Karya Nakamura Disebut Tonggak Baru Kajian Islam dan Antropologi di Indonesia
Yogyakarta - Agenda bedah buku Mengamati Islam Indonesia 1971–2023 karya Prof. Mitsuo Nakamura digelar di Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Rabu (24/09). Buku ini tidak hanya menghadirkan catatan perjalanan intelektual seorang antropolog Jepang yang meneliti Islam sejak awal 1970-an, tetapi juga membuka ruang diskusi mengenai paradigma baru dalam kajian Islam di Indonesia.
Mohammad Syifa Amin Widigdo, Ph.D., dosen Psikologi Pendidikan Islam UMY yang menjadi pembahas, menekankan bahwa karya Nakamura merupakan tonggak penting dalam mengoreksi bias para peneliti Barat terhadap Islam di Indonesia, khususnya di Jawa.
Sebelum hadirnya karya Nakamura, dunia akademik lebih mengenal Islam di Indonesia melalui kajian Clifford Geertz dalam The Religion of Java. Geertz menekankan trikotomi abangan–priyayi–santri, serta menafsirkan bahwa nilai-nilai seperti sabar, ikhlas, dan tradisi selamatan lebih berakar pada budaya Jawa ketimbang Islam.
“Padahal, Nakamura dalam penelitiannya justru menunjukkan bahwa konsep-konsep tersebut bersumber dari Al-Qur’an dan praktik keislaman yang hidup di tengah masyarakat,” jelas Syifa.
Ia menambahkan, kelemahan banyak peneliti Barat adalah kecenderungan melihat agama hanya dari sisi permukaan. Peter L. Berger, misalnya, hanya mencatat angka perceraian di pengadilan agama tanpa menelisik bagaimana umat Islam menyelesaikan masalah rumah tangga dengan rujukan agama.
Berbeda dengan pendekatan eksternalis semacam itu, Nakamura memperkenalkan konsep “antropologi peradaban”. Ia berupaya menampilkan wajah Islam sebagaimana dipraktikkan masyarakat, bukan sekadar simbol atau struktur kelembagaan.
“Beliau ingin menangkap the living religion, agama yang benar-benar hidup, bukan sekadar ritual atau data statistik,” lanjut Syifa.
Menurutnya, terobosan pemikiran Nakamura membuka jalan baru bagi perkembangan antropologi Islam di Indonesia. Bahkan, Nakamura disebut sebagai advokat yang menegaskan pentingnya seorang antropolog memiliki bekal studi Islam agar mampu memahami teks dan tradisi, sehingga tidak kehilangan konteks penelitian.
Meski begitu, Syifa menilai salah satu kelemahan Nakamura adalah sikapnya yang terlalu berhati-hati dalam mengkritisi praktik Islam di Indonesia.
“Mungkin karena kerendahan hatinya sebagai outsider, beliau lebih memilih memberi masukan daripada kritik tajam. Padahal, generasi pasca Nakamura perlu lebih berani memberikan evaluasi kritis terhadap Muhammadiyah, NU, maupun gerakan Islam lainnya,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Nakamura menegaskan bahwa seluruh karyanya lahir dari pengalaman lapangan dan interaksi langsung bersama masyarakat.
“Saya ingin buku ini menjadi tanda terima kasih bagi orang-orang yang telah membantu saya selama penelitian. Apakah yang digambarkan benar atau tidak, setuju atau tidak, itu saya serahkan. Bagi saya, ini adalah etika akademis, karena antropologi adalah ilmu tentang manusia,” ungkapnya. (ID)
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow