Transformasi Universitas Menuju Entrepreneurial University: Membangun Reputasi dan Inovasi untuk Dampak Sosial yang Nyata

Transformasi Universitas Menuju Entrepreneurial University: Membangun Reputasi dan Inovasi untuk Dampak Sosial yang Nyata

Smallest Font
Largest Font

YOGYA - Penguatan fondasi institusi menjadi elemen krusial dalam membangun entrepreneurial university, terutama ketika perguruan tinggi dituntut tidak hanya menghasilkan inovasi, tetapi juga menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat. Hal ini ditegaskan oleh Rektor Telkom University (Tel-U), Prof. Dr. Suyanto, S.T., M.Sc., dalam Kuliah Ahli Pimpinan Universitas bertema “Transformasi UMY Menuju Entrepreneurial University yang Berdaya Saing Global” di Gedung AR Fachruddin A lantai 5, Jumat (14/10).

Menurut Prof. Suyanto, transformasi perguruan tinggi tidak dapat dipisahkan dari kemampuan universitas membangun empati sosial serta menjaga hubungan yang sehat dengan masyarakat. Ia menekankan bahwa reputasi perguruan tinggi tidak hanya bergantung pada capaian akademik, melainkan juga pada keberpihakan kampus dan kontribusi nyata yang dirasakan publik.

“Reputasi universitas tidak hanya lahir dari publikasi atau riset, tetapi dari bagaimana kampus menunjukkan keberpihakan dan memberi dampak yang nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya keberanian perguruan tinggi dalam melahirkan inovasi yang relevan dan berdaya saing tinggi. Menurutnya, universitas harus menjadi ruang bagi gagasan baru yang mampu menggerakkan industri dan mengarahkan perkembangan teknologi masa depan.

“Reputasi akademik salah satunya ditentukan oleh kemampuan universitas menghasilkan invensi yang berbeda, bukan penelitian yang berhenti di atas meja, tetapi temuan yang punya daya dobrak. Jika ingin bersaing secara global, perguruan tinggi harus berani menentukan arah, bukan sekadar mengikuti tren,” jelasnya.

Selain inovasi, Prof. Suyanto menjelaskan bahwa tata kelola kinerja yang selaras antara individu dan institusi merupakan syarat penting keberhasilan transformasi. Budaya kerja kolaboratif, menurutnya, tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan dibangun melalui mekanisme yang mendorong seluruh unsur kampus bergerak bersama.

“Jika kinerja individu tinggi tetapi unitnya tidak bergerak, hasilnya tetap tidak naik. Artinya semua pihak harus saling menjaga. Pencapaian institusi adalah pencapaian bersama,” katanya.

Ia menegaskan bahwa seluruh elemen perguruan tinggi, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, hingga unit pendukung, adalah bagian dari wajah institusi. Bahkan interaksi paling sederhana dengan calon mahasiswa dapat membentuk persepsi publik terhadap kualitas kampus.

Prof. Suyanto juga menyinggung pentingnya pengelolaan reputasi melalui indikator yang mudah dikenali masyarakat, termasuk peringkat perguruan tinggi. Meski sering menuai perdebatan, ia menyebut ranking tetap menjadi referensi penting bagi publik dalam memilih universitas terbaik.

“Suka tidak suka, ranking itu penting. Ia memudahkan masyarakat mengenali kualitas perguruan tinggi. Begitu persepsi positif terbentuk, daya tarik kampus ikut meningkat. Karena itu, menjaga reputasi bukan sekadar kebutuhan, tetapi strategi,” tutup Prof. Suyanto. (NF)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow