UMY Gelar KKN Tabik di Permukiman Suku Bajo Wakatobi, Wujudkan Kampus Berdampak untuk Warga

UMY Gelar KKN Tabik di Permukiman Suku Bajo Wakatobi, Wujudkan Kampus Berdampak untuk Warga

Smallest Font
Largest Font

WAKATOBI — Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) kembali menghadirkan program pengabdian masyarakat di permukiman Suku Bajo, Desa Mola Nelayan Bakti, Pulau Wangi-Wangi, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Kegiatan melalui Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tapak Pengabdi Khatulistiwa (Tabik) ini menjadi bentuk nyata komitmen UMY dalam mewujudkan Kampus Berdampak.

Program tersebut berlangsung sejak akhir Juli hingga awal September 2026. Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari program serupa yang telah dilaksanakan selama tiga tahun sebelumnya di desa yang mayoritas penduduknya merupakan Suku Bajo.

Tim KKN Tabik UMY yang terdiri atas mahasiswa dari berbagai program studi menjalankan sejumlah program yang menyasar bidang lingkungan, sosial budaya, pendidikan, hingga media. Seluruh kegiatan dirancang dengan pendekatan partisipatif dan melibatkan masyarakat setempat.

Fokus utama program adalah pemberdayaan masyarakat pesisir yang sebagian besar menjalani kehidupan di atas laut. Mahasiswa tidak hanya menjalankan program kerja, tetapi juga belajar memahami kebutuhan dan potensi masyarakat melalui interaksi langsung bersama warga.

Ketua Tim KKN Tabik UMY, Muhammad Fathur Hamzah, mengatakan program kerja disusun berdasarkan kebutuhan masyarakat dan pengalaman dari generasi mahasiswa sebelumnya.

“Di bidang lingkungan, kami fokus pada pengelolaan sampah dan edukasi kebersihan pesisir. Kami mengajak warga melakukan gotong royong membersihkan lorong-lorong desa, menyediakan tempat sampah di titik-titik strategis, serta mengembangkan teknologi tepat guna untuk mengurangi sampah plastik yang menjadi tantangan utama di kawasan ini melalui rocket stove,” ujar Fathur, Selasa (25/8).

Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN Tabik UMY, Fajar Junaedi, yang turut tinggal bersama masyarakat, menyebut keberlanjutan program tersebut menjadi salah satu kekuatan utama KKN UMY di Wakatobi.

“KKN di perkampungan Suku Bajo di Desa Mola Nelayan Bakti ini sudah berjalan empat tahun. Setiap generasi mahasiswa membawa program yang semakin matang dan berdampak nyata bagi masyarakat,” katanya.

Menurut Fajar, keberlanjutan pendampingan tersebut menunjukkan komitmen UMY dan Muhammadiyah untuk hadir secara konsisten di wilayah pesisir, termasuk kawasan yang menghadapi keterbatasan akses dan layanan.

“Ini menunjukkan komitmen UMY dan Muhammadiyah untuk hadir di wilayah pesisir terpencil, mendampingi warga Bajo dalam isu lingkungan, pendidikan, budaya, dan pemberdayaan,” ujarnya.

Kehadiran Muhammadiyah di Wakatobi juga diperkuat melalui pengembangan lembaga pendidikan. Di antaranya Institut Teknologi dan Bisnis Muhammadiyah (ITBM) Wakatobi yang berada di pusat Kota Wanci serta SMA Muhammadiyah 1 Wakatobi yang berdiri di atas laut, di tengah permukiman Suku Bajo.

Keberadaan kedua lembaga tersebut menjadi bagian dari upaya Muhammadiyah memperluas akses pendidikan bagi masyarakat Wakatobi, khususnya anak-anak dan generasi muda di kawasan pesisir.

Program KKN Tabik UMY mendapat sambutan positif dari pemerintah dan masyarakat setempat. Kehadiran mahasiswa dinilai tidak hanya membantu menjawab kebutuhan masyarakat, tetapi juga meningkatkan kapasitas warga sekaligus memperkuat sinergi antara perguruan tinggi Muhammadiyah dan komunitas pesisir.

Melalui program yang berkelanjutan tersebut, UMY menunjukkan bahwa konsep Kampus Berdampak tidak berhenti pada kegiatan akademik di ruang kelas. Kampus hadir langsung bersama masyarakat, mendengar kebutuhan mereka, mengembangkan solusi secara kolaboratif, dan membangun pendampingan yang berkelanjutan di wilayah pesisir, termasuk kawasan 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal).

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow