Wakil Rektor UMY Soroti Korupsi Material sebagai Penyebab Buruknya Infrastruktur di Indonesia
YOGYAKARTA — Korupsi material dalam proyek konstruksi disebut menjadi salah satu penyebab utama buruknya kualitas infrastruktur di Indonesia. Hal tersebut disampaikan Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Dr. Zuly Qodir, M.Ag., dalam acara Sumpah Profesi Insinyur UMY, Sabtu (16/5).
Dalam sambutannya, Zuly menyoroti ketahanan bangunan peninggalan Romawi kuno, seperti Colosseum di Roma hingga amfiteater di Tunisia dan Turki, yang mampu bertahan ratusan tahun karena dibangun dengan kualitas tinggi dan integritas dalam proses konstruksinya.
Menurutnya, kondisi tersebut berbanding terbalik dengan sejumlah infrastruktur di Indonesia yang justru cepat mengalami kerusakan tidak lama setelah selesai dibangun.
“Kita sekarang melihat beberapa bangunan di Indonesia baru dibangun, tetapi dua minggu kemudian sudah bermasalah. Padahal, bangunan harus dibangun dengan kualitas yang baik, artistik, dan tentu saja tanpa korupsi bahan,” tegas Zuly.
Ia mencontohkan kasus jembatan layang di Ambon yang konstruksinya disebut tidak tersambung dengan baik meski proyek belum sepenuhnya rampung. Menurut Zuly, persoalan tersebut tidak semata-mata disebabkan kesalahan teknis insinyur, tetapi juga dipengaruhi pemotongan anggaran dan pengurangan kualitas material dalam proses pengerjaan proyek.
Zuly menilai praktik semacam itu telah menjadi persoalan sistemik dalam dunia konstruksi nasional. Lemahnya integritas, kata dia, terlihat mulai dari tahap perencanaan hingga pelaksanaan proyek di lapangan.
Selain menyoroti kualitas pembangunan, ia juga mengingatkan pentingnya keselamatan kerja bagi para insinyur dan pekerja konstruksi. Menurutnya, standar keselamatan harus dijalankan secara disiplin oleh seluruh pihak yang terlibat dalam proyek pembangunan.
“Keselamatan kerja bukan sekadar formalitas. Banyak kecelakaan konstruksi sebenarnya dapat dicegah jika seluruh pihak bekerja dengan penuh tanggung jawab dan kehati-hatian,” ujarnya.
Pesan tersebut disampaikan di hadapan 64 insinyur baru yang resmi menyandang gelar Insinyur (Ir.) usai mengucapkan sumpah profesi. Angkatan ini menjadi batch pertama Program Studi Program Profesi Insinyur (PSPPI) UMY yang dikukuhkan setelah program tersebut meraih akreditasi Unggul.
Zuly menegaskan, capaian akreditasi tersebut bukan hanya menjadi kebanggaan institusi, tetapi juga menghadirkan tanggung jawab besar bagi para lulusan untuk menjaga profesionalisme dan integritas dalam menjalankan profesinya sebagai insinyur.
Acara yang digelar secara hybrid itu diikuti 55 peserta secara luring dan 9 peserta secara daring. Prosesi sumpah dipimpin langsung oleh Zuly selaku Wakil Rektor UMY, didampingi rohaniawan sesuai agama masing-masing peserta.
Pada kesempatan tersebut, UMY juga menyerahkan dokumen kelulusan secara simbolis kepada Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai bentuk pengakuan resmi terhadap status profesional para insinyur baru.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow