UMY Berdayakan Kelompok Wanita Tani Pulesari Lewat Produk Berstandar Pasar dan Wisata Herbal Edukatif

UMY Berdayakan Kelompok Wanita Tani Pulesari Lewat Produk Berstandar Pasar dan Wisata Herbal Edukatif

Smallest Font
Largest Font

YOGYA - Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) terus memperkuat komitmennya dalam meningkatkan kapasitas ekonomi masyarakat melalui program pengabdian berbasis inovasi dan keberlanjutan. Salah satu inisiatif terbaru datang dari tim dosen Fakultas Farmasi UMY, yang sukses memberdayakan Kelompok Wanita Tani (KWT) Pulesari di Desa Semoyo, Patuk, Gunungkidul, di bawah kepemimpinan Dr. apt. Hari Widada, S.Far., M.Sc.

Program bertajuk “Peningkatan Kapasitas Kelompok Wanita Tani (KWT) Pulesari melalui Pengembangan Wisata Edukasi Kebun Herbal Berkemajuan” ini merupakan kelanjutan dari kegiatan pemberdayaan yang telah berjalan sejak 2023. Inisiatif tersebut berawal dari gagasan Dr. apt. Aris Widiyati, dosen Farmasi UMY sekaligus warga setempat, untuk mengembangkan komoditas jahe sebagai produk unggulan desa.

Menurut Dr. Hari, pengembangan herbal di Pulesari dilakukan melalui pendampingan intensif yang mencakup pelatihan Good Herbal Manufacturing Practice, pengelolaan bahan baku, teknik pengeringan, kontrol kualitas, hingga pengemasan berstandar pasar.

“Kami melihat potensi besar di Pulesari, bukan hanya dari sisi komoditas herbalnya, tetapi juga dari semangat kelompok wanitanya. Pendampingan ini tidak sekadar teknis, tapi juga mencakup pengetahuan tentang legalitas produk seperti P-IRT dan sertifikasi halal agar bisa bersaing di pasar yang lebih luas,” jelas Hari saat dihubungi secara daring, Kamis (6/11).

Tahun 2025, program ini diperluas dengan pengembangan komoditas kunyit di Dusun Kanutan, sebagai bentuk diversifikasi dan penguatan ketahanan ekonomi lokal. Tim UMY juga memberikan fasilitas peralatan produksi, pelatihan sistem kendali mutu, dan pelabelan kedaluwarsa produk kepada anggota KWT.

Selain peningkatan kapasitas produksi, tim UMY juga menghadirkan konsep wisata edukatif berbasis herbal melalui pembangunan kebun herbal berkemajuan. Kebun ini berisi beragam tanaman obat dan dilengkapi dengan kode QR interaktif yang menampilkan informasi mengenai nama latin, manfaat, serta cara pengolahan tanaman herbal.

“Kami ingin menjadikan Pulesari sebagai rujukan wisata edukatif berbasis herbal di Gunungkidul. QR code memudahkan pengunjung mempelajari tanaman dan membantu anggota KWT menjelaskan manfaatnya secara praktis,” terang Hari.

Produk-produk herbal KWT Pulesari seperti teh telang, rosela, serbuk jahe instan, hingga camilan bayam Brazil kini telah mulai dipasarkan di lingkungan sekitar dan memberikan keuntungan ekonomi bagi anggota kelompok.

Meski masih menghadapi tantangan seperti pemenuhan standar BPOM dan peningkatan literasi digital dalam pemasaran, program ini memiliki prospek keberlanjutan yang kuat. UMY telah menyiapkan roadmap hingga 2026, meliputi penguatan branding produk, pemasaran digital, dan sertifikasi halal.

“Harapannya, Pulesari dapat tumbuh menjadi kampung herbal yang mandiri, berdaya saing tinggi, dan dikenal luas sebagai desa wisata edukasi berbasis herbal,” pungkas Hari. (ID)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow