanah dan material lain ke sungai. Akibatnya, sedimentasi meningkat, risiko banjir semakin besar, dan daya serap tanah terus menurun.

Lis menambahkan bahwa sistem perakaran hutan yang beragam dan berlapis juga berfungsi sebagai pengikat alami tanah dan batuan. Fungsi ini sangat penting dalam mencegah terjadinya longsor, terutama di wilayah dengan topografi curam.

“Kalau hutannya masih utuh, bukan hanya tanah, batu pun bisa tertahan oleh perakaran. Tetapi kalau hanya ada satu lapisan akar, itu tidak cukup kuat untuk menahan,” tegasnya.

Dampak lain dari rusaknya hutan juga terlihat pada ketersediaan air bersih. Di kawasan berhutan, air yang meresap ke dalam tanah akan muncul kembali sebagai mata air di daerah yang lebih rendah. Karena itu, wilayah yang masih memiliki tutupan hutan umumnya kaya akan sumber mata air. Sebaliknya, daerah yang mengalami deforestasi cenderung mengalami penurunan muka air tanah, sehingga sumur warga harus digali semakin dalam.

Ia mencontohkan kondisi di lereng Gunung Merapi, Yogyakarta, di mana sejumlah mata air menghilang akibat rusaknya vegetasi pascaerupsi yang tidak diikuti dengan rehabilitasi hutan secara optimal.

“Bukan hanya di Sumatera, di Merapi juga terjadi. Ketika hutan rusak dan tidak dikembalikan, air yang masuk ke tanah semakin sedikit,” ungkapnya.

Lis menegaskan bahwa hutan tidak hanya berfungsi sebagai penyimpan karbon, tetapi juga sebagai penjaga keseimbangan iklim mikro yang memengaruhi pola hujan, suhu, dan stabilitas lingkungan. Ketika hutan hilang, siklus alam terganggu dan dampaknya dapat meluas hingga skala regional bahkan global.

“Hutan adalah sistem kehidupan. Selama sistem ini dijaga, hutan akan melindungi manusia dari bencana. Namun, ketika sistem tersebut rusak, bencana menjadi konsekuensi yang tidak terhindarkan,” pungkasnya. (Jeed)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow