Rupiah Tembus Rp17.640 per Dolar AS, Dosen UMY: Ketahanan Bank Syariah Mulai Diuji

Rupiah Tembus Rp17.640 per Dolar AS, Dosen UMY: Ketahanan Bank Syariah Mulai Diuji

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Mitos bahwa perbankan syariah sepenuhnya kebal terhadap krisis global mulai mendapat ujian serius. Pelemahan nilai tukar Rupiah hingga menyentuh Rp17.640 per dolar AS pada perdagangan Senin (18/5) dinilai mulai menekan ketahanan likuiditas bank-bank syariah di Indonesia.

Dosen Magister Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dimas Bagus Wiranatakusuma, Ph.D. menegaskan bahwa dampak depresiasi Rupiah kini tidak hanya dirasakan perbankan konvensional, tetapi juga mulai merembet ke industri perbankan syariah.

Dalam wawancara daring pada Senin (18/5), Dimas menjelaskan bahwa karakteristik perbankan syariah yang mengedepankan prinsip kehati-hatian memang menjadi tameng awal menghadapi gejolak ekonomi. Namun, pelemahan kurs tetap membawa efek berantai melalui meningkatnya inflasi barang impor (imported inflation) di sektor riil.

Menurutnya, depresiasi Rupiah akan langsung memukul pelaku usaha yang menjadi nasabah utama bank syariah, terutama sektor yang masih bergantung pada bahan baku impor, mesin produksi, energi, dan barang modal berbasis dolar AS. Kenaikan biaya impor membuat biaya produksi melonjak dan margin keuntungan perusahaan menyusut.

“Dalam situasi tersebut, kemampuan nasabah membayar kewajiban pembiayaan kepada bank syariah ikut melemah. Di sinilah risiko pembiayaan bermasalah atau non-performing financing (NPF) mulai meningkat,” ujar Dimas.

Ia menyebut sektor perdagangan, manufaktur, tekstil, farmasi, hingga UMKM berbasis impor sebagai sektor yang paling rentan terhadap pelemahan Rupiah. Jika kondisi ini berlangsung dalam jangka panjang, tekanan terhadap kualitas pembiayaan perbankan syariah diperkirakan akan semakin besar seiring memburuknya kondisi usaha nasabah.

Meski demikian, Dimas menilai bank syariah masih memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan perbankan konvensional dalam menghadapi gejolak ekonomi global. Hal itu karena eksposur langsung terhadap instrumen berbasis valuta asing maupun transaksi derivatif internasional relatif lebih kecil.

Namun, tekanan tetap dapat muncul dari sisi likuiditas. Saat Bank Indonesia mempertahankan suku bunga tinggi untuk menjaga stabilitas Rupiah, biaya penghimpunan dana di sektor keuangan turut meningkat. Kondisi tersebut, kata Dimas, tetap berdampak pada industri perbankan syariah meskipun tidak menggunakan sistem bunga.

“Dalam situasi ketidakpastian tinggi, masyarakat menjadi lebih berhati-hati dalam menempatkan dana. Jika tidak dikelola dengan baik, tekanan likuiditas juga dapat dirasakan industri perbankan syariah,” jelasnya.

Di sisi lain, ia memandang situasi ini dapat menjadi momentum bagi perbankan syariah untuk memperkuat kualitas pembiayaan dan manajemen risiko. Prinsip pembiayaan berbasis underlying asset, risk sharing, serta larangan spekulasi dinilai menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas industri keuangan syariah.

Dimas juga mendorong perbankan syariah agar lebih fokus mendukung sektor-sektor produktif domestik, seperti UMKM, industri halal lokal, pertanian, energi terbarukan, hingga sektor penghasil devisa. Menurutnya, semakin kuat basis ekonomi domestik yang dibiayai, maka semakin kecil pula risiko pelemahan Rupiah terhadap stabilitas industri perbankan syariah.

Selain itu, ia menilai regulator perlu memperkuat ekosistem keuangan syariah nasional melalui pengembangan pasar uang syariah, instrumen lindung nilai syariah, penguatan likuiditas, serta integrasi industri halal dengan pembiayaan syariah.

“Ketahanan perbankan syariah ke depan tidak hanya ditentukan oleh kepatuhan terhadap prinsip syariah, tetapi juga kemampuan membangun pembiayaan yang produktif, resilien, dan mampu memperkuat kemandirian ekonomi nasional di tengah gejolak global,” pungkasnya.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow