Tren Kanker Usus Besar di Anak Muda, Dokter RS AMC Muhammadiyah Yogya Imbau Deteksi Dini
YOGYAKARTA — Tren kanker usus besar atau kanker kolorektal dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan peningkatan signifikan, termasuk pada kelompok usia produktif. Jika sebelumnya lebih banyak ditemukan pada pasien lanjut usia, kini kasus serupa mulai dijumpai pada pasien yang belum mencapai usia 50 tahun.
Dokter Spesialis Bedah RS AMC Muhammadiyah Yogyakarta, dr. Fadli Robby Amsriza, MMR., Sp.B., membenarkan adanya tren tersebut.
“Ini sejalan dengan berbagai penelitian terbaru yang menunjukkan peningkatan kasus pada kelompok usia muda mencapai sekitar 1–2 persen setiap tahun. Jadi, tren ini nyata dan perlu menjadi perhatian bersama,” ungkapnya saat dihubungi secara daring, Sabtu (21/2).
Menurut dr. Fadli, peningkatan kasus tidak semata dipengaruhi faktor genetik. Meski faktor keturunan tetap berperan, lonjakan saat ini lebih banyak dipicu perubahan pola hidup masyarakat modern.
“Faktor genetik memang ada, tetapi tidak menyumbang peningkatan signifikan seperti yang kita lihat sekarang. Pola makan dan aktivitas harian sangat berpengaruh. Konsumsi alkohol berlebihan, merokok, makanan yang dibakar, hingga makanan ultra-proses dapat memicu peradangan berulang di usus besar. Peradangan mikro yang berlangsung lama inilah yang berpotensi memicu kanker,” jelasnya.
Ia menambahkan, pola makan rendah serat dan tinggi gula turut meningkatkan risiko. Kurangnya aktivitas fisik yang berujung pada obesitas juga memperbesar peluang terjadinya kanker kolorektal.
Kanker usus besar kerap tidak terdeteksi sejak dini, terutama pada kelompok usia muda. Salah satu gejala paling umum adalah buang air besar (BAB) berdarah. Namun, banyak orang menganggapnya sebagai wasir atau ambeien sehingga enggan memeriksakan diri.
“Gejalanya sering tidak disadari karena letaknya di dalam. Generasi muda juga cenderung takut memeriksakan diri karena khawatir jika terdiagnosis kanker harus menjalani operasi. Padahal belum tentu demikian. Yang terpenting adalah deteksi dini, karena penanganan sangat bergantung pada stadium penyakitnya,” paparnya.
Selain BAB berdarah, gejala lain yang perlu diwaspadai ialah munculnya benjolan di area anus serta penurunan berat badan drastis tanpa sebab jelas. Sayangnya, sebagian besar pasien datang ketika kondisi sudah memasuki stadium lanjut.
Menurut dr. Fadli, tingkat kesembuhan kanker kolorektal sangat tinggi jika terdeteksi pada stadium awal, dengan peluang mencapai sekitar 95 persen. Namun, apabila telah menyebar, angka tersebut dapat turun drastis hingga di bawah 50 persen.
Karena itu, masyarakat diimbau lebih waspada terhadap gejala awal seperti gatal di area anus atau BAB berdarah. Secara medis, skrining dianjurkan mulai usia 40 tahun melalui pemeriksaan endoskopi bawah atau kolonoskopi secara berkala, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko.
“Oleh sebab itu, konsumsilah makanan yang alami dan minim proses. Tiga faktor utama pencegahan kanker kolorektal adalah pola makan sehat, asupan serat yang cukup, serta aktivitas fisik secara rutin,” tegas dr. Fadli.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow