Dinamika Kesehatan Mental Remaja di Kota Pelajar: Antara Prestasi dan Tekanan Psikologis

Dinamika Kesehatan Mental Remaja di Kota Pelajar: Antara Prestasi dan Tekanan Psikologis

Smallest Font
Largest Font

YOGYA - Predikat Yogyakarta sebagai Kota Pelajar yang lekat dengan semangat akademik dan budaya prestasi ternyata menyimpan tantangan serius dalam hal kesehatan mental remaja. Di balik atmosfer belajar yang kompetitif dan idealisme pendidikan tinggi, banyak pelajar muda harus bergulat dengan tekanan akademik, sosial, dan emosional yang berpotensi melemahkan resiliensi serta meningkatkan risiko depresi.

Data terbaru dari Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta menunjukkan meningkatnya perhatian terhadap isu kesehatan jiwa. Pada tahun 2024 tercatat 3.239 orang mengalami gangguan jiwa, di mana kelompok remaja menjadi bagian yang memerlukan intervensi khusus. Secara nasional, Survei Kesehatan Indonesia dan Kementerian Kesehatan (2023) juga mencatat prevalensi depresi pada kelompok usia 15–24 tahun mencapai sekitar 2%, lebih tinggi dibandingkan populasi umum.

Menurut Dr. Shinta, M.Si., M.A., seorang praktisi psikologi sekaligus mahasiswa S3 Psikologi Pendidikan Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang akrab disapa Bunda Cinta, ada sejumlah faktor utama yang memengaruhi rendahnya ketahanan mental di kalangan remaja kota pelajar. Di antaranya ialah tekanan akademik yang tinggi, dorongan untuk masuk sekolah atau universitas unggulan, serta fenomena _self-comparison_ melalui media sosial yang kian intens. Kurangnya dukungan emosional dari keluarga turut memperburuk kondisi ini.

“Kultur mengejar prestasi memang positif, tetapi jika dijalani secara kaku tanpa memperhatikan aspek keseimbangan psikologis, ia justru bisa berubah menjadi beban mental. Ketika tuntutan akademik melampaui kemampuan adaptasi dan koping remaja, maka risiko stres kronis hingga depresi meningkat,” jelas Shinta saat diwawancarai melalui pesan daring, Jumat (7/11).

Ia menegaskan perlunya perubahan paradigma dalam dunia pendidikan agar tidak hanya menilai keberhasilan dari capaian akademik semata. “Yogyakarta akan tetap dikenal sebagai kota pelajar, tapi jika semangat prestasi berubah menjadi tekanan yang menghancurkan masa depan anak muda, maka kita wajib menyeimbangkannya dengan prioritas kesejahteraan mental,” tambahnya.

Menurut Shinta, upaya perbaikan harus dilakukan secara komprehensif dan kolaboratif, mulai dari skrining dini di sekolah, pendidikan emosional sejak usia dini, hingga penguatan peran keluarga sebagai faktor protektif utama.

Lebih lanjut, pendekatan multidimensi juga diperlukan. Sekolah diharapkan meningkatkan jumlah guru Bimbingan Konseling (BK) dan menghadirkan psikolog yang mudah diakses oleh siswa. Selain itu, jam konseling perlu dibuat lebih fleksibel agar pelajar dapat berkonsultasi tanpa rasa tertekan. Literasi digital dan pelatihan regulasi emosi juga menjadi langkah penting untuk membantu remaja mengelola tekanan sosial di era media digital.

Shinta menambahkan, dukungan pemerintah daerah sangat dibutuhkan untuk menyediakan layanan kesehatan mental yang ramah remaja di Puskesmas dan rumah sakit. Dengan demikian, isu kesehatan mental tidak lagi menjadi hal yang tabu, tetapi menjadi bagian integral dari kebijakan pembangunan pendidikan.

Dengan strategi yang terpadu antara sekolah, keluarga, masyarakat, dan pemerintah, Yogyakarta diharapkan dapat mempertahankan identitasnya sebagai Kota Pelajar yang tidak hanya unggul dalam kualitas akademik, tetapi juga sehat dan tangguh secara mental. (FU)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow