'Mentari' di Tengah Ancaman Gempa: Mahasiswa UAD Nyalakan Cahaya Sadar Bencana di Sekolah

'Mentari' di Tengah Ancaman Gempa: Mahasiswa UAD Nyalakan Cahaya Sadar Bencana di Sekolah

Smallest Font
Largest Font

YOGYA – Di banyak sekolah dasar, pelajaran tentang gempa bumi sering kali hanya sebatas teori di buku IPA. Namun bagi sekelompok mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD), edukasi bencana seharusnya bukan sekadar hafalan—melainkan keterampilan hidup. Melalui program bertajuk "Mentari: Media Edukasi Mitigasi Bencana Gempa Bumi Megathrust dengan Pendekatan Pentahelix", mereka berupaya mengajarkan kesiapsiagaan bencana dengan cara yang menarik dan kolaboratif.

Di bawah bimbingan dosen Oktomi Wijaya, S.K.M., M.Sc., tim mahasiswa ini menjalankan program selama empat bulan di sejumlah sekolah dasar. Mereka tidak hanya membagikan pengetahuan, tetapi juga mengajak siswa, guru, bahkan masyarakat sekitar untuk ikut terlibat dalam simulasi bencana dan literasi mitigasi. 

“Kami ingin anak-anak memahami apa yang harus dilakukan ketika gempa terjadi, bukan hanya tahu definisinya,” ujar Oktomi, dosen pembimbing PKM-PM Mentari dalam Sosialisasi kegiatan PKM-PM Mitigasi Bencana Gempa Megathrust di SD Unggulan Muhammadiyah Kretek, pada Selasa (7/10) di Laboratorium Kebencanaan Fakultas Kedokteran UAD.

Program ini menjadi menarik karena menggunakan pendekatan Pentahelix—sebuah konsep yang menggabungkan peran lima unsur penting: pemerintah, akademisi, pelaku usaha, masyarakat, dan media. Pendekatan ini diyakini efektif untuk membangun sistem kesiapsiagaan yang tidak bergantung pada satu pihak saja.

“Mitigasi bencana tidak bisa berdiri sendiri. Pemerintah bisa membuat kebijakan, kampus memberi edukasi, dunia usaha mendukung sarana, masyarakat ikut berpartisipasi, dan media menyebarkan kesadaran,” tambah Oktomi.

Melalui kegiatan pelatihan, pembuatan media edukatif, hingga pendampingan guru, Mentari menjadi wujud nyata bahwa mahasiswa bukan hanya agen inovasi teknologi, tetapi juga agen sosial yang memperkuat daya tahan masyarakat menghadapi risiko bencana.

Apresiasi pun datang dari Kepala Biro Kemahasiswaan dan Alumni UAD, Dr. Choirul Fajri,  S.I.Kom., M.A. yang menilai PKM-PM Mentari sebagai salah satu bentuk nyata tridharma perguruan tinggi dalam pengabdian masyarakat.

“Yogyakarta punya pengalaman pahit pada gempa 2006. Karena itu, edukasi mitigasi di sekolah sangat penting. Kami berharap program ini berlanjut dan diperluas ke lebih banyak sekolah,” ujarnya.

Di tengah meningkatnya ancaman gempa megathrust di selatan Jawa, kegiatan seperti Mentari menjadi oase kesadaran baru: bahwa pendidikan kebencanaan harus dimulai sejak dini, dengan cara yang menyenangkan dan melibatkan banyak pihak.

Oktomi menegaskan, langkah kecil mahasiswa ini diharapkan menular menjadi gerakan nasional membangun budaya sadar bencana. “Kami berharap program ini tidak berhenti di sini. Indonesia harus punya generasi yang tangguh dan tahu cara menyelamatkan diri,” pungkasnya.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    1
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow