Ambisi BPI Bangun Jaringan Rel Kereta Api 12.100 Kilometer: Tantangan dan Solusi untuk Transportasi Nasional Indonesia
YOGYA - Ambisi Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara untuk membangun jaringan rel kereta api nasional sepanjang 12.100 kilometer pada tahun 2030 dinilai bukan hal baru dalam perencanaan transportasi Indonesia. Namun menurut Guru Besar Teknik Sipil UMY sekaligus pakar perkeretaapian nasional, Prof. Ir. Sri Atmaja Putra Jatining Nugraha Nasir Rosyidi, S.T., M.Sc.Eng., PG-Certf., Ph.D., P.Eng., IPU., ASEAN.Eng., FIHE, M.ASCE, target besar tersebut menyimpan tantangan teknis dan non-teknis yang harus diantisipasi dengan sangat serius.
Dalam wawancara di Laboratorium Teknik Sipil UMY pada Jum'at (21/11), Sri Atmaja menjelaskan bahwa rencana pembangunan rel secara masif sudah dicantumkan sejak lama dalam dokumen Rencana Induk Perkeretaapian (RIP) dan Sistem Transportasi Nasional (Sistranas). Namun realisasi di lapangan kerap terhambat oleh pendanaan dan pergeseran prioritas pembangunan yang sebelumnya lebih difokuskan pada jalan tol.
“Ini bukan hal baru. Semua sudah tertera dalam RIP, mulai Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Persoalannya adalah percepatannya. Membangun 12.000 kilometer rel dalam empat tahun bukan sesuatu yang mudah,” tegasnya.
Sri Atmaja menekankan bahwa pembangunan rel harus mempertimbangkan karakteristik wilayah. Pulau Jawa, sebagai kawasan dengan kepadatan penduduk tertinggi, perlu mengutamakan transportasi massal untuk mobilitas manusia. Selain pembangunan jalur ganda (double track hingga double-double track), peningkatan kecepatan operasional menjadi langkah krusial.
“Saat ini kecepatan maksimum kereta kita sekitar 120 km/jam. Jika ingin naik ke 160 km/jam, harus dievaluasi apakah jalur eksisting masih mampu. Jika tidak, maka harus dibangun jalur baru,” ujarnya.
Di sisi lain, Sumatera menghadapi masalah pelik dalam angkutan barang. Dominasi truk bermuatan berat di Jalan Lintas Sumatera hingga tol Sumatera telah menyebabkan kerusakan jalan yang serius.
“Logistik Sumatera sangat masif. Kereta bisa menjadi primadona untuk menggantikan beban jalan raya,” katanya.
Namun keberhasilan di sektor logistik tetap ditentukan oleh satu faktor kunci: Interkoneksi. Industri hanya akan beralih menggunakan kereta jika biaya lebih murah dan waktu tempuh lebih cepat. Hal ini menuntut perancangan sistem antarmoda yang terintegrasi dari area produksi hingga stasiun barang.
Untuk Kalimantan dan Sulawesi, menurut Sri Atmaja, potensi penggunaan kereta belum terbukti signifikan. Mobilitas penduduk yang relatif rendah serta ketergantungan pada moda transportasi tertentu membuat pembangunan rel harus melalui kajian mendalam.
“Pertanyaannya sederhana: Siapa yang mau naik? Itu harus dikaji dengan benar sebelum pembangunan dimulai,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa studi kelayakan merupakan fondasi utama dalam proyek 12.100 kilometer ini, baik dari sisi teknis, sosial, budaya, kebencanaan, maupun lingkungan. Sri Atmaja mengingatkan adanya risiko besar jika pemerintah terlalu fokus mengejar target tanpa memastikan kualitas perencanaan.
“Kekhawatiran saya adalah ada langkah-langkah penting yang dilompati demi mengejar target. Padahal kualitas pembangunan tidak boleh dikorbankan,” tegasnya.
Pembangunan skala masif ini juga membutuhkan jumlah tenaga ahli yang besar. Sri Atmaja menyebut Indonesia masih kekurangan insinyur khusus perkeretaapian. Untuk itu, perguruan tinggi, termasuk UMY, perlu mulai menyiapkan pendidikan dan pelatihan intensif guna mendukung kebutuhan tersebut.
Mengakhiri wawancara, Sri Atmaja menyoroti dua konsep penting dalam pengembangan transportasi nasional: Aksesibilitas (kemudahan dicapai) dan konektivitas (keterhubungan antarmoda). Menurutnya, kereta tidak dapat berdiri sendiri dan harus terintegrasi dengan moda lain seperti bus, LRT, BRT, hingga transportasi daring.
“Lihat Jepang. Orang tidak takut bepergian karena konektivitasnya jelas. Jika Indonesia bisa bergerak ke arah itu, wajah ekonomi dan peradaban kita akan berubah,” pungkasnya. (Jeed)
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow