Sport Tourism Borobudur Marathon 2025: Tantangan dan Potensi Ekonomi Berkelanjutan di Magelang

Sport Tourism Borobudur Marathon 2025: Tantangan dan Potensi Ekonomi Berkelanjutan di Magelang

Smallest Font
Largest Font

YOGYA - Gelaran Borobudur Marathon 2025 kembali menarik perhatian publik dengan jumlah peserta yang mencapai puluhan ribu serta dampak ekonomi yang meningkat signifikan di kawasan Magelang dan sekitarnya. Fenomena ini semakin menguatkan tren sport tourism sebagai salah satu penggerak baru perekonomian Indonesia.

Namun, di tengah berbagai capaian positif tersebut, terdapat sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi agar sport tourism tidak hanya menjadi euforia sesaat, tetapi benar-benar menghadirkan manfaat yang berkelanjutan dan inklusif bagi masyarakat. Hal ini disampaikan oleh dosen Program Studi Ilmu Pemerintahan UMY sekaligus pakar kebijakan pariwisata berkelanjutan, Sakir Ridho Wijaya, S.IP., M.IP., dalam wawancara pada Sabtu (22/11) di Gedung AR Fachruddin A, Kampus UMY.

Sakir menilai bahwa meningkatnya minat masyarakat terhadap event olahraga seperti lari, triathlon, dan bersepeda tidak dapat dilepaskan dari perubahan gaya hidup pascapandemi COVID-19.

“Setelah COVID-19, orang lebih peduli dengan kesehatan. Ada tren bahwa masyarakat kini punya gaya hidup yang lebih sehat. Ini yang mendorong tingginya minat terhadap kegiatan seperti marathon, yang kemudian berkembang menjadi sport tourism,” jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa sport tourism merupakan kolaborasi antara aktivitas olahraga dan wisata, di mana peserta tidak hanya berkompetisi, tetapi juga menikmati keindahan destinasi seperti Borobudur, Mandalika, hingga Bali.

Menurut pengamatannya, perhelatan sport tourism memang mendorong perputaran ekonomi daerah, mulai dari hunian, transportasi, hingga kuliner dan suvenir lokal. Namun, Sakir menegaskan bahwa manfaat tersebut belum tentu dirasakan secara merata.

“Pertanyaannya, siapa yang benar-benar menikmati? UMKM kah? Pengelola homestay? Atau justru hotel-hotel besar? Di sini tantangannya. Ketika kita bicara pariwisata berkelanjutan, inklusivitas harus dijamin,” tegasnya.

Sakir juga menyoroti potensi over tourism seperti peningkatan volume sampah dan tekanan terhadap lingkungan apabila event besar tidak dikelola dengan hati-hati. Untuk itu, ia mendorong adanya koordinasi lintas kementerian dan lembaga agar sport tourism memberikan manfaat optimal.

“Olahraga itu domain Kemenpora, sementara pariwisata ada di Kemenparekraf. Belum lagi infrastruktur di PUPR dan sektor UMKM. Harus ada koordinasi agar setiap event jelas manfaatnya dan tepat sasaran,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa keberhasilan sport tourism tidak hanya ditentukan oleh penyelenggara event, tetapi juga kesiapan destinasi, mulai dari kualitas homestay, daya saing produk UMKM, hingga infrastruktur dasar yang mendukung kenyamanan pengunjung.

Menanggapi pertanyaan mengenai apakah tren sport tourism hanya bersifat sementara, Sakir menilai bahwa fenomena ini memiliki potensi jangka panjang.

“Ini bukan seperti tren tanaman hias saat pandemi. Sport tourism bisa bersifat long-lasting, asalkan dikelola dengan prinsip keberlanjutan dan inklusivitas. Kalau koordinasi lintas sektor berjalan, dampaknya akan besar dan merata,” jelasnya.

Di akhir wawancara, Sakir menegaskan pentingnya kolaborasi dengan sektor swasta agar sport tourism tidak hanya mengandalkan event tahunan, tetapi dapat berkembang menjadi paket wisata tematik yang berlangsung sepanjang tahun. (Jeed)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow