Telenursing dan Telemedicine Meningkat, Kesetaraan Akses Jadi PR Besar Indonesia

Telenursing dan Telemedicine Meningkat, Kesetaraan Akses Jadi PR Besar Indonesia

Smallest Font
Largest Font

YOGYA - Perkembangan teknologi kesehatan digital di Indonesia terus mengalami percepatan, terutama sejak pandemi COVID-19 membuka kebutuhan mendesak terhadap layanan kesehatan jarak jauh. Telemedicine kini tidak lagi dipandang sebagai layanan pendamping, melainkan sebagai bagian penting dari sistem pelayanan kesehatan modern yang dibutuhkan masyarakat. Akses layanan yang lebih ringkas, konsultasi yang lebih cepat, serta efisiensi biaya menjadi sejumlah faktor yang mendorong meningkatnya minat masyarakat untuk beralih ke layanan kesehatan berbasis digital.

“Telemedicine berkembang sangat pesat dalam lima tahun terakhir. Pada masa pandemi, masyarakat dipaksa mencari alternatif layanan karena keterbatasan mobilitas dan tingginya risiko penularan di fasilitas kesehatan. Namun setelah pandemi mereda, kebiasaan itu tidak hilang begitu saja. Ini bukan lagi tren sesaat, melainkan perubahan yang mengakar,” ujar Ketua Program Studi Magister Rumah Sakit (MARS), Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Elsye Maria Rosa, M.Kep, saat ditemui di UMY, Jumat (5/12).

Peningkatan penggunaan telemedicine tercermin dari melonjaknya pemanfaatan platform kesehatan digital seperti Halodoc, Alodokter, KlikDokter, hingga aplikasi milik rumah sakit. Tren ini menunjukkan bahwa telemedicine membuka peluang pemerataan layanan kesehatan yang sebelumnya terkendala oleh wilayah Indonesia yang luas dan distribusi tenaga kesehatan yang tidak merata. “Di Kulon Progo, misalnya, seorang ibu yang anaknya demam tinggi dapat langsung berkonsultasi dengan dokter spesialis anak di Yogyakarta melalui aplikasi. Ia tidak perlu menempuh perjalanan 45 hingga 60 menit hanya untuk mendapatkan penanganan awal. Telemedicine memungkinkan akses pertolongan medis lebih cepat,” jelasnya.

Selain itu, perkembangan telemedicine mendorong munculnya model layanan baru bernama telenursing. Dalam konsep ini, perawat berperan sebagai pendamping digital yang memberikan edukasi, membantu proses triase, memantau kondisi pasien, serta memastikan pasien menjalankan instruksi medis secara tepat dari rumah. “Dalam telenursing, perawat dapat memandu teknik perawatan luka, cara mengukur tekanan darah dan gula darah secara mandiri, pola diet sehat, hingga teknik relaksasi untuk mengurangi nyeri. Semua dilakukan melalui video call, pesan suara, atau instruksi visual. Pasien dan keluarga menjadi lebih mandiri, tetapi tetap merasa terhubung dengan tenaga kesehatan,” tambahnya.

Manfaat telemedicine yang semakin dirasakan adalah efisiensi waktu dan sumber daya di fasilitas kesehatan. Dengan sebagian layanan dasar beralih ke platform digital, rumah sakit dapat mengurangi antrean dan mengoptimalkan tenaga medis untuk menangani kasus yang lebih kompleks. Pasien pun memperoleh pendampingan yang lebih berkelanjutan, terutama bagi mereka yang memerlukan pemantauan jangka panjang.

Meski demikian, Elsye menegaskan bahwa keberhasilan telemedicine tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kesiapan pasien dan tenaga kesehatan dalam memanfaatkannya. “Kita harus memastikan telemedicine benar-benar inklusif. Infrastruktur digital, edukasi pasien, dan literasi teknologi tenaga kesehatan harus ditingkatkan. Telemedicine bukan hanya soal teknologi, tetapi soal memastikan setiap masyarakat, di mana pun mereka tinggal, dapat mengakses layanan kesehatan yang layak dan cepat,” pungkas Elsye. (NF)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow