Pengalaman Unik Mahasiswa UMY di Uzbekistan: Tanpa Laptop di Kelas hingga Tantangan Bahasa

Pengalaman Unik Mahasiswa UMY di Uzbekistan: Tanpa Laptop di Kelas hingga Tantangan Bahasa

Smallest Font
Largest Font

NAVOIY — Bagi Yuspayanti, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Fakultas Pendidikan Bahasa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) angkatan 2022, belajar di luar negeri bukan sekadar mimpi akademik. Sejak awal kuliah, ia telah menempatkannya sebagai salah satu wishlist terbesar. Kini, impian tersebut menjadi kenyataan melalui program Student Exchange di Navoi State University, Uzbekistan.

“Sejak awal kuliah saya memang punya keinginan mengikuti Student Exchange atau Study Abroad. Tujuan utamanya jelas: Saya ingin memperluas wawasan, melihat langsung sistem pendidikan negara lain, dan mempelajari budaya mereka,” ujar Yuspa dalam wawancara daring pada Kamis (27/11).

Program pertukaran pelajar ini dimulai pada Oktober dan akan berlangsung hingga pertengahan Februari. Meski baru satu bulan berada di Uzbekistan, Yuspa sudah merasakan perbedaan signifikan dalam sistem pendidikan yang ia jalani. Navoi State University menerapkan pendekatan belajar yang terstruktur dan responsif terhadap kebutuhan mahasiswa, dengan kurikulum yang seimbang antara teori dan praktik.

Dari sejumlah mata kuliah yang ia ambil, Intercultural Studies menjadi favoritnya. Melalui kelas tersebut, ia mempelajari budaya dan sistem pendidikan berbagai negara seperti Amerika, Inggris, hingga negara-negara Asia.

Namun yang paling menarik bagi Yuspa adalah metode belajar yang cenderung tradisional. Di tengah era digital yang serba cepat, Navoi State University justru minim penggunaan teknologi dalam proses belajar-mengajar.

“Metode perkuliahan di Navoi State University ternyata tidak bergantung pada teknologi. Bahkan tidak ada satu pun mahasiswa yang menggunakan laptop di kelas. Ini pengalaman yang unik dan membuat saya kagum,” tuturnya.

Meski penuh pengalaman baru, proses adaptasi tetap menjadi tantangan besar. Ini merupakan pengalaman pertama Yuspa belajar di luar negeri, sehingga persoalan bahasa hingga cuaca menjadi tantangan tersendiri.

“Tidak semua orang di sini bisa berbahasa Inggris, jadi itu benar-benar challenging buat saya. Kalau mau naik taksi, beli makanan, atau sekadar bertanya, kami harus pakai Google Translate,” ujarnya sambil tersenyum.

Dari segi budaya, ia menemukan banyak hal menarik. Salah satunya adalah bagaimana masyarakat Uzbekistan sangat menghargai orang lain. Ada pula momen yang paling membekas, yaitu perayaan Student's Day, yang dirayakan sebagai hari libur nasional.

Bagi Yuspa, Student Exchange bukan hanya soal akademik, tetapi juga perjalanan membentuk karakter dan keberanian menghadapi tantangan.

“Persiapkan diri secara mental dan emosional. Ikut Student Exchange, kita tidak hanya belajar di kelas, tetapi juga belajar di luar kelas. Banyak tantangan baru yang akan membuat kita berkembang,” pesannya.

Ia menegaskan bahwa Student Exchange adalah perjalanan yang “membuka mata dan hati”, mengajarkan bahwa dunia jauh lebih luas dari yang dibayangkan, dan bahwa keberanian keluar dari zona nyaman menjadi langkah awal menuju versi diri yang lebih baik.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow