UAD Serahkan Incinerator Pintar Berbasis IoT ke Caturharjo, Dorong Pengelolaan Sampah dari Hulu

UAD Serahkan Incinerator Pintar Berbasis IoT ke Caturharjo, Dorong Pengelolaan Sampah dari Hulu

Smallest Font
Largest Font

BANTUL — Universitas Ahmad Dahlan (UAD) resmi menyerahkan inovasi “Incinerator Pintar”. Teknologi ini dirancang untuk mengelola residu sampah secara ramah lingkungan dengan sistem pemantauan emisi berbasis Internet of Things (IoT) yang dapat diakses masyarakat melalui ponsel pintar. Serah terima sekaligus soft launching teknologi Incinerator Sampah dan Deteksi Emisi Gas Berbasis IoT tersebut berlangsung di Kalurahan Caturharjo, Ahad (30/8). Kegiatan ini menjadi bagian dari Hibah LPDP dan Program Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi (BESTARI) Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Ketua tim penelitian sekaligus Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UAD, Prof. Ir. Anton Yudhana, S.T., M.T., Ph.D., mengatakan kolaborasi UAD dengan masyarakat Caturharjo telah berlangsung selama empat tahun. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk memastikan pengetahuan dan inovasi yang dihasilkan dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

“UAD dan Caturharjo telah berkolaborasi sejak empat tahun. UAD memiliki tanggung jawab bahwa kampus harus bermanfaat untuk kampung,” ujar Anton.

Dalam kegiatan tersebut, UAD menyerahkan dua inovasi. Selain Incinerator Pintar, UAD menyerahkan Si Waras, aplikasi kesehatan yang dikembangkan mahasiswa melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) UAD.

Anton menjelaskan, aspek “pintar” pada incinerator terletak pada sistem pemantauan emisi yang terintegrasi dengan perangkat digital. Masyarakat dapat menggunakan ponsel untuk mengetahui kondisi hasil pembakaran dan memantau apakah terdapat emisi yang berpotensi membahayakan.

“Kenapa dikatakan pintar? Semua masyarakat dapat memantau melalui handphone apakah hasil pembakaran berbahaya atau tidak,” katanya.

Menurut Anton, teknologi tersebut tidak dimaksudkan untuk membakar seluruh jenis sampah. Incinerator diarahkan untuk menangani residu yang sudah tidak memiliki nilai ekonomi setelah sampah dipilah dari sumbernya.

Sampah yang masih memiliki nilai ekonomi dapat dipisahkan untuk dimanfaatkan atau dijual. Sementara sampah organik dapat diolah secara mandiri, sedangkan residu yang tidak dapat dimanfaatkan kemudian diproses menggunakan incinerator.

Konsep tersebut sejalan dengan pendekatan pengelolaan sampah yang dikembangkan masyarakat Caturharjo melalui kearifan lokal “Olah Sampah Coro Simbah”. Konsep tersebut mengadopsi kebiasaan masyarakat terdahulu dalam mengolah sampah organik secara mandiri dengan membuat jugangan, yakni lubang di pekarangan untuk mengembalikan sampah organik ke alam.

Direktur Program BESTARI Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi, Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi, yang diwakili Dr. Aris Winarna, S.E., M.M., mengatakan pengelolaan sampah harus dimulai dari sumbernya. Menurutnya, teknologi seharusnya tidak menjadi satu-satunya solusi, tetapi melengkapi pengetahuan dan kebiasaan baik yang telah berkembang di masyarakat.

“Sekali lagi, inti pengelolaan sampah adalah di hulunya,” ujar Aris.

Ia menilai pendekatan tersebut lebih strategis dibandingkan sekadar memindahkan persoalan sampah dari satu tempat ke tempat lain. Sampah organik, misalnya, dapat dikelola sejak dari rumah, sedangkan sampah bernilai ekonomi dipilah untuk dimanfaatkan. Adapun residu menjadi bagian yang dapat ditangani melalui teknologi pengolahan seperti incinerator.

Aris juga menekankan pentingnya mengubah pola hubungan perguruan tinggi dengan masyarakat. Jika sebelumnya perguruan tinggi kerap dipandang sebagai “menara gading”, kini pengetahuan ilmiah harus dapat bertemu dengan pengalaman serta kearifan lokal masyarakat.

“Peneliti tidak boleh berhenti di laboratorium. Pengetahuan ilmiah perlu bertemu dengan pengalaman masyarakat sehingga menghasilkan inovasi yang relevan dan dapat diterapkan,” katanya.

Dalam konteks tersebut, penerapan Incinerator Pintar di Caturharjo menggunakan pendekatan living lab atau laboratorium hidup. Masyarakat tidak hanya menjadi penerima teknologi, tetapi turut terlibat dalam proses pengembangan dan penerapannya berdasarkan persoalan nyata yang mereka hadapi.

Program BESTARI juga mendorong terbentuknya ekosistem kolaboratif yang melibatkan perguruan tinggi, masyarakat, dunia usaha, pemerintah, serta pemangku kepentingan lainnya. Kolaborasi tersebut dinilai penting agar inovasi tidak berhenti sebagai proyek teknologi, melainkan berkembang menjadi kebiasaan dan budaya baru dalam pengelolaan sampah.

“Penguatan kolaborasi dan kerja sama dalam pengelolaan sampah sehingga akan menjadi budaya dalam mengelola sampah yang baik,” ujar Aris.

Program BESTARI sendiri diarahkan untuk menghubungkan hasil riset perguruan tinggi dengan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, penelitian tidak berhenti sebagai dokumen akademik, tetapi dapat diterapkan dan memberikan dampak langsung.

Program tersebut didukung pendanaan LPDP melalui platform SEMESTA Kemdiktisaintek. Tim penelitian dipimpin Prof. Anton Yudhana dengan anggota Prof. Ir. Maryudi, S.T., M.T., Ph.D., Prof. Dr. Anom Wahyu Asmorojati, S.H., M.H., Dr. Wiwiek Afifah, M.Pd., Ulaya Ahdiani, S.S., M.Hum., dari UAD, serta Asno Azzawagama Firdaus, S.Kom., M.Kom., dari Universitas Qamarul Huda Badaruddin Bagu, Lombok Tengah, yang saat ini menempuh studi doktoral di Universiti Muhammadiyah Malaysia (UMAM). 

Lurah Caturharjo H. Wasdiyanto, S.Si., dan Panewu Pandak Nanang Dwi Atmoko, S.Sos., bersama sejumlah tokoh dan unsur masyarakat turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Serah terima teknologi ini menandai kelanjutan kolaborasi UAD dan masyarakat Caturharjo dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang memadukan kearifan lokal dengan teknologi hasil riset perguruan tinggi. Dokumen resmi kegiatan mencatat serah terima Teknologi Incinerator Sampah dan Deteksi Emisi Gas Berbasis IoT dilaksanakan di Yogyakarta pada 30 Agustus 2026 dengan Nomor Kontrak 052.A/DST/D.D4/AL.04.03/2026.

Lebih dari sekadar menghadirkan sebuah mesin, inovasi tersebut diharapkan menjadi contoh penerapan riset perguruan tinggi yang berangkat dari persoalan nyata masyarakat. Dari Caturharjo, teknologi didorong keluar dari laboratorium untuk menjadi bagian dari ekosistem pengelolaan sampah yang lebih mandiri, terukur, dan berkelanjutan.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow