Teknologi Tanpa Tata Kelola Bisa Hambat SDGs, Wakil Rektor UMY Ingatkan Risiko Digitalisasi
YOGYAKARTA — Kemajuan teknologi kerap dipandang sebagai katalisator utama dalam mewujudkan Sustainable Development Goals (SDGs). Namun, tanpa tata kelola yang efektif dan integrasi yang matang, teknologi justru berpotensi menghambat pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan. Hal tersebut disampaikan Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Hilirisasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Med., dr. Supriyantiningsih, Sp.OG., M.Kes.
Dalam kegiatan Kick Off KPM International SDGs Competition 2026 yang digelar pada Selasa (10/2), Supriyantiningsih menegaskan bahwa pemanfaatan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan digitalisasi, harus dilakukan secara hati-hati dan berbasis data yang valid.
“Teknologi bukanlah keajaiban, melainkan alat untuk mempercepat kemajuan. Namun, jika data yang digunakan keliru, maka keputusan dan kebijakan yang dihasilkan juga berisiko menyesatkan,” ujarnya.
Ia mencontohkan maraknya informasi kesehatan di media sosial yang tidak selalu didukung oleh penelitian ilmiah yang kuat. Di satu sisi, teknologi mempercepat penyebaran informasi, tetapi di sisi lain juga memperbesar potensi misinformasi yang dapat berdampak negatif bagi kesehatan masyarakat.
Upi menekankan bahwa tantangan utama dalam mewujudkan SDGs bukan terletak pada ketersediaan teknologi, melainkan pada kemampuan mengintegrasikan data, kebijakan, komunitas, dan aksi nyata di lapangan. Tanpa integrasi tersebut, teknologi justru berpotensi memperlebar ketimpangan sosial dan memperlambat kemajuan yang diharapkan.
“Teknologi harus dipandu oleh nilai kolaborasi, inklusivitas, dan tanggung jawab agar mampu menciptakan dampak positif yang nyata,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyoroti peran strategis perguruan tinggi dalam memastikan pemanfaatan teknologi yang berbasis riset dan bukti ilmiah. Menurutnya, riset tidak boleh berhenti pada publikasi semata, melainkan harus menghasilkan solusi yang aplikatif dan berkelanjutan bagi masyarakat.
Melalui KPM International SDGs Competition 2026 yang berlangsung hingga Mei 2026, UMY berharap mahasiswa terdorong menjadi inovator yang tidak hanya unggul secara teknologi, tetapi juga peka terhadap kebutuhan sosial dan mampu menawarkan solusi nyata atas tantangan pembangunan berkelanjutan.
“Mahasiswa harus mampu berpikir sistemik dan menciptakan solusi berkelanjutan, karena SDGs menuntut dampak nyata, bukan sekadar kegiatan yang bersifat sementara,” pungkasnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow