Paradigma Ilmu Islam sebagai Alternatif atas Sains Kapitalistik dan Sekularistik : Perspektif Dr. Jasser Auda
YOGYA - Dr. Jasser Auda, seorang cendekiawan Muslim dari Kanada, menyatakan bahwa ilmu pengetahuan dan sains tidaklah netral, melainkan selalu dipengaruhi oleh nilai, ideologi, dan kepentingan yang mendasarinya. Dalam setiap sistem pengetahuan, terdapat pandangan tertentu terhadap manusia dan dunia.
Pernyataan ini disampaikan Auda dalam seminar internasional mengenai Integrasi Islam dan Sains yang diadakan oleh Center for Integrative Science and Islamic Civilization (CISIC) bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada Sabtu (8/11) di Meeting room UMY Students Dormitory.
Menurut Auda, sains modern saat ini banyak didasarkan pada sekularisme dan kapitalisme, yang menjadikan ilmu pengetahuan sebagai alat untuk meraih kekuasaan ekonomi dan politik, bukan sebagai sarana untuk kemaslahatan umat manusia.
"Sains itu tidak netral, ia selalu berasal dari nilai tertentu, apakah itu sekularisme, kapitalisme, atau pandangan ateistik," jelas Auda.
Sebagai solusinya, Auda menyarankan umat Islam untuk membangun sistem pengetahuan yang berlandaskan pada nilai-nilai maqasid al-shari‘ah, yang mengedepankan kemaslahatan, keadilan, dan keseimbangan. Dalam Islam, ilmu mencakup seluruh aspek kehidupan, baik ilmu alam, sosial, maupun kemanusiaan, yang tidak terlepas dari dimensi moral dan spiritual.
Auda juga menjelaskan bahwa banyak cabang ilmu modern yang lahir dari pemikiran filsafat Barat. Sebagai contoh, psikologi modern dipengaruhi oleh pemikiran Freud, dan sosiologi oleh Durkheim. Oleh karena itu, umat Islam harus mengembangkan epistemologi Islam yang berakar pada maqasid al-shari‘ah.
"Masyarakat Islam tidak bisa membangun psikologi Islam dengan dasar Freud, atau politik Islam dengan dasar Machiavelli. Kita perlu paradigma ilmu yang berlandaskan pada tujuan moral dan spiritual Islam," tegas Auda.
Seminar ini diadakan untuk membuka ruang diskusi antara sains modern dan nilai-nilai Islam, serta menegaskan kembali peran Islam sebagai landasan etika dan epistemologi dalam perkembangan ilmu pengetahuan.
Auda menutup ceramahnya dengan penegasan bahwa Islam bukan hanya sistem ritual keagamaan, tetapi juga shari‘ah sebagai jalan hidup yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam semesta.
"Jika kita memahami Islam sebagai jalan hidup, maka kita akan memiliki masyarakat yang lebih sehat, adil, dan beradab. Islam memberikan nilai sekaligus arah bagi peradaban," pungkas Auda. (ID)
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow