Mocaf Belum Siap Masuk Pasar Global? Dosen UMY Soroti Pola Tanam dan Krisis Petani Muda
YOGYA - Dosen Hubungan Internasional (HI) Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Arie Kusuma Paksi, Ph.D., menyoroti hasil riset dan pengalaman langsung di lapangan terkait tantangan pengembangan diversifikasi pangan lokal melalui _Modified Cassava Flour_ (Mocaf), khususnya di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Arie menyampaikan bahwa upaya diversifikasi pangan dengan Mocaf merupakan simbol kemandirian pangan Indonesia agar tidak terus bergantung pada produk impor. Namun, temuan lapangannya menunjukkan sejumlah persoalan mendasar, terutama di Kabupaten Gunung Kidul.
“Produksi bahan baku masih sulit dilakukan dalam jumlah massal karena pola tanam petani masih tumpang sari. Ada jambu, padi, singkong. Ini menyulitkan untuk produksi skala besar,” jelas Arie dalam Pertemuan Kelompok Ahli (PKA) yang digelar HI UMY bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI pada Kamis (11/12) di Ruang Simulasi Sidang HI, Gedung Ki Bagus Hadikusumo E4 UMY, serta melalui _Zoom Meeting._
Selain pola tanam yang tidak seragam, tantangan besar lainnya adalah keterbatasan teknologi produksi. Teknologi yang digunakan petani dinilai masih sangat sederhana dan belum memenuhi standar produksi besar yang dibutuhkan pasar internasional. Menurut Arie, jika Indonesia ingin masuk dalam pasar global, produksi Mocaf harus stabil dan dapat memenuhi kontrak waktu yang ketat, sesuatu yang saat ini sulit dipenuhi karena masih bergantung pada cuaca.
Arie juga menyoroti krisis regenerasi petani sebagai masalah serius. Ia menemukan bahwa sebagian besar pelaku pertanian di desa merupakan generasi tua, sementara generasi muda semakin enggan kembali ke desa.
“Generasi muda enggan tinggal di desa. Akhirnya di desa hanya tersisa orang-orang tua. Masalah teknologinya bukan karena mereka tidak mau, tetapi karena teknologi itu dikelola orang-orang tua yang memang terbatas kapasitasnya,” paparnya.
Kondisi ini semakin diperburuk oleh alih fungsi lahan yang masif. Arie mencontohkan peningkatan pembangunan kos-kosan, perumahan, hingga proyek jalan tol yang semakin menggerus lahan pertanian di wilayah DIY.
Untuk menanggapi tantangan tersebut, Arie menekankan perlunya strategi agar petani tidak menjual lahannya dan tetap memiliki penghasilan berkelanjutan. “Perlu inisiasi yang dilakukan tanpa harus membuat petani menjual tanahnya. Mereka perlu memiliki multiple income streams agar tetap bisa menghasilkan dari lahan yang mereka miliki,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya adopsi studi kasus dari negara lain yang telah berhasil mengembangkan diversifikasi pangan berbasis komoditas lokal, serta perlunya kerja sama _multi-stakeholder_ antara universitas, pemerintah, dan sektor industri untuk menciptakan rantai pasok yang terintegrasi dan berkelanjutan. Upaya ini, menurutnya, merupakan langkah penting untuk memperkuat ketahanan pangan nasional. (FU)
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow