Animasi Indonesia: Dari Hiburan Menjadi Pilar Ekonomi Kreatif Nasional

Animasi Indonesia: Dari Hiburan Menjadi Pilar Ekonomi Kreatif Nasional

Smallest Font
Largest Font

Yogyakarta - Industri animasi kini semakin dilirik sebagai salah satu pilar utama dalam pertumbuhan ekonomi kreatif Indonesia. Seiring kemajuan teknologi dan meningkatnya antusiasme penonton, animasi dinilai mampu bersaing dengan sektor kreatif lainnya, meski masih menghadapi berbagai tantangan besar. Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Zein Mufarrih Muktaf, S.IP., M.I.Kom., menegaskan bahwa animasi bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah industri padat karya yang membutuhkan biaya besar, perencanaan matang, serta dukungan penonton yang konsisten.

“Industri animasi itu memang mahal, bahkan bisa dibilang sangat mahal. Banyak orang lebih memilih membuat film live action karena anggaran yang dibutuhkan lebih kecil dan hasilnya bisa langsung terlihat. Sedangkan animasi melibatkan banyak orang, padat karya, dan membutuhkan dana besar. Namun, animasi memiliki keunggulan berbeda: Ruang imajinasi yang tidak terbatas,” jelasnya kepada Humas UMY di Ruang Kaprodi Ilmu Komunikasi, Sabtu (4/10).

Zein mencontohkan kesuksesan film animasi “Jumbo” yang membuktikan bahwa minat penonton adalah kunci keberlangsungan industri. Menurutnya, antusiasme penonton jauh lebih penting dibanding sekadar mengejar teknologi tinggi seperti yang dilakukan Hollywood.

“Di Amerika, animasi bisa berkembang pesat karena penontonnya ada, bukan semata-mata karena teknologinya. Teknologi memang penting, tapi bukan faktor utama. Indonesia tidak perlu mengejar standar Hollywood karena teknologi mereka sudah sangat maju. Yang paling penting adalah konsistensi penonton. Jika setiap animasi Indonesia mampu meraih jutaan penonton, industri ini akan tetap eksis dan bahkan berkembang,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kunci animasi terletak pada kekuatan storytelling. Imajinasi boleh sebebas apa pun, tetapi jika cerita lemah, animasi akan sulit menarik perhatian. Ia mencontohkan Walt Disney yang selalu menghadirkan cerita kuat, serta Tom and Jerry yang tetap abadi karena kisah sederhana namun konsisten menghibur. Selain cerita, strategi distribusi juga berperan besar dalam menentukan keberhasilan sebuah animasi.

“Kalau kita lihat Malaysia, kualitas teknologi mereka tidak jauh berbeda dengan kita. Tapi mereka unggul dalam distribusi. Inilah pelajaran penting untuk Indonesia. Kita punya banyak animator berbakat, tapi jika distribusinya lemah, hasilnya sama saja. Kalau distribusi ditata dengan baik, animasi Indonesia bisa bersaing dan mendapat tempat di hati penonton dunia,” terangnya.

Meski begitu, Zein menilai tantangan terbesar animasi Indonesia saat ini adalah pendanaan. Investor masih enggan menanam modal besar karena menilai animasi belum memberikan keuntungan secepat film live action.

“Produksi animasi bisa menghabiskan puluhan hingga ratusan miliar rupiah. Sementara dengan Rp20 miliar saja, sebuah film live action bisa menghasilkan kualitas yang nyata dan keuntungan yang lebih cepat balik modal. Karena itu, investor lebih cenderung memilih live action. Selama ini animasi di Indonesia lebih banyak berkembang berkat funding, hibah, atau dukungan NGO, bukan dari investasi swasta,” jelasnya.

Ia menambahkan, ilmu komunikasi memiliki peran penting dalam membangun ekosistem animasi, terutama dalam aspek distribusi, eksibisi, dan pemasaran.

“Komunikasi berperan besar dalam menyebarkan animasi secara lebih luas, menemukan strategi pemasaran yang efektif, dan memastikan karya animasi Indonesia dikenal global. Malaysia adalah contoh nyata bagaimana pemasaran mampu mengangkat industri animasi. Jika kita bisa melakukan hal yang sama, animasi Indonesia berpotensi menjadi motor besar ekonomi kreatif nasional,” pungkas Zein. (NF)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow