Meneguhkan Peran Global Islam: FSIP UMY Jadi Motor Penggerak Peradaban Baru

Meneguhkan Peran Global Islam: FSIP UMY Jadi Motor Penggerak Peradaban Baru

Smallest Font
Largest Font

YOGYA - Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) secara resmi meluncurkan Fakultas Studi Islam dan Peradaban (FSIP) pada Senin (27/10) di Ruang Amphitheater Gedung E6 K.H. Ibrahim lantai 5, UMY. Peluncuran ini menjadi babak baru pengembangan kajian keislaman di UMY yang dinilai lebih inklusif dan luas dibanding fakultas sebelumnya.

Prof. Dr. Muhammad Azhar, M.Ag., Guru Besar Bidang Studi Islam UMY, hadir sebagai narasumber dalam diskusi ilmiah bertajuk “Meneguhkan Kontribusi Studi Islam untuk Peradaban Bangsa, Umat, dan Kemanusiaan Global.” Dalam paparannya, Azhar menjelaskan bahwa penggantian nama dari Fakultas Agama Islam (FAI) menjadi FSIP bertujuan untuk menghilangkan kesan eksklusif dan memperluas cakupan pengembangan kajian. 

"Kalau kita bicara peradaban, FAI kemarin kesannya secara labeling itu agak eksklusif, jadi seolah-olah hanya FAI yang Islam, yang lain tidak. Dari segi pengembangan kajian, tentu FSIP lebih luas," ujarnya.

*Tanda Kebangkitan Peradaban Islam Abad ke-21*

Azhar meyakini bahwa peradaban Islam saat ini sedang memasuki fase kebangkitan kembali setelah mengalami siklus penurunan selama tujuh abad terakhir. "Peradaban Islam itu _up and down_ dengan siklus 7 abad sekali. Abad ke-6 hingga ke-13 kita naik, abad 13-20 kita turun, dan sekarang kita naik lagi di abad ke-21. Banyak tanda-tanda kebangkitan," tegasnya.

Tanda-tanda kebangkitan tersebut terlihat di kancah global maupun nasional. Di tingkat internasional, ia mencontohkan bakal adanya walikota muslim di New York, Zohran Mamdani, yang menjadi simbol kebangkitan Islam, terlepas dari hasil pemilihannya. Contoh lain adalah Sadiq Khan, Walikota London yang sudah menjabat selama tiga periode. Selain itu, Jepang dan Korea Selatan juga sudah memiliki banyak pusat peradaban Islam. Azhar juga menyoroti era baru di Palestina yang ditandai dengan adanya perjanjian perdamaian serta peraih Nobel Kimia asal Palestina.

Di Indonesia, tanda-tanda kebangkitan Islam bahkan lebih visibel. Indonesia berperan aktif di forum internasional sebagai pendamai dunia dan masuk nominasi Nobel bagi organisasi seperti Muhammadiyah, NU, dan BPJS. Bahkan, menurut riset Harvard University, Indonesia dinobatkan sebagai negara no.1 paling sejahtera di dunia secara psiko-sosial. Di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA), dosen-dosennya juga menunjukkan kualitas global dengan masuk ke dalam Top 2% dan 5% Top Dunia.

*Redesain Kemuhammadiyahan dan Inovasi Keilmuan*

Menghadapi masa depan peradaban Islam yang terus berkembang, Azhar menekankan perlunya penyesuaian _knowledge_. "_The true knowledge_-nya sudah berubah. Mungkin _knowledge_ di era modernism sudah tidak cocok dengan era post-modernism. Muhammadiyah-nya tetap Muhammadiyah, tapi Kemuhammadiyahan-nya harus di desain ulang," jelasnya. Upaya inovasi ini telah dimulai, salah satunya dengan lahirnya Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) dari Majelis Tarjih yang merupakan inovasi pertanggalan kalender Islam dunia.

Lebih lanjut, ia menjelaskan pergeseran paradigma keilmuan yang harus direspons FSIP. Awalnya hanya monodisiplin (hanya _Islamic Studies_), berkembang ke multidisiplin (Islamic Studies + Social Studies), lalu interdisiplin (menambahkan Medical Science), dan kini harus mencapai level transdisiplin dengan menyertakan Humanity dan Government. "Tidak bisa kita di kamar masing-masing, harus ada ruang keluarga antar ilmuwan," imbuhnya.

FSIP UMY ke depan diharapkan dapat menciptakan semacam _empowering society_. Melalui ini, FSIP dapat memenuhi kebutuhan dasar masyarakat dan diandalkan sebagai motor penggerak perubahan demi tegaknya peradaban Islam yang maju. (FU)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow