Guru Besar UMY Soroti Krisis Spiritualitas dan Kognitif di Era Teknologi

Guru Besar UMY Soroti Krisis Spiritualitas dan Kognitif di Era Teknologi

Smallest Font
Largest Font

YOGYA - Maraknya ketergantungan manusia terhadap teknologi digital dinilai telah memunculkan krisis baru dalam dunia pendidikan dan kehidupan sosial, yakni krisis spiritualitas dan kognitif. Fenomena ini, menurut Guru Besar Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof. Dr. Halim Purnomo, M.Pd.I., merupakan tantangan besar yang harus segera dijawab oleh dunia pendidikan agar manusia tidak kehilangan arah moral dan kemampuan berpikir mendalam.

Ia menegaskan bahwa kemajuan teknologi, terutama dalam bidang kecerdasan buatan (AI) dan media digital, membawa dampak ganda bagi kehidupan manusia.

“Teknologi seharusnya membantu manusia berpikir lebih luas, bukan justru membuatnya malas berpikir. Banyak orang kini lebih cepat mempercayai informasi tanpa proses penalaran, bahkan mengabaikan nilai moral dalam mengambil keputusan,” ujarnya saat ditemui di kampus UMY pada Kamis (16/10).

Menurut Halim, di tengah derasnya arus informasi, masyarakat kini menghadapi gelombang kebingungan kognitif, di mana batas antara fakta dan opini, antara ilmu dan mitos, semakin kabur. Generasi muda yang terlalu bergantung pada mesin pencari dan platform digital tanpa memahami makna pengetahuan secara utuh berpotensi mengalami penurunan daya nalar.

“Ironisnya, di era kecepatan akses ilmu pengetahuan, manusia justru mengalami krisis berpikir. Banyak yang tidak lagi mampu memilah mana yang benar, mana yang manipulatif,” jelasnya. Hal ini juga telah ia paparkan dalam penelitian Guru Besarnya yang berjudul "Pendidikan Karakter Kritis dan Etis:Pendekatan Konsep Profetik di Era Anomalistik".

Selain krisis kognitif, Halim juga menyoroti kemerosotan spiritualitas yang terjadi ketika manusia tidak lagi menimbang tindakannya dengan hati nurani dan nilai-nilai moral. Ia mengingatkan bahwa kemajuan teknologi tanpa kesadaran spiritual dapat menjerumuskan manusia menjadi makhluk yang cerdas secara intelektual, tetapi miskin kebijaksanaan.

Sebagai Guru Besar Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Fakultas Studi Islam dan Peradaban (FSIP) UMY, Halim menegaskan bahwa pendidikan memiliki peran sentral dalam menanggulangi krisis spiritual dan kognitif. Sekolah dan universitas, menurutnya, harus menjadi ruang pembentukan keseimbangan antara penguasaan teknologi dan pemeliharaan kemanusiaan.

“Kecerdasan digital tidak akan bermakna tanpa kecerdasan moral dan spiritual. Di sinilah fungsi pendidikan: mengarahkan manusia agar bijak menggunakan teknologi, bukan dikuasai olehnya,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Halim menyerukan pentingnya pendidikan profetik yang memadukan akal, hati, dan tindakan. Pendidikan semacam ini, katanya, akan melahirkan manusia yang berpikir jernih, berbuat adil, dan memiliki kesadaran spiritual yang menuntun pada kebijaksanaan.

“Dunia pendidikan harus menjadi benteng terakhir untuk menjaga keseimbangan antara kemajuan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai kemanusiaan. Kita tidak boleh membiarkan manusia menjadi cerdas tanpa hati. Pendidikan sejati adalah yang menumbuhkan kebijaksanaan, bukan sekadar pengetahuan,” pungkasnya. (ID)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow