Penetapan 10 Pahlawan Nasional 2025: Dari Gus Dur hingga Soeharto, Makna dan Kontroversinya
YOGYA - Peringatan Hari Pahlawan Nasional 2025 diwarnai dengan penetapan sepuluh tokoh baru sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Prabowo Subianto pada Minggu (10/11). Daftar penerima gelar tahun ini mencerminkan keberagaman peran dan latar belakang, mulai dari pemimpin bangsa, ulama, hingga aktivis buruh.
Mereka adalah Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Jenderal Besar Soeharto, Marsinah, Prof. Mochtar Kusumaatmadja, Hj. Rahmah El Yunusiyah, Sarwo Edhie Wibowo, Sultan Muhammad Salahuddin, Syaikhona Kholil Bangkalan, Tuan Rondahaim Saragih, dan Zainal Abidin Syah. Penganugerahan ini menjadi momen reflektif bagi bangsa untuk menegaskan kembali makna kepahlawanan di era modern.
Namun, salah satu nama yang muncul, Presiden ke-2 RI, Soeharto, menimbulkan perdebatan publik. Sebagian menilai jasa besar Soeharto dalam pembangunan nasional patut diapresiasi, sementara sebagian lainnya mengingatkan pada sisi kelam kekuasaannya.
Menanggapi hal ini, Dosen Program Studi Ilmu Pemerintahan (IP) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Erni Zuhriyati, S.S., S.IP., M.A., mengajak masyarakat memandang isu ini secara jernih dan objektif. Erni memandang Soeharto sebagai sosok yang tak terpisahkan dari sejarah bangsa, lahir dari era perjuangan, serta memiliki kontribusi signifikan dalam membawa Indonesia melewati masa sulit menuju stabilitas.
“Soeharto adalah sosok yang lahir dari perjuangan dan membawa bangsa ini melewati masa sulit menuju stabilitas. Ia membangun jalan, sawah, sekolah, dan listrik hingga pelosok, serta menempatkan Indonesia tegak di mata dunia,” ujar Erni saat diwawancarai melalui WA, Kamis (13/11).
Namun, lanjut Erni, sejarah tidak pernah tunggal. Kekuasaan panjang Soeharto juga meninggalkan catatan luka dan kekhilafan yang tidak bisa dihapus, menjadikan Soeharto sosok yang meninggalkan jejak ganda: jasa dan dosa, cahaya dan bayang.
“Menjadikan Soeharto pahlawan bukan hanya soal gelar, tetapi soal keberanian untuk menimbang dengan hati jernih. Kepahlawanan sejati bukan berarti tanpa cela, melainkan kesediaan untuk mengabdi dan mencintai bangsa ini dengan segala keterbatasannya,” tegasnya.
Erni menambahkan, bangsa yang besar bukanlah bangsa yang melupakan masa lalu, tetapi bangsa yang belajar darinya. “Kekuasaan datang dan pergi, tetapi pengabdian dan kebijaksanaan akan selalu tinggal dalam sejarah manusia yang berbangsa,” tutupnya.
Penetapan sepuluh tokoh pahlawan nasional tahun ini menjadi momentum refleksi bagi masyarakat, khususnya dunia pendidikan seperti UMY, untuk menanamkan nilai pengabdian, keberanian moral, dan semangat kebangsaan di tengah dinamika zaman digital. (FU)
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow