Salah Tafsir Pesan Digital Jadi Pemicu Konflik Baru dalam Keluarga

Salah Tafsir Pesan Digital Jadi Pemicu Konflik Baru dalam Keluarga

Smallest Font
Largest Font

YOGYA - Gelombang konflik keluarga di era digital semakin sering dipicu oleh salah tafsir pesan singkat, mulai dari fitur last seen WhatsApp hingga percakapan sederhana yang terbaca dalam konteks yang salah.

Di tengah intensitas penggunaan perangkat digital yang kian tinggi, ketidakhadiran ekspresi wajah, intonasi suara, dan bahasa tubuh membuat ruang tafsir antaranggota keluarga semakin lebar dan rawan menjadi sumber pertengkaran.

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Frizki Yulianti Nurnisya, Ph.D., menjelaskan miskomunikasi dalam pesan digital kini menjadi salah satu penyebab paling sering dari ketegangan rumah tangga.

“Pesan digital itu tidak membawa emosi, sehingga konteksnya mudah sekali meleset. Yang tadinya hanya informasi biasa, bisa berubah jadi konflik karena dibaca dalam kondisi psikologis yang berbeda,” jelas Frizki.

Hal tersebut disampaikan olehnya dalam agenda Kelas Umum bertema ‘Media, Cinta dan Keluarga: Merawat Hubungan Sehat di Era Digital’, yang digelar oleh Universitas 17 Agustus 1945, Samarinda pada Rabu (3/12).

Frizki menegaskan bahwa hubungan keluarga di era digital sering terjebak pada asumsi. Data penggunaan ponsel yang rata-rata mencapai 4,8 jam per hari di Indonesia juga turut memperbesar potensi salah paham tersebut.

Kebiasaan mengecek notifikasi, menunggu balasan pesan, hingga menuntut respons cepat tanpa memahami aktivitas lawan bicara sering membuat relasi keluarga tidak stabil.

“Migrasi komunikasi dari offline ke online menciptakan ekspektasi baru. Banyak orang mengira bahwa jika pesan sudah terkirim, maka harus segera dibalas. Padahal tidak semua orang berada dalam kondisi yang sama untuk merespons,” paparnya.

Selain persoalan perpesanan digital, Frizki juga menyoroti maraknya konflik yang muncul dari interaksi di media sosial. Mulai dari tidak saling mengikuti akun, tidak mengunggah foto bersama, hingga salah memahami unggahan pasangan atau anggota keluarga lain. Menurutnya, anggapan bahwa kedekatan digital mencerminkan kedekatan emosional adalah keliru.

Ia menjelaskan bahwa media sosial hanya menghadirkan potongan realitas yang dipilih atau dipoles. Konsep curated reality dan engineered reality membuat banyak orang keliru menilai diri sendiri dan keluarganya berdasarkan kehidupan orang lain yang belum tentu utuh.

“Yang kita lihat di layar itu cuma highlight. Bukan realita sebenarnya. Jangan jadikan konten orang lain sebagai standar kebahagiaan keluarga sendiri,” tegas Frizki.

Ia mengingatkan bahwa ruang digital perlu dihadapi dengan kesadaran dan kemampuan memilah. Keluarga perlu memiliki aturan penggunaan gawai, memahami batasan privasi, serta mengutamakan komunikasi tatap muka ketika situasi mulai memanas.

Dengan memahami batasan media digital, keluarga diharapkan mampu menjaga kedekatan emosional tanpa terjebak oleh salah tafsir pesan singkat yang semakin sering memicu konflik. Kesadaran membaca konteks, menunda respons emosional, hingga menghindari sindiran di media sosial menjadi langkah penting untuk merawat relasi yang lebih matang di tengah derasnya arus teknologi.

“Media sosial dan aplikasi pesan itu hanya alat. Kita tetap memegang kendali bagaimana menggunakannya. Jangan sampai alat itu mengambil alih cara kita mencintai dan berkomunikasi,” pungkasnya. (ID)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow