Ekonom UMY: Rupiah Melemah Bukan Berarti Fundamental Ekonomi Indonesia Rapuh

Ekonom UMY: Rupiah Melemah Bukan Berarti Fundamental Ekonomi Indonesia Rapuh

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menjadi sorotan publik. Namun, kondisi tersebut dinilai tidak serta-merta mencerminkan melemahnya fundamental ekonomi Indonesia.

Ekonom Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dyah Titis Kusuma Wardani, S.E., MIDEC., Ph.D., menjelaskan bahwa nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh kombinasi faktor domestik dan global. Karena itu, pergerakan rupiah tidak dapat dijadikan satu-satunya indikator untuk menilai kekuatan ekonomi nasional.

"Rupiah bisa melemah meskipun sebagian indikator fundamental masih terlihat kuat, karena nilai tukar tidak hanya ditentukan oleh kondisi domestik, tetapi juga oleh faktor eksternal dan persepsi investor," ujar Dyah di UMY, Kamis (2/7).

Menurutnya, tekanan terhadap rupiah saat ini lebih banyak dipicu oleh menguatnya dolar Amerika Serikat, ketidakpastian arah suku bunga global, arus keluar modal (capital outflow), serta meningkatnya kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan fiskal dan stabilitas kebijakan di dalam negeri. Kondisi tersebut membuat nilai tukar menjadi sangat sensitif terhadap perubahan sentimen pasar.

"Tekanan terhadap rupiah dapat berasal dari penguatan dolar AS, ketidakpastian suku bunga global, capital outflow, pelemahan pasar keuangan, serta kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan fiskal dan stabilitas kebijakan domestik. Jadi, fundamental yang relatif kuat tidak membuat rupiah kebal terhadap gejolak global maupun perubahan persepsi pasar," jelasnya.

Meski faktor eksternal memiliki pengaruh besar, Dyah menilai kondisi domestik tetap memegang peran penting dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Kepercayaan investor terhadap kebijakan pemerintah, kondisi fiskal yang sehat, serta ketahanan sektor eksternal menjadi penyangga utama ketika perekonomian menghadapi tekanan dari luar negeri.

Ia menegaskan, pelemahan rupiah tidak dapat langsung diartikan sebagai melemahnya fundamental ekonomi Indonesia. Menurutnya, penilaian terhadap fundamental ekonomi harus dilakukan secara menyeluruh dengan melihat berbagai indikator makroekonomi.

"Dalam ekonomi makro, fundamental ekonomi biasanya diukur melalui sejumlah indikator utama, seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, defisit fiskal, rasio utang pemerintah, neraca transaksi berjalan, cadangan devisa, stabilitas sistem keuangan, tingkat investasi, serta kondisi pasar tenaga kerja," tuturnya.

Lebih lanjut, Dyah menilai kekuatan fundamental ekonomi juga harus tercermin pada sektor riil. Karena itu, penilaian terhadap kondisi ekonomi tidak cukup hanya berdasarkan data makro, tetapi juga perlu melihat sejauh mana stabilitas tersebut dirasakan masyarakat dan pelaku usaha.

Untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional, ia mendorong pemerintah terus menjaga stabilitas nilai tukar melalui kebijakan yang mampu meningkatkan kepercayaan pasar. Selain mengendalikan inflasi dan menjaga kredibilitas fiskal, kepastian regulasi serta belanja negara yang produktif dinilai menjadi faktor penting dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif di tengah ketidakpastian ekonomi global.

"Prioritas utama adalah menjaga stabilitas rupiah dan inflasi tanpa menghambat sektor riil. Kebijakan fiskal juga harus kredibel dan efisien dengan memastikan belanja negara benar-benar produktif. Pemerintah perlu menjaga kepastian regulasi agar investor tetap percaya. Dengan demikian, stabilitas makroekonomi tidak hanya tercermin dalam data statistik, tetapi juga mampu memperkuat kepercayaan pasar terhadap Indonesia," pungkasnya.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow