Tumpukan Sampah Depo Yogyakarta Tembus 1.060 Ton, Pakar UMY Waspadai Ancaman Air Lindi

Tumpukan Sampah Depo Yogyakarta Tembus 1.060 Ton, Pakar UMY Waspadai Ancaman Air Lindi

Smallest Font
Largest Font

YOGYA - Penumpukan sampah di sejumlah depo Kota Yogyakarta yang mencapai sekitar 1.060 ton memicu kekhawatiran serius terhadap dampak lingkungan dan kesehatan masyarakat. Kondisi tersebut dinilai berisiko tinggi apabila penanganan sampah terus tertahan di tingkat depo tanpa solusi jangka panjang yang terintegrasi.

Pakar Teknik Keairan dan Lingkungan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Surya Budi Lesmana, S.T., M.T., menegaskan bahwa depo sampah sejatinya hanya berfungsi sebagai tempat transit sementara, bukan lokasi penimbunan. Ketika sampah dibiarkan menumpuk dalam volume besar dan waktu yang lama, potensi gangguan lingkungan akan semakin meluas.

“Jika sampah menumpuk dalam jumlah yang luar biasa, dampaknya pasti mengganggu lingkungan. Secara kasatmata, kita bisa melihat kondisi yang kotor, bau yang menyengat, serta munculnya lalat dalam jumlah besar yang berpotensi menyebarkan penyakit hingga ke wilayah sekitar,” ujar Surya saat ditemui di ruangannya, Rabu (17/12).

Namun, menurutnya, ancaman paling serius justru berasal dari dampak yang tidak terlihat langsung, yakni pencemaran air tanah akibat air lindi yang dihasilkan dari tumpukan sampah. Air lindi tersebut dapat meresap ke dalam tanah dan mencemari sumber air bersih yang digunakan masyarakat.

“Air lindi ini sangat berbahaya karena bisa meresap ke bawah tanah tanpa kita ketahui kedalamannya. Jika kemudian masuk ke lapisan air tanah dangkal yang dimanfaatkan warga melalui sumur, maka risikonya adalah pencemaran air yang berat dan berbahaya bagi kesehatan,” jelasnya.

Penumpukan sampah di depo tidak terlepas dari persoalan sistemik pengelolaan sampah di Yogyakarta. Penutupan Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan semakin memperparah situasi, mengingat Kota Yogyakarta dan wilayah sekitarnya menghasilkan ratusan ton sampah setiap hari.

Surya menilai, solusi pengelolaan sampah tidak bisa bersifat parsial, melainkan harus dilakukan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir. Salah satu kunci utamanya adalah pengelolaan sampah rumah tangga sebagai sumber terbesar timbulan sampah.

“Dari hulu, kita harus fokus pada sampah rumah tangga yang terdiri dari organik dan anorganik. Sampah anorganik seharusnya bisa dipilah dan dikelola dengan prinsip 3R, reduce, reuse, recycle. Tantangannya adalah membangun kesadaran masyarakat, karena itu tidak bisa instan dan membutuhkan proses panjang,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa perubahan cara pandang terhadap sampah harus dimulai sejak dini melalui pendidikan dan sosialisasi yang berkelanjutan. Sampah tidak lagi bisa dipandang sekadar sebagai limbah, melainkan sebagai persoalan lingkungan yang menjadi tanggung jawab bersama.

“Edukasi lingkungan harus diberikan sejak usia dini, dengan informasi yang jelas tentang dampak sampah dan manfaat pengelolaan yang baik. Ketika masyarakat merasa memiliki lingkungannya, mereka tidak hanya berhenti membuang sampah sembarangan, tetapi juga ikut menjaga dan mengedukasi orang lain,” katanya.

Selain itu, Surya menekankan bahwa pemerintah daerah perlu lebih fokus pada pengurangan timbulan sampah dari sumbernya. Penanganan tumpukan yang sudah ada akan sulit efektif jika produksi sampah harian terus meningkat.

“Langkah paling strategis adalah mengurangi sampah yang masuk. Kalau tumpukan 1.060 ton ini terus bertambah, saya tidak yakin bisa cepat teratasi. Pemerintah daerah harus serius menerapkan prinsip 3R di semua lini, termasuk mendorong pengolahan sampah organik di tingkat rumah tangga. Jika dari hulunya berkurang, maka masalah di depo perlahan bisa diurai,” pungkasnya. (NF)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow