QS Sustainability 2026: UMY Unggul Nasional pada Indikator Environmental Research

QS Sustainability 2026: UMY Unggul Nasional pada Indikator Environmental Research

Smallest Font
Largest Font

YOGYA - Riset yang mampu menjawab persoalan nyata masyarakat semakin menjadi kebutuhan penting bagi perguruan tinggi yang ingin berkontribusi pada agenda pembangunan berkelanjutan. Komitmen inilah yang mengantarkan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) meraih capaian signifikan dalam _QS Sustainability Rankings_ 2026. UMY resmi menempati peringkat pertama nasional pada indikator _Environmental Research_.

Capaian ini mencerminkan perubahan paradigma riset di UMY dalam beberapa tahun terakhir, dari pendekatan administratif yang semata-mata memenuhi kewajiban Tri Dharma, menjadi riset berbasis pemecahan masalah (_problem-solving research_) yang memberi dampak langsung bagi masyarakat.

Kepala Direktorat Riset dan Pengabdian UMY, apt. Sabtanti Harimurti, M.Si., Ph.D., menjelaskan bahwa UMY tidak lagi mendorong penelitian hanya sebatas laporan atau angka publikasi. Dalam beberapa tahun terakhir, universitas memastikan bahwa setiap riset harus memberikan solusi konkret terhadap persoalan sosial dan lingkungan.

“Riset di UMY saat ini tidak lagi berhenti pada laporan. Riset itu harus menyelesaikan masalah masyarakat. Itulah ruh yang membuat riset kami berdampak,” ujar Sabtanti saat ditemui di ruangannya, Kamis (27/11).

Pendekatan tersebut sejalan dengan arah pengembangan UMY menuju _entrepreneurial university_ sebagaimana tercantum dalam rencana induk hingga tahun 2040. Dalam kerangka ini, riset menjadi sumber inovasi sekaligus kontribusi nyata bagi masyarakat luas.

Kinerja UMY yang menonjol dalam indikator _Environmental Research_ tidak hanya lahir dari banyaknya jumlah riset, tetapi juga dari ekosistem penelitian yang terstruktur dan terarah. Sejak 2020, UMY menerapkan sistem klaster riset yang membagi fokus penelitian dosen dalam empat rumpun besar, mulai dari agro-ekosistem dan kebencanaan hingga material maju, kesehatan, dan energi cerdas.

Setiap klaster kemudian diturunkan menjadi subklaster dan diperkuat melalui program _anchor research_, yaitu kelompok peneliti yang diarahkan untuk menghasilkan inovasi berorientasi hilirisasi. Saat ini, UMY memiliki sekitar 50 anchor research yang digerakkan untuk melahirkan minimal satu inovasi atau temuan riset yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.

“Dengan adanya anchor, arah riset kami tidak lagi terpecah. Setiap proyek diarahkan untuk menghasilkan _invention_ yang bisa dihilirisasi, baik berupa alat, metode, maupun rekomendasi kebijakan,” jelas Sabtanti.

Model riset interdisipliner inilah yang mendorong kontribusi besar UMY terhadap enam poin _Sustainable Development Goals_ (SDGs) yang menjadi dasar penilaian QS untuk indikator _Environmental Research_, yaitu SDGs 7, 11, 12, 13, 14, dan 15. Salah satu faktor penting yang memperkuat posisi UMY adalah keselarasan topik riset dengan prioritas riset nasional, yang turut menjadi komponen penilaian dalam QS.

Ke depan, penguatan hilirisasi menjadi fokus strategis UMY dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang. Integrasi antara Direktorat Riset dan Pengabdian (DRP) dengan Direktorat Inovasi dan Hilirisasi (DIH) terus diperkuat untuk memastikan temuan-temuan riset dapat dikembangkan, diuji, dan dimanfaatkan industri maupun masyarakat.

Sabtanti menegaskan bahwa pencapaian posisi pertama nasional pada _Environmental Research_ tidak menjadikan UMY berpuas diri. Bagi UMY, pemeringkatan hanyalah alat ukur kontribusi terhadap keberlanjutan, bukan tujuan akhir.

“Target kami ke depan tentu ingin terus naik. Tetapi yang lebih penting adalah memastikan bahwa kontribusi UMY bagi masyarakat dan lingkungan benar-benar semakin meningkat,” pungkasnya. (ID)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow