Inovasi Kincir Air Hybrid Mahasiswa UMY Kurangi Biaya Operasional Budidaya Sidat

Inovasi Kincir Air Hybrid Mahasiswa UMY Kurangi Biaya Operasional Budidaya Sidat

Smallest Font
Largest Font

Yogyakarta - Biaya listrik yang membengkak hingga jutaan rupiah setiap bulan serta risiko listrik padam menjadi persoalan utama bagi para pembudidaya ikan sidat di Desa Patimuan, Cilacap. Kondisi tersebut membuat kincir air, yang berfungsi menjaga kadar oksigen tetap stabil di kolam, sering kali tidak efisien dan rawan berhenti beroperasi.

Menjawab persoalan itu, sekelompok mahasiswa Teknik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menciptakan inovasi sistem tenaga hybrid untuk kincir air budidaya ikan sidat. Inovasi ini lahir dari kerja sama dengan PT Pertamina Patra Niaga FT Lomanis yang sejak awal membutuhkan solusi hemat energi demi keberlanjutan perikanan di kawasan tersebut.

“Masalah utama yang kami hadapi adalah biaya listrik yang membengkak. Kincir air harus menyala 8 hingga 10 jam setiap hari, dari malam hingga pagi. Itu membuat biaya operasional sangat tinggi, bahkan bisa mencapai lebih dari satu juta rupiah per bulan. Selain itu, listrik PLN juga rawan mati, padahal ikan sidat harus selalu mendapat suplai oksigen. Kalau listrik padam, bisa berbahaya bagi budidaya,” ujar Febrianto Nugroho, ketua tim, saat diwawancarai Humas UMY pada Jum'at (20/9).

Febri bersama tim yang terdiri dari Rangga Audry Pratama, Arief Rahayu Agusttya, Prayoga Arcadia, dan Dhaka Angga Putra tidak membuat kincir air baru, melainkan memodifikasi sistem kelistrikannya agar lebih efisien. Proses pengerjaan berlangsung sekitar tiga bulan, dimulai Agustus hingga rampung awal Oktober tahun lalu.

Sistem hybrid ini menggunakan panel surya berkapasitas 550 watt yang terhubung ke baterai 400Ah melalui Solar Charge Controller (SCC). Energi yang tersimpan dalam baterai kemudian diubah oleh inverter untuk menggerakkan motor kincir. Sistem ini dilengkapi komponen Automatic Transfer Switch (ATS) yang memungkinkan pergantian otomatis antara listrik PLN dan PLTS.

“Ketika baterai dari panel surya sudah penuh, kincir akan otomatis menggunakan energi tersebut. Jika suatu saat daya baterai habis, sistem otomatis beralih ke PLN. Dengan begitu, kincir tidak akan pernah berhenti berputar. Kami ingin memastikan suplai oksigen bagi ikan sidat tetap terjaga, sambil menekan biaya operasional,” jelas Febri.

Inovasi ini terbukti membawa dampak signifikan. Biaya listrik yang sebelumnya bisa mencapai Rp1,5 juta per bulan kini turun drastis menjadi sekitar Rp549 ribu. Penghematan ini tidak hanya meringankan beban masyarakat, tetapi juga mendukung penggunaan energi terbarukan yang ramah lingkungan.

“Pertamina mendukung penuh, karena proyek ini tidak hanya membantu efisiensi biaya, tetapi juga meningkatkan kualitas air untuk budidaya. Masyarakat Patimuan juga menyambut positif karena mereka merasakan langsung manfaatnya,” tambah Febri.

Meski sudah berjalan baik, tim mahasiswa UMY masih menyiapkan pengembangan lebih lanjut. Beberapa rencana ke depan antara lain menambah kapasitas panel surya dan baterai agar daya yang dihasilkan lebih besar, serta mengintegrasikan sistem dengan teknologi Internet of Things (IoT). Dengan begitu, kondisi kincir air dapat dipantau secara real time dan lebih mudah dikelola. (NF)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow