Fenomena Lulusan Perguruan Tinggi Menjadi Driver Ojol: Tanggapan Guru Besar UMY Terhadap Darurat Ketenagakerjaan di Indonesia

Fenomena Lulusan Perguruan Tinggi Menjadi Driver Ojol: Tanggapan Guru Besar UMY Terhadap Darurat Ketenagakerjaan di Indonesia

Smallest Font
Largest Font

YOGYA - Maraknya lulusan perguruan tinggi yang memilih bekerja sebagai pengemudi ojek online (ojol) memunculkan pertanyaan publik: Apakah ini menandakan darurat ketenagakerjaan di Indonesia? Menanggapi isu tersebut, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Dr. Imamudin Yuliadi, SE., M.Si., memberikan penjelasan komprehensif dalam sesi wawancara di Gedung Pascasarjana UMY, Jum'at (21/11).

Menurut Imamudin, keputusan sebagian sarjana bekerja sebagai driver ojol tidak dapat langsung dimaknai sebagai kegagalan pendidikan tinggi atau indikator buruknya perekonomian. Ia menilai bahwa sebagian besar lulusan tetap bercita-cita bekerja sesuai bidang keilmuannya, tetapi proses menuju pekerjaan ideal kerap membutuhkan waktu.

“Menjadi driver ojek online lebih sebagai aktivitas antara atau batu loncatan. Mereka melakukannya sambil menunggu pekerjaan yang sesuai bidangnya,” jelasnya.

Ia menambahkan, sektor pekerjaan digital seperti ojek online berkembang pesat karena sifatnya yang sangat inklusif. Seseorang bisa langsung bekerja hanya dengan kendaraan pribadi dan waktu luang, tanpa modal besar atau pengalaman khusus.

“Mengapa pilihannya ojek online? Karena itu yang paling mudah dan paling murah. Bisa langsung menghasilkan pendapatan sembari menunggu pekerjaan formal,” ungkapnya.

Fenomena ini, lanjut Imamudin, menjadi semacam katup pengaman bagi kondisi ketenagakerjaan nasional yang masih menghadapi angka pengangguran cukup tinggi. Bahkan pekerjaan ini kini juga digeluti pekerja paruh baya yang terkena PHK akibat kontraksi ekonomi di beberapa sektor.

Imamudin menegaskan bahwa perubahan struktur ketenagakerjaan nasional memang terjadi secara nyata. Sektor ekonomi berbasis digital tumbuh cepat, sementara beberapa sektor lain stagnan bahkan menyusut. Dalam situasi ini, pekerjaan digital seperti ojol, kurir, hingga layanan daring mengambil peran penting dalam menyerap tenaga kerja.

“Kalau tidak ada job digital seperti ojol dan online services, tingkat pengangguran kita bisa jauh lebih besar,” tegasnya.

Meski demikian, fenomena sarjana menjadi ojol tetap harus menjadi peringatan bagi perguruan tinggi. Menurut Imamudin, kampus perlu memperkuat link and match dengan dinamika industri yang berubah cepat. Mahasiswa juga harus diberi pengalaman nyata agar memahami peta dunia kerja sejak dini.

“Model magang yang sekarang diprogramkan pemerintah itu positif. Mahasiswa harus dikenalkan pada dunia nyata sehingga tahu peta kerja yang sesungguhnya saat lulus,” imbuhnya.

Terkait anggapan bahwa tren lulusan menjadi ojol mencerminkan kondisi ekonomi yang tidak baik-baik saja, Imamudin memberikan pandangan seimbang. Menurutnya, ekonomi Indonesia masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar, didukung percepatan penyerapan anggaran daerah serta program-program ekonomi lokal seperti Multiplier Based Growth (MBG).

“Ada sektor yang terkontraksi, tapi banyak juga sektor yang berkembang. Ekonomi kita masih bisa tumbuh lebih tinggi,” ujarnya.

Untuk menghadapi persoalan ketenagakerjaan secara struktural, Imamudin menekankan pentingnya tiga hal: Pembangunan iklim investasi yang kondusif, perbaikan tata kelola pemerintahan yang bersih dan efisien, serta penguatan UMKM dan koperasi. Ia meyakini bahwa generasi muda memiliki peluang besar untuk memanfaatkan momentum pertumbuhan ekonomi daerah.

“Setiap daerah punya karakter dan potensi ekonomi. Generasi muda bisa memanfaatkannya untuk menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan kesejahteraan,” pungkasnya. (Jeed)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow